Indonesia Disebut Krisis Talenta IT

31

KONSULTAN spesialis perekrutan profesional, Robert Walters menemukan ada masalah krisis talenta teknologi di era digital. Country Manager Robert Walters, Eric Mary mengatakan masalah ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja tapi banyak negara lain.

Menurutnya, industri saat ini sangat membutuhkan teknologi untuk bisnisnya. Agar perusahaan bisa berjalan dengan lancar, mereka membutuhkan orang-orang dengan keahlian di bidang teknologi.

Cara orang mengonsumsi sesuatu juga berubah ke arah digital. Eric mencontohkan empat tahun lalu belum banyak yang berbelanja online, yang sangat berbeda dengan saat ini.

“Sekarang setiap hari semua orang membeli secara online. Melakukan apapun secara online,” kata Eric kepada awak media di GoWork Millenium Centennial Center, Jakarta, Kamis (20/6).

Penetrasi internet di Indonesia cukup tinggi saat ini. Menurutnya ini juga mengubah cara orang untuk mengonsumsi sesuatu.

Oleh karena itu Eric mengatakan jika orang membuat bisnis saat ini dan tidak dijalankan secara online, maka mereka akan tertinggal. “Jadi Anda membutuhkan mereka untuk membantu menuju ke online,” ucapnya.

Pada April 2019, Robert Walters mengadakan survei pada hampir 400 teknologi profesional dan manajer perekrutan di seluruh Asia Tenggara. Hasilnya ada kesulitan mendapatkan talenta teknologi.

Kesulitan tersebut mendapatkan nilai 7 dari skala 1-10. Selain itu ada 68 persen responden mengatakan butuh tiga bulan atau lebih mencari profesional di bidang teknologi saat adanya kekosongan.

Krisis talenta teknologi yang terjadi juga berdampak negatif pada perusahaan. Sekitar 70 persen manager mengatakan merasakan adanya dampak negatif yaitu mempengaruhi produktvitas dan inovasi bisnis. (C-003/din)***