Kebutuhan Garam Nasional  Produksi Petani Masih Menjadi Tumpuan

22

BISNIS BANDUNG – Pakar Perdagangan Internasional dari Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, Ph.D menyebut , permasalahan komoditas garam di Indonesia merupakan masalah klasik untuk menuju pencapaian swasembada pangan.  Berdasar data Neraca Garam Nasional dari tahun 2009 hingga 2018 hanya sekira 40,53% atau 1,492 juta ton/tahun dari total kebutuhan garam sebanyak 3,669 juta ton/tahun.

Pada tahun 2019 ini menurut Yayan , Kementrian Perindustrian dan Perdagangan menargetkan kebutuhan garam sebanyak 4.2 juta ton dengan estimasi produksi sebesar 2,710 juta ton. Sekitar 369.000 ton di antaranya diproduksi oleh PT. Garam dan 2,341 juta ton berasal dari produksi  Garam Rakyat. ”Pada tahun 2018 yang lalu, total kebutuhan garam  4.75 juta ton, untuk kebutuhan garam industri sebanyak 3,306 juta ton, garam konsumsi  1,450 juta ton. Kesenjangan antara permintaan dan penawaran ditutupi dengan impor sebesar 2,81 juta ton,” tutur Yayan menjelaskan.

Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, lanjut Yayan , produksi garam nasional pada tahun 2018 mengalami peningkatan cukup tinggi sejak tahun 2016, sebelumnya produksi garam  anjlok untuk memenuhi kebutuhan (hanya 13,08% terhadap total kebutuhan garam). Melihat pada angka-angka tersebut, ditegaskan Yayan , masalah produksi menjadi kata kunci untuk mengatasi permasalahan komoditas garam selama ini.

Sejak satu dekade  lalu, permasalahan utama adalah rendahnya produksi Garam Rakyat. Walau telah ada PT. Garam Indonesia sebagai BUMN, kontribusinya hanya 21.44% dari total Produksi Nasional. Garam Rakyat masih merupakan produsen terbesar ( 78,56%) dari total produksi garam. Sehingga dapat dikatakan, bahwa produksi garam nasional sangat tergantung dari Garam Rakyat sebagai produsen utama komoditas garam, sebanyak 62,36% dari total kebutuhan rata-rata sebesar 2,34 juta ton selama periode 2009-2018.

Lebih lanjut dikemukakan  Yayan,  harga garam sangat fluktuatif dan rentan terhadap agroklimat , hal itu terjadi pada tahun 2016. Produksi garam  anjlok sampai pada titik  paling rendah. Jika dibandingkan  harga impor dengan biaya produksi garam di Indonesia dengan konversi rata-rata dollar terhadap rupiah, berdasarkan data BPS, harga impor garam di berada pada kisaran Rp 450,00 – Rp 550,00/kg selama periode tahun 2010 hingga 2017. Harga jual domestik berdasarkan perspektif petani garam antara Rp 1.000 – Rp1.500/kg.

”Saat ini, kebijakan pemerintah yang  dikeluarkan Kementerian Perdagangan berupa Peraturan Menteri untuk harga garam pada pengumpul  Rp 700/kg. Sedangkan harga dilapangan sebesar Rp 500 – Rp1.400/kg. Berdasarkan angka-angka ini permasalahannya terjadi pada sisi rantai pasokan,” ujar Yayan, baru-baru ini.

Dijelaskan Yayan , pada rantai hulu,  kapasitas petani garam masih tertinggal dibandingkan dengan petani komoditas lain , seperti padi dan produk lainnya. Peningkatan kapasitas pengetahuan untuk mencapai standar  dan kualitas industri menjadi masalah klasik yang seolah tidak mengalami peningkatan  signifikan. Penguasaan teknologi produksi tambak garam dan kelembagaan penguatan kapasitas petani garam tidak segencar pada komoditas lainnya. Petani garam seperti menjadi petani yang termarjinalkan.

Permasalahan yang dihadapi oleh petani garam tidak hanya impor,walau sifatnya temporer karena berdasarkan estimasi produksi dan kapasitas produksi   . Kebijakan ini menurut Yayan, memang  bisa di stop kapanpun. Tapi akan terus terjadi, jika produktivitas  garam tidak dapat diandalkan. Hal ini bisa diatasi dengan pemecahan masalah secara perlahan dan regular. Kuncinya, yakni meningkatkan produktivitas petani garam dengan serius ,peningkatan lahan produktivitas garam dengan sertifikasi tambak garam yang mengikat bagi petani garam dalam jangka panjang.

 Yayan Satyakti menyebut, integrasi tambak garam , memungkinkan akan terhubung dengan sisten kelembagaan petani garam yang mewadahi inventori dan stok produksi garam untuk menghindari fluktuasi iklim. Kelembagaan ini mewadahi terhadap peningkatan kapasitas petani garam untuk merespon standarisasi industri dan peningkatan kualitas produktivitas garam. Sehingga pola produktivitas petani garam tidak dalam bentuk individu tetapi dalam bentuk skala produksi usaha yang tinggi , lebih terjaga secara skala usaha maupun teknologi.. Yayan berharap,  permasalahan yang menimpa  petani garam tidak hanya menekan impor, tetapi memberdayakan dan meningkatkan produktivitas petani garam adalah kunci utama agar tercapai swasembada garam. (E-018)****