Ethiopia Bangkit Disokong Komoditas Pertanian dan Swasembada Daging

922

Sebelum menginjakan kaki di Ethiopia , saya membayangkan negara dengan ibukota Addis Ababa ini merupakan negara miskin dengan suhu udara panas dan gersang yang sempat muncuatkan tragedi rakyatnya kelaparan yang menyita perhatian masyarakat dunia . Kelaparan memang terjadi , tapi sebatas di wilayah pinggiran (perdesaan-red). Saat ini sangkaan saya mengenai keadaan Ethiopia , meleset  dari apa yang dibayangkan saat sebelum saya di tugaskan  di Kedubes RI di Ethiopia, kini Ethiopia tengah gencar melakukan pembangunan. Sejak saya turun di Bandara Addis Ababa , kota yang juga sebagai ibukota Uni Afrika  udaranya sejuk , bersuhu udara antara 17 – 20 derajat celsius. Addis Ababa berada pada ketinggian 2300 diatas permukaan laut (dpl) .Selain dataran tinggi, di  Ethiopia terdapat dataran terendah di dunia. Sebagai negara berkembang, saat ini umumnya penduduk Ethiopia   merupakan petani kopi dan bunga yang mampu menyokong perekonomian negara . Dua produk pertanian tersebut menjadi komoditas ekspor ke beberapa negara Eropa dan Arab , khusus produk bunga mawar kualitas unggulan,diekspor sampai ke Jepang dan negara Asia. Bahkan Ethiopia sudah swasembada daging yang menjadi komoditas ekspor ke negara-negara Arab, sejak tahun 2015 telah tersedia pula moda transportasi berupa MRT yang beroperasi di Addis Ababa.  Secara geografis Ethiopia berbatasan dengan Kenya dan Somalia, mayoritas penduduknya beragama Islam dan Kristen Ortodok yang hidup rukun berdampingan. Yang membedakan antara orang Muslim dan Kristen Ortodok terlihat dari kaum perempuannya.

 Perempuan Kristen sehari-harinya menggunakan kerudung putih , sedangkan perempuan muslim kerudung (hijab) yang digunakannya aneka warna , jadi tidak hanya menggunakan satu warna saja. Uniknya lagi antara yang beragama Islam dan Kristen Ortodok , yakni dalam mengkonsumsi daging . Walau gerai pedagang daging sapi berdampingan , pemeluk agama Islam tidak akan membeli di gerai pedagang daging untuk pemeluk agama Kristen dan sebaliknya pemeluk agama Kristen tidak akan membeli daging sapi di gerai pedagang daging untuk orang Islam . Di pasar tradisional banyak penjual sayuran orang Ethiopia yang fasih berbahasa Cina, termasuk di pasar gelap yang banyak menawarkan barang-barang buatan Cina.

Makanan pokok orang Ethiopia berupa roti tipis bernama Inzera hasil permentasi dari tepung Tef , sedangkan minuman tradisionalnya  populer disebut Tej yang berbahan baku madu. Menu tradisional lainnya yang dikonsumsi warga berupa sajian daging mentah giling  dengan campuran serbuk cabai (Babare) yang disajikan hanya dalam waktu tertentu .

Di Ethiopia terdapat Kota Harar yang dijadikan situs  sejarah keagamaan yang dipercaya sebagai kota suci ketiga di dunia. Situs keagamaan lain bagi yang beragama Kristen Ortodok adalah Lallibela  , sebuah gereja yang dibangun di bawah tanah sebuah bukit batu . Uniknya , orang Ethiopia penganut agama Islam maupun Kristen Ortodok memiliki kalender dan waktu tersendiri . Awal tahun atau tahun baru pada kalender , bagi mereka jatuh pada tanggal 11 September . Sedangkan untuk tahun penghitungannya berbeda delapan tahun, misalnya saat ini tahun 2019 ,  dalam  perhitungan mereka saat ini baru menginjak tahun 2011 . Sama halnya dalam penghitungan waktu (jam) , walau jarum jam sudah menunjukan pukul 12.00 , mereka tetap pada pendiriannya bahwa waktu masih  pukul 04.00 , walau sudah siang hari. Hal lain yang menarik adalah kebiasaan dari penduduk Kota Harar  soal keakraban dengan binatang buas bernama Hyna. Binatang yang menyerupai srigala ini  hidup berkelompok mampu melumpuhkan Singa, namun kepada warga Kota Harar  sikap buasnya menjadi lunak. Kenapa ?  Karena penduduk Kota Harar , secara turun temurun biasa memberi makanan berupa daging untuk Hyna, hingga binatang buas ini mengetahui sang majikan pemberi makan . Di luar majikannya , Hyna akan menyeringai  dengan gigi tajam  siap menerkam.

Mengenai warga negara Indonesia yang bermukim di Ethiopia , jumlahnya kurang lebih sekitar 150 orang. Umumnya mereka bekerja  sebagai karyawan pabrik tekstil . Di antara warga negara Indonesia di Ethiopia , saya berkenalan dengan Kang Taryat Suratman asal Kota Ciamis Jawa Barat yang sudah lebih dari 11 tahun bekerja di sebuah perusahaan sabun dengan jabatan General Manajer PT. Sinar Ancol , perusahaan milik warga Ethiopia. Oleh Kang Taryat , saya sering dijamu makanan khas Priangan , tapi bukan makanan berbahan  ikan laut , karena di Ethiopia sulit untuk mendapatkan ikan laut . ”Ethiopia mah jauh ka laut ,” tutur Kang Taryat dalam logat bahasa Sunda menjelaskan kepada saya mengenai sulitnya ikan laut.

(Moch.Akbar dari Ethiopia) ***