Ir. Endang Sujana, S.Pt,MP.,IPM  Ayah PPL, Menjadikan Saya Ahli Peternakan

36

Kelahiran Bandung 1 Juni 1978, Ir. Endang Sujana, S.Pt,MP., kini bertugas sebagai Kepala Laboratorium Produksi Ternak Unggas FAPET UNPAD. Suami dari Ani Priyati, S.Pd. (39) ini, mengawali kiprahnya sebagai akademisi, sejak ia masih menekuni pendidikan S1 pada tahun 2000. Kemudian, ia dipercaya untuk menjadi asisten dosen, dan tahun 2006 resmi diangkat menjadi dosen dengan jabatan asisten ahli / golongan III B.  Tahun 2010, Endang Sujana ditetapkan sebagai Lektor / golongan III C.  “Latar belakang keluarga, khususnya ayah, ikut menunjang saya untuk berkecimpung di dunia peternakan, karena ayah memiliki latar belakang pekerjaan sebagai penyuluh pertanian, dan banyak memberi referensi buku pertanian maupun peternakan. Saya juga mendapat dukungan dari ibu yang berprofesi sebagai guru.  Setelah lulus S1, saya sempat bekerja di industri peternakan ayam broiler sebagai Technical Survive dan Farm Manager. Kemudian saya berwiraswasta di bidang ayam broiler sambil membuka Poultry Shop, seraya melanjutkan pendidikan program Magister, dan lulus pada tahun 2005 dengan predikat cumlaude. Tahun 2006, saya mengikuti seleksi penerimaan dosen di Fakultas Peternakan Unpad, dan Alhamdulillah saya lulus sebagai calon Aparatur Sipil Negara (ASN),” tutur Endang.

      Hingga saat ini, Endang Sujana telah menjalani profesi sebagai akademisi selama 13 tahun, dengan spesialisasi bidang produksi ternak unggas. Ia banyak melakukan riset pada komoditas puyuh, karena bidang ini paling banyak berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani, dan produk yang dihasilkannya pun murah, siklus reproduksinya cepat, serta sensitif terhadap perlakuan,  sehingga mudah untuk dijadikan bahan riset.

Ayah dari Halita Zahida Hanani (11) ini mengaku, selain menulis sejumlah buku / karya tulis, ia juga telah mendapat beberapa penghargaan, di antaranya sebagai Dosen Teladan ke 3 Fakultas Peternakan tahun 2012, Teaching Farm Award 2012, dan Satyalancana Karya Satya X Tahun dari Presiden RI.

Selain berprofesi sebagai akademisi, Endang Sujana juga menjadi tenaga ahli / pendamping pada kegiatan pemurnian ayam sentul dan itik rambon di Balai Pembibitan Ternak Unggas Jatiwangi, yang dimiliki oleh Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat, serta sebagai Ketua Yayasan yang bergerak pada bidang pendidikan dan sosial.

Untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi, Endang Sujana banyak mengikuti berbagai pelatihan, membaca serta melakukan riset.  Ia juga mengatakan, anaknya bercita cita menjadi dokter hewan  maupun dosen, mengikuti jejak orang tuanya.

Menurut analisa Endang Sujana, perkembangan ilmu unggas di industri sekarang ini sangatlah pesat, ditandai dengan munculnya beberapa perusahaan dan produk perunggasan. Peternakan merupakan salah satu sub sektor pertanian, yakni penyumbang bahan. Peranan unggas sejauh ini masih menjadi andalan sebagai sumber daging.  Bahkan tahun 2017, unggas memberikan kontribusi sebesar 66,34% terhadap produksi daging.  Ayam pedaging memberi kontribusi yang dominan dalam penyediaan daging secara nasional, karena jenis ternak lain seperti ternak domba, kambing, kerbau maupun kuda belum merupakan skala industri.

Unggas, khususnya ayam ras di Indonesia, merupakan bahan pangan protein hewani yang relatif murah, sudah bisa mencapai target produksi daging yang dibutuhkan masyarakat. Selain ayam ras, ada beberapa komoditas unggas lainnya yang cukup potensial sebagai penghasil bahan pangan protein hewani, seperti ayam kampung, itik dan puyuh, yang dapat menghasilkan daging maupun telur.

      Ir. Endang Sujana juga mengatakan, program swasembada daging sapi yang telah dicanangkan pemerintah sejak tahun 2000, sejauh ini belum tercapai.  Kebutuhan daging sapi secara nasional masih ditunjang melalui jalur impor, padahal dari segi  harga masih jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan daging putih (daging ayam). Faktor penyebab Indonesia mengalami kondisi seperti ini adalah, karena kebijakan yang terlalu dipaksakan, dan kemandirian pangannya pun sangat lemah, yakni dengan mengandalkan pada impor. Menurut penggemar warna kuning dan biru ini, untuk mengatasinya, perlu ada keberpihakan kebijakan pangan dari pemerintah pada tiga hal. Pertama, meningkatkan peran sektor pangan dalam perekonomian nasional. Kedua, terciptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan. Ketiga, meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan dan masyarakat perdesaan, yang tercermin dari adanya peningkatan pendapatan dan produktivitas pekerja di  sektor pertanian, peternakan maupun perikanan. (E-018)***