1.682 Hektare Sawah Dipusokan Musim Kemarau di Jabar  Sampai  Oktober 2019?

27

BISNIS BANDUNG- Dari  seluas lahan 29.913 hektare  sawah di Jawa Barat  yang terdampak kekeringan,  seluas  1.682 hektare sawah dinyatakan puso akibat kekeringan pada musim kemarau tahun 2019. Lahan sawah  yang terdampak kekeringan itu mencapai lima persen dari total 596 ribu hektare lahan sawah.

“Sebagian besar sawah yang terdampak kekeringan adalah sawah tadah hujan. Berbagai upaya dilakukan dengan berbagai pihak untuk meminimalisir  kekeringan hingga musim hujan tiba,” ungkap Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jabar, Hendy Jatnika kepada pers dalam acara Jabar Ounya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Selasa (9/7/2019).

Menurut Hendy, daerah yang mengalami kekeringan terluas  adalah Kabupaten Indramayu yang merupakan kabupaten dengan luas sawah terbesar di Jawa Barat.  Padahal Kabupaten Indramayu bisa mencontoh Kabupaten Karawang yang sejak beberapa tahun lalu tidak pernah mengalami kekeringan lagi.

“Jadi sawah di Kabupaten Karawang itu disiplin terhadap aturan giliran tanam, mereka menanam palawija di saat menjelang kemarau, sudah tidak ada sawah susuganan lagi. Sehingga yang terdampak sudah nol persen di sana,” katanya.

Provinsi Jawa Barat dengan luas lahan sawah mencapai 932 ribu hektare, biasa memproduksi 12,3 juta ton gabah kering giling atau delapan juta ton beras.  Dari Januari sampai Juni 2019, telah dipanen empat juta ton beras di Jawa Barat dan kekeringan di musim kemarau tahun ini dinilai tidak akan memengaruhi ketahanan pangan masyarakat.

Fenomena kekeringan

Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, Supriyatno menyatakan tujuh kabupaten/kota terdampak kekeringan pada tahun ini, yakni Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Subang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Kota Tasikmalaya.

“Berdasarkan data yang kami himpun dari BPBD tingkat kabupaten kota hingga saat ini ada tujuh kabupaten/kota di Jawa Barat yang terdampak kekeringan,” katanya seraya menambahkan pihaknya mengaku heran dengan fenomena kekeringan tahun ini karena Kota dan Kabupaten Bogor yang terkenal dengan curah hujan cukup tinggi masuk dalam daerah terdampak kekeringan.

“Jadi kalau analisis saya, air yang dimaksud ialah air minum, air dalam. Ini diindikasikan laporan kekeringan ini bahwa ada penurunan air. Rupanya air hujan yang turun tidak meresap ke dalam tetapi hampir 97 persen itu langsung mengalir ke sungai,” kata dia.

Supriyatno menyebutkan, Kota Tasikmalaya juga termasuk daerah langganan yang terdampak kekeringan setiap musim kemarau, khususnya untuk sumber air untuk minum.

Fokus BPBD Provinsi Jawa Barat terkait penanganan kekeringan lebih kepada penanggulangan kebutuhan air untuk rumah tangga karena sesuai arahan Gubernur Jawa Barat kebutuhan air yang pertama ialah untuk kebutuhan rumah tangga, kedua untuk industri dan ketiga untuk persawahan.

BPBD Jabar juga melibatkanpetugas TNI dan Polri terkait pembagian air irigasi untuk para petani di wilayah Jawa Barat selama musim kemarau ini.

“Itu kan ada gilir giring (program irigasi), di mana ini ada konflik kepentingan sehingga petugas TNI dan Polri dilibatkan untuk mencegah hal tersebut,” kata dia.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung, Tony Agus Wijaya  menyatakan musim kemarau di Provinsi Jawa Barat berlangsung dari Mei hingga Oktober 2019.

“Jawa Barat masuk musim kemarau itu dari Mei dan akan berlangsung hingga Oktober 2019. Jadi total enam bulan,” katanya.

 Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Tony Agus Wijaya, pada acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate Bandung, Selasa.

Tony mengatakan musim kemarau bukan berarti tidak akan turun hujan namun akan tetap turun hingga yakni hujan dengan intensitas ringan. Seperti yang terjadi di Bandung pekan ini  turun hujan atau di Jawa Barat bagian tengah juga turun hujan dengan intensitas ringan.

Dia menuturkan memasuki bulan Juli 2019 curah hujan akan berkurang dan puncak musim kemarau tahun ini akan berlangsung pada Agustus 2019. Setelah Agustus maka hujan sedikit demi sedikit akan meningkat dan akan berganti ke musim hujan pada Oktober tapi akhir-akhir ini ada penyimpangan. (B-002)***