Induk Google Rogoh Kocek Lebih untuk Tinjau Konten

7

PERUSAHAAN induk Google dan YouTube, Alphabet menyatakan telah menghabiskan ratusan juta dolar Amerika Serikat untuk peninjauan konten agar menjaga platform dari konten yang melanggar panduan komunitas.

Dilansir dari Reuters, Google mengatakan secara manual telah meninjau satu juta video ‘teroris’ di YouTube dalam tiga bulan pertama 2019. Google mengungkapkan bahwa telah menemukan 90 ribu video yang melanggar peraturan terorisme.

Ketua Komite Keamanan Dalam Negeri mendesak eksekutif Google, Facebook Inc, Twitter Inc dan Microsoft Corp agar melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk menghapus konten kekerasan.

Pendesakan ini dilakukan pada Maret, setelah adanya siaran langsung video penembakan di Selandia Baru.

Pemerintah meminta keempat perusahaan untuk mengungkap anggaran perusahaan untuk program-program anti-terorisme dan jumlah orang yang bekerja khusus dalam program anti-terorisme.

Pemimpin sub komite intelijen dan anti terorisme Max Rose mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwaFacebook belum merespons. Twitter dan Microsoft ia katakan tidak sepenuhnya atau langsung menjawab pertanyaan pemerintah terkait anggaranterebut.

Twitter mengatakan sebagian besar dari 4.100 orang tenaga kerja secara global terlibat dalam peninjauan konten.

“Menempatkan jumlah dolar pada upaya kami yang lebih luas adalah permintaan yang komplek,” kata Twitter kepada Rose.

Dilansir dari CNA, pengeluaran Google Alphabet naik beriringan dengan pendapatan. Pengeluaran perusahaan ini naik menjadi US$29,7 miliar atau sekitar Rp 423,2 triliun dan naik 16,5 persen.

Jumlah pengeluaran yang melonjak lebih cepat dari jumlah pendapatan dalam dua tahun terakhir mendapat perhatian dari investor.

Padahal jumlah pengeluaran bertambah akibat pengawasan dan peninjauan konten YouTube. Google Alphabet mengatakan bahwa ada lebih dari 10 ribu orang yang bekerja di seluruh anak perusahaan dalam peninjauan konten. (C-003/age)***