Siti, Sebuah Bukti Positif dari Praktik Inklusi Sosial di Perpustakaan Jawa Barat

24
Inklusi sosial merupakan suatu istilah yang menggambarkan upaya suatu lembaga untuk  mengangkat martabat masyarakat, dan kemandirian individu sebagai modal utama untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Sebagai sebuah lembaga yamg mengemban amanah untuk menjadi tempat pembelajaran sepanjang hayat, perpustakaan pun memiliki tanggung jawab untuk dapat melaksanakan praktik inklusi sosial itu dalam pelayanannya ke masyarakat. Para pustakawan di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat telah melaksanakan tanggung jawab itu dengan penuh dedikasi dalam keseharian tugas mereka.
Siti Nur Fatimah adalah salah satu warga Parakan Saat Bandung yang telah merasakan pelayanan inklusi sosial di Dispusipda Jawa Barat ini, bahkan sejak hari pertama menjadi anggota hingga saat ini. Saat menerima kartu anggota perpustakaan, Siti sudah berusia 18 tahun namun tidak bisa membaca, dan sulit berbicara. Ia sangat tertarik dengan ruangan membaca anak yang ada di perpustakaan. Setiap hari datang berkunjung, membuka-buka buku dan meminta dibacakan buku oleh petugas.
Ine Wijaksana, seorang Pustakawan Muda menawari Siti untuk belajar membaca dan menulis. Siti pun mulai dibimbingnya secara bertahap dari menulis angka, huruf alphabet, mengeja suku kata, mengenali warna dan juga menghafal doa-doa. Itu bukanlah hal yang mudah, karena satu tangan kanan Siti lumpuh, tangan kirinya pun lemah, seperti juga salah satu kakinya. Tubuh mungil Siti memang tak pernah bisa berdiri sempurna, namun semangat belajarnya nyaris sempurna, setiap hari ia datang ke perpustakaan dan setelah enam tahun ini ia pun mulai bisa membaca, menulis dengan tangan kirinya dan bahkan berbicara dengan lebih lancar.
Bantuan Ibu Ine dan kawan- kawan pustakawan lainnya yang bergantian membimbing Siti telah berhasil membukakan cakrawala dunia yang lebih luas dan rasa percaya diri. Di usia 23 tahun sekarang, Siti semakin rajin berkunjung ke perpustakaan dan sudah sangat banyak koleksi buku yang bisa dibacanya sendiri. Ini merupakan sebuah contoh praktik baik dari peran aktif pustakawan dalam pelaksanaan inklusi sosial yang dapat berimbas positif pada pengembangan potensi individu.
Konsep inklusi sosial pertama kali muncul pada sekitar 1970 di Perancis sebagai respon terhadap krisis kesejahteraan di Eropa. Pada 6-12 Maret 1995 di Konferensi Tingkat Tinggi World Summit for Social Development, Copenhagen, Denmark dideklarasikan  “Pembangunan sosial yang menekankan pada konsensus program aksi baru yang menempatkan masyarakat di pusat pembangunan”, ini dikenal sebagai Copenhagen Declaration on Social Development.
Inklusi sosial di bidang perpustakaan mulai diwacanakan pada Oktober 1999, melalui dokumen Libraries for All: Social Inclusion in Public Libraries Policy Guidance for Local Authorities in England. Dokumen ini membahas dengan jelas tentang pengertian perpustakaan berbasis inklusi sosial, yaitu perpustakaan yang proaktif membantu individu dan masyarakat untuk mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri, dan membantu meningkatkan jejaring sosial, seperti aktif mendukung komunitas, penyediaan dan pemenuhan kebutuhan belajar orang dewasa dan keluarga. Maka sangatlah penting untuk layanan perpustakaan dapat diakses dengan lebih mudah oleh beragam kalangan.