Tulus Abadi, SH.; Ingin Berkecimpung di Lembaga Sosial

14

Tulus Abadi, SH., lahir di Purworejo 23 November 1970.  Suami dari Apriatin, SSi. (45) ini, kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).  Ia juga merupakan pendiri serta pengurus Komnas Pengendalian Tembakau.

Ayah dari Bestari Madani (20), Shabri Yudhistira (16) dan Hanif (12) ini mengaku, sejak di kampus ia sudah menjadi aktivis di senat mahasiswa, BPM dan pers mahasiswa.

“Jadi, saya masuk ke YLKI karena memang sudah terbiasa aktif sejak masih di kampus, dan mempunyai keinginan untuk berkecimpung di lembaga sosial. YLKI merupakan LSM di bidang konsumen, yang didirikan pada tanggal 11 Mei 1973 oleh Lasmidjah Hardi, yang merupakan istri dari Wakil Persana Menteri Republik Indonesia yang pertama,” ungkap Tulus. Menurut Tulus, ia sudah berkiprah di YLKI selama 18 tahun, sehingga hal inilah yang mungkin menyebabkan dirinya dipilih sebagai Ketua oleh Dewan Pembina YLKI.

Tulus mengaku, secara formal ia sudah 4.5 tahun menjabat sebagai Ketua YLKI. Menurutnya, salah satu keunikan yang dirasakan selama menjabat sebagai Ketua YLKI adalah, bisa mengenal banyak orang.  Hingga saat ini jumlah total karyawan YLKI sekitar 20 orang.

“Sebagai Ketua YLKI, saya banyak mendapatkan pengalaman positif, yakni bertemu dengan tokoh-tokoh penting dan bisa duduk satu meja dengan para Ahli, Pakar, Dirjen, Menteri bahkan Presiden, sehingga sudah menjadi biasa.  Pengalaman positif lainnya adalah, melalui perjalanan keluar kota, saya bisa berkunjung hingga pojok-pojok Indonesia, bahkan luar negeri. Sudah 30 negara yang saya kunjungi. Sedangkan pengalaman negatif yang pernah dialami adalah, dimarahi oleh konsumen bila gagal atau dianggap tidak follow up,” paparnya.

Penganut moto hidup “Bermanfaat untuk sesama” ini mengungkapkan, ia akan terus berkiprah dan mengabdikan diri di YLKI, karena sudah menjadi bagian hidup. Menurut Tulus Abadi, banyak manfaat yang didapat selama ia berkiprah di YLKI, yakni bisa membantu konsumen menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi, sekaligus mendorong kebijakan publik yang pro konsumen.

“Untuk meningkatkan kualitas diri dalam profesi, saya sering mengikuti seminar dan training-training lainnya,” ucap Tulus.

Menurut ayah dari tiga orang anak ini, kiprah YLKI sangatlah diperlukan, untuk mengawal terwujudnya keseimbangan dan keadilan bagi konsumen serta pelaku usaha, termasuk keadilan dalam regulasi.  Salah satu program yang tengah diperjuangkannya saat ini adalah, hal yang berkaitan dengan digital ekonomi, yakni RUU perlindungan data pribadi dan RPP tentang belanja online.

“Peran pemerintah sudah ada, tapi belum sungguh-sungguh, ibaratnya kalau sudah ada masalah barulah diperhatikan,” pungkas penggemar warna biru dan hijau itu kepada BB. (E-018)***