Mendulang Untung Dari Limbah Kayu

598

BAGI sebagian orang, limbah industri kayu mungkin hanya dianggap tumpukan sampah tak berguna. Namun, bagi sejumlah pelaku usaha kerajinan tangan, sisa limbah kayu yang biasanya berakhir di tungku pembakaran itu diolah menjadi kerajinan bernilai jual tinggi.

Suherman, adalah salah satu pelaku usaha yang berhasil memanfaatkan limbah industri kayu. Bersama 12 orang anggota perajin yang tergabung dalam komunitas Cipta Handycraft Inovation Product (CHIP) yang dipimpinnya, pria 35 tahun ini memproduksi aneka kerajinan tangan di Desa Kadikaran, Kabupaten Serang, Banten.

Dari tangan-tangan terampil mereka, lahirlah aneka kerajinan, seperti gantungan kunci, miniatur kapal dan pesawat, miniatur ikon daerah, aneka lampu hias, bingkai foto, tempat tisu, piala, jam dinding hingga tempat sauna dan booth pameran. Harga jual produk ini bervariasi mulai dari Rp 5.000 (gantungan kunci) hingga Rp 30 juta (tempat sauna) per piece.

Suherman mengatakan, saat ini produk kerajinan buatan mereka yang paling banyak diminati pembeli adalah bingkai foto dengan teknik transfer paper. Harga per unitnya bervariasi disesuaikan dengan bentuk. Ambil contoh bingkai ukuran foto terkecil 4R dan terbesar 12R dibanderol berkisar Rp 80.000-Rp 250.000 per item.

Dalam sebulan, Suherman bisa memproduksi kerajinan dari limbah kayu hingga 2.500 pieces. Jumlah produksi bergantung tingkat kerumitan produk. Contoh kerajinan miniatur perahu layar, proses produksinya bisa makan waktu 3 hari-5 hari per unit. “Tapi, total produksi semua barang bisa 2.500 pieces per bulan,” kata ayah seorang anak ini.

Dari memproduksi aneka kerajinan berbahan limbah kayu tersebut, Suherman dan kawan-kawannya bisa membukukan omzet Rp 100 juta per bulan dengan margin sekitar 40%.

Suherman menuturkan, dari omzet tersebut, setiap anggota CHIP -yang sebagian besar bekerja paruh waktu- mampu meraup penghasilan tambahan. “Besarnya tergantung jenis produk yang dihasilkan. Jika rajin, penghasilannya bisa sesuai UMR Banten,” katanya.

Anggota CHIP, papar Suherman, terdiri dari berbagai latar belakang profesi. Mulai dari tukang kayu, fotografer, musisi, mahasiswa, hingga ibu rumahtangga.

Kendati baru memulai usaha pada 2017, barang kerajinan produksi komunitas CHIP mampu memikat pasar. Saat ini, produk kerajinan CHIP dipasarkan ke Jakarta, Bogor, Bali, Bandung, dan Lampung.

Tembus ke pasar ekspor

Cerahnya prospek kerajinan tangan berbahan baku limbah kayu juga menarik minat Saddam Hussein. Dengan bendera usaha Ukir Furniture, pria berusia 28 tahun ini telah menekuni bisnis kerajinan limbah kayu sejak 2011. Produknya, antara lain, kursi dari akar kayu, toples, dan gantungan kunci.

Di bengkelnya jalan Taman Siswa, Jepara, Jawa Tengah, Saddam memproduksi aneka kerajinan dari limbah kayu sebanyak 250 unit saban bulan.

Harga produk buatannya berkisar dari Rp 25.000-Rp 500.000 per unit. Sayangnya, produk terlaris justru adalah produk dengan harga paling murah, yakni gantungan kunci. Jika dihitung, omzet yang bisa dipetik Saddam dari bisnis ini cuma Rp 6,25 juta juta per bulan. Kecil, memang.

Pasalnya, kata Saddam, usaha kerajinan limbah kayu hanya bisnis sampingan. Bisnis utamanya adalah kerajinan mebel. “Kalau bisnis inti kerajinan mebel, omzetnya bisa lebih Rp 30 juta per bulan,” katanya.

Berbanding terbalik dengan Saddam, Widodo justru mengandalkan bisnis kerajinan limbah kayu sebagai pendulang laba. Dibantu oleh 25 orang karyawannya, pria berusia 52 tahun ini telah memproduksi kerajinan berbahan limbah kayu sejak 1997 dengan bendera usaha Shely Handycraft.

Di workshop-nya yang berada di Desa Brangkal, Klaten, Jawa Tengah, lelaki yang akrab disapa Widodo ini mampu memproduksi kerajinan dari limbah kayu hingga 10.000 pieces setiap bulan.

Sebagian besar produk kerajinan yang dibuat Widodo adalah miniatur kendaraan, seperti replika sepeda motor Harley Davidson, mobil Volks Wagen (VW), dan kereta kuda.

Yang menarik, ketiga produk miniatur itu justru paling laris. Menurut Widodo, pelanggannya menyukai produk replika tersebut karena bentuknya unik, dan harganya cukup terjangkau, hanya sebesar Rp 10.000-Rp 100.000 per piece.

Seacara keseluruhan produk Selly Handycraft dibanderol dengan harga Rp 5.000-Rp 500.000 per piece. Mau tahu omzet bisnis Selly Handycraft? “Berkisar Rp 100 juta sampai Rp 300 juta per bulan,” kata Widodo. Wow!

Salah satu strategi pemasaran yang ditempuh Widodo untuk menembus pasar internasional adalah rajin mengikuti berbagai event pameran kerajinan tangan di dalam negeri, seperti Inacraft, Crafina, dan pameran di Pekan Raya Jakarta.

Selain itu, untuk memudahkan pembeli, Widodo juga memiliki showroom di kawasan wisata Candi Prambanan. Berkat strateginya sering ikut pameran dan bagi-bagi kartu nama, lambat laun produknya mulai dilirik konsumen global.

Nah, jika Anda tergiur mencicipi gurihnya bisnis kerajinan dari limbah kayu, tak ada salahnya mengikuti jejak yang dilakukan Suherman dan Widodo. Tak perlu pengalaman khusus, kok. Widodo, misalnya, sebelum terjun ke bisnis ini juga tidak punya keterampilan sama sekali dalam membuat produk kerajinan kayu.

Awalnya saya belajar dari teman membuat kerajinan miniatur kendaraan karena memang saya suka dengan kerajinan miniatur, ujar ayah empat anak ini.

Yang dibutuhkan adalah naluri seni dalam membuat kerajinan berbahan baku limbah kayu yang menjadi salah satu faktor suksesnya bisnis ini. Perajin harus bisa memenuhi permintaan model dan selera yang dipesan pelanggan. Selain itu, perajin juga harus bisa melakukan inovasi produk agar pasar tidak jenuh dengan model produk yang itu-itu saja.

Proses produksi kerajinan ini sebetuknya tidak rumit. Secara garis besar, proses produksinya, antara lain, pengeringan bahan baku kayu, penggambaran pola, pemotongan kayu mengikuti desain pola, proses pembubutan, assembly, finishing, pengecatan, dan terakhir adalah pengemasan.

Hanya saja, investasi bisnis ini tidak sedikit. Ada sejumlah peralatan yang Anda butuhkan. Di antaranya, gergaji jig saw yang berfungsi menggergaji kayu dengan pola melengkung. Di pasaran harga mesin ini bisa sampai Rp 1 juta per unit.

Lalu, mesin bor untuk melubangi bagian-bagian tertentu di permukaan kayu. Sedangkan mata bor terdiri dari berbagai macam ukuran. Harga mesin ini juga sekitar Rp 1 juta per unit.

Harga bahan baku tinggi

Butuh pula mesin bubut kayu yang dipergunakan untuk membuat roda dan sejenisnya yang harus di bubut. Harga mesin bubut kayu ini bisa mencapai Rp 10 juta per unit. Kerajinan ini juga butuh mesin amplas untuk menghaluskan permukaan kayu supaya bersih dan rata.

Diperlukan pula kompresor sebagai pendukung proses finishing untuk menyemprotkan bahan melamin ke permukaan kayu. Harganya sekitar Rp 1 juta per unit.

Biaya investasi untuk peralatan ini belum termasuk sewa tempat untuk memproduksi kerajinan, gaji tenaga kerja, dan biaya operasional bulanan,

Faktor lain yang perlu Anda perhatikan adalah pasokan bahan baku. Maklum, ketatnya persaingan di bisnis membuat bahan baku sulit didapat. Apalagi, jika Anda tidak memiliki mitra pemasok kayu. “Saya saja mencari bahan baku dari Klaten, Sukoharjo, sampai Gunung Kidul,” papar Widodo.

Harga bahan baku dari limbah kayu juga enggak murah. Kata Widodo, harga satu kubik kayu bisa Rp 1,2 juta. Widodo biasanya memakai bahan baku kayu mahoni dan sonokeling. Kayu jenis ini banyak digunakan perajin karena punya ciri khas daging kayu keras, tekstur khas, dan seratnya bergaris-garis membentuk alur, sehingga menambah keunikan produk.

Menurut Widodo, satu kubik kayu bisa memproduksi kerajinan hingga 500 pieces ukuran sedang. Untuk kerajinan berukuran besar, bahan baku sebanyak itu hanya cukup memproduksi setengahnya. “Dalam sebulan, kebutuhan bahan baku tak bisa ditentukan, tergantung dari banyaknya pesanan produk,” kata Widodo.

Widodo mengingatkan, harga bahan baku pendukung kerajinan limbah kayu kerap melejit mengikuti pergerakan harga nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Ini terutama bahan baku yang terbuat dari zat kimia seperti melamin, tiner, sending, lem dan plastik.

Misalnya harga melamin. Sebelum rupiah loyo di kisaran Rp 14.500 per dollar AS, harga 1 ember melamin ukuran 18 liter cuma Rp 560.000. Kini harganya naik menjadi Rp 600.000.

Selain itu, harga 1 drum tiner ukuran 200 liter naik dari sebelumnya Rp 2,1 juta menjadi Rp 2,4 juta. Begitu pula dengan harga 1 ember ukuran 18 liter sending dari Rp 540.000 menjadi Rp 580.000 dan lem ukuran 800 gram naik dari Rp 11.000 menjadi Rp 12.000. “Ini belum termasuk harga peralatan yang juga naik. Contohnya mata gergaji potong 1 lusin sebelumnya Rp 17.000 sekarang naik menjadi Rp 20.000,” beber Widodo.

Dengan harga bahan baku yang melambung tinggi, salah satu strategi Widodo untuk menekan kerugian adalah menaikkan harga jual produk. “Kenaikannya sekitar 5% dari harga sebelumnya,” kata dia.

Semua usaha niscaya membutuhkan modal dana. Tidak terkecuali bagi bisnis kerajinan tangan dari bahan baku limbah industri mebel. Nah, jika permodalan menjadi kendala bagi Anda untuk mengembangkan bisnis, tidak ada salahnya bergabung menjadi mitra binaan dari perusahaan-perusahaan besar.

Langkah itu pula yang ditempuh oleh Suherman dan Slamet Widodo dalam mengembangkan bisnis kerajinan limbah mebel. Ambil contoh Suherman. Untuk bisa mendapatkan pasokan bahan baku limbah mebel, perajin asal Serang, Banten, ini menjadi mitra binaan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, Serang Mill (IKS), anak usaha Grup Sinar Mas.

Menurut Suherman, pada 2017, ia berkesempatan mengikuti proses pengadaan bahan baku dari IKS ketika sedang mencari vendor tambahan untuk mengolah kayu sisa limbah industri mebel untuk kegiatan sosial perusahaan (CSR). “Saya menawarkan diri kepada IKS untuk mengolah kayu-kayu kecil sisa mebel untuk saya bawa ke workshop dan dibentuk menjadi produk kerajinan,” katanya.

Sebagai produk contoh, Suherman memperlihatkan kerajinan kayu berupa sangkar burung. Dan, ternyata kerajinannya tersebut disukai oleh IKS. “Dari situ, tim IKS lalu menantang saya dan teman-teman di Cipta Handycraft Inovation Product (CHIP) untuk membuat kerajinan seni lainnya yang ternyata bisa kami penuhi,” ungkap Suherman.

Sejak saat itu, Suherman dan rekan-rekannya di Komunitas CHIP mendapat kepercayaan untuk mengolah kayu sisa mebel IKS menjadi berbagai macam kerajinan seni. Saat ini, Suherman bisa mendapatkan pasokan bahan baku limbah dari IKS sebanyak 1 truk colt diesel yang berisi 12 kubik kayu, setidaknya sekali dalam seminggu.

Bukan hanya Suherman yang menikmati hasil menjadi mitra binaan perusahaan besar. Hal serupa juga dirasakan oleh Slamet Widodo, perajin miniatur asal Klaten, Jawa Tengah. Sejak tahun 2012, ia telah menjadi mitra binaan perusahaan migas nasional pelat merah, yakni PT Pertamina (Persero). Widodo mengatakan, salah satu keuntungan menjadi mitra binaan Pertamina adalah mendapatkan bantuan permodalan.

Dia mengaku, Pertamina pernah memberikan bantuan dana pinjaman sebesar Rp 100 juta. Saya melunasi pinjaman itu dalam tempo 3 tahun. Saat itu, bunga pinjamannya sekitar 0,6% per bulan. “Selain modal, saya juga dibantu pemasaran lewat pameran,” tuturnya. (C-003/Bbs)***