Program “18-21” Dekatkan Kehidupan Berkeluarga

3

BISNIS BANDUNG- Di tengah gempuran  gedget yang kerap mengabaikan kehidupan berumah tangga, diperlukan  solusi yang efektif. Salah satu hal yang tengah digalakkan di Provinsi Jawa Barat  guna  mendekatkan masyarakat pada kehidupan berkeluarga adalah melalui program  “18-21.”

“Melalui  program ini diharapkan pada pukul 18 hingga pukul 21  malam hari, masing-masing anggota keluarga tidak ada yang memegang gadget dan tidak ada yang menonton televisi,” tutur  Ketua Tim Penggerak PKK Jabar,  Atalia Praratya  ketika menjadi narasumber dalam Jabar Punya Indfomasi (Japri)  tentang ketahanan keluarga di Gedung Sate, Kamis (4/7/2019).

Penjelasan  Atalia itu  sekaligus  mengisi  momen  peringatan ke-26 Hari Keluarga Nasional atau Harganas  yang akan  digelar 29 Juli 2019.  Dikabarkan,  serangkaian  kegiatan yang akan dipusatkan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan tersebut diharapkan membangkitkan masyarakat kembali mengutamakan keluarga dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan  perlu merancang  upaya merekatkan kembali keakraban antar-anggota keluarga yang tidak selalu punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Padahal, waktu berkualitas dengan keluarga adalah salah satu faktor penting dalam membangun ketahanan keluarga.

“Dengan demikian keluarga bisa memberikan kualitas terbaik untuk ngobrol, makan bersama, ngaji bersama, belajar bersama dan sebagainya. Harapannya seluruh warga Jabar mudah-mudahan bisa mengembalikan kualitas keluarganya,” tutur Atalia.

Selain melalui program 18-21, beberapa upaya yang tengah dilakukan Jabar untuk merancang keluarga yang berkualitas  adalah melalui program perencanaan keluarga yang telah dirancang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Salah satunya yang ditekankan adalah kalkulasi matang usia perkawinan dan jarak melahirkan antaranak.

“Penting sekali menggelorakan cinta yang terencana ini agar masyarakat betul-betul paham bagaimana merencanakan punya anak dengan jarak yang tidak terlalu dekat, di usia yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, juga tidak terlalu banyak (anak). Ini akan membuat perencanaan masa depan lebih baik,” ungkapnya.

Menurut Atalia, harus diwujudkan demi memenuhi hak-hak anak untuk melangsungkan hidup yang berkualitas, di antaranya hak untuk hidup, hak tumbuh kembang, mendapatkan perlindungan, dan berpartisipasi pada kehidupan sosial supaya  anak bisa tumbuh lebih kuat untuk menghadapi tantangan hidup. (B-002)***