Dari Kebanjiran ke Kekeringan

9

Musim kemarau tahun ini meruapakan musim kering yang cukup panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geiofisika memprediksi, puncak kemarau tahun ini akan terjadi pada Agustus. Hujan akan mulai turun pada bulan Oktober yang dIperkiran sebagai awal musim hujan. Jadi kalau dihitung mulai bulan Juli ini, kemarau tahun 2019 ini berusia 4-5 bulan. Tentu saja dampaknya akan terasa cukup berat terutama bagi para petani.

Bulan Juli ini, dikabarkan daerah Kabupaten Indramayu, Bogor, Bekasi, Tasikmalaya sudah mulai mengalami ke­keringan. Para petani tidak dapat lagi menanam padi karena sawah mereka tidak berair. Irigasi dari skunder ke tersier sampai kuarter, kering. Dipastikan mereka akan mengalami gagal panen. Luas areal puso tahun ini akan lebih luas dibanding tahun lalu.Sebenarnya bukan hanya petani yang menderita akibat kemarau panjang itu,masyarakat perkotaan juga sudah mulai mengeluh karena pasokan air PDAM mulai seret, sumur gali dan sumur pompa di beberapa daerah di kota, mulai mengering. Masyarakat yang menjadi pelanggan kekeringan di Kota Bandung yakni, Cicadas, Ujungberung, Coroyom, dan sebagainya, sudah bersiap-siap antre air bersih yang dipasok PAM Tirtawening. Penduduk Kabupaten Bandung sudah mulai merasakan dampak kemarau, banyak petani yang sudah beralih dari menanam padi ke penanaman palawija. Daerah yang biasa mengalami banjir akibay meluapnya Citarum, kini mulai kekurangan air, baik untuk pertanian maupun untuk kebutuhan rumah tangga.

Masalah kekeringan pada musim kemarau, bukan hal baru yang dialami masyarakat kebanyakan daerah di Indonesia. Kita belum dapat ”mengendalikan” alam sehingga benar-benar tetrasa manfaarnya. Pada musim hujan yang kita rasakan hanya banjirnya saja, belum dapat ,memanfaatkan luapan air menjadi susuatu yang bermanfaat ganda. Pada musim kemarau kita baru merasakan dampak negatifnya, belum mendapatkan manfaat langsung dari musim itu. Kita selalu tidak siap menghadapi dua musim tersebut. Padahal kit a hanya punya dua musim, tidak empat musim yang dihadapi masyarakat di belahan bumi lain.

Musim hujan dan musim kemarau yang selalu hadir tiap tahun, seyogianya kita sudah siap mengahapinya. Pada musim hujan, seharusnya kita mampu ”menabung” air yang dapat dipanen pada musim kemarau. Pada musim kemarau kita belum mampu memanfaatkan panas matahari sebagai sumber energi bagi kepentingan rakyat banyak. Bukan hanya sinar matahari, angin dan gelombang laut saja yang terjadi tiap hari atau tanpa musim, belum termanfaatkan sebagai sumber kehidupan.

Tampaknya kita masih mengalami krisis SDM yang dapat memanfaatkan ilmu yang mereka punyai unruk kepen tingan orang banyak. Dalam segala bidang, kita selalu berhadapan dengan langkanya bahan baku. Untuk industri kita harus mengimpor bahan baku dan bahan penunjang. Dalam masalah energi kita masih harus mengimpior minyak untuk memenuhi kebutuhan industrui dan konsumsi. Yang terjadi barui sampai keluhan demi keluhan, musim kemarau kering, musim hujan banjir. Apalagi sekarang di dunia ini tengah terjadi pe­rubahan iklim, seyogianya kita siap menghadpinya.

Apa dampak peruabahan iklim itu. Dapatkah kita keluar dati lingkaran dan dampak negatif peruabahan ikllim itu.

Masalah itu memang masalah berat. Mengapa kita tidak mulai dari yang biasa kita hadapi yakni musim kemarau dan musim hujan. Kita tidak boleh hanya me­ngeluh. Kita harus mampu menghadapinya dan memanfaatkan musim itu. Kita harus mampu menguba mardorot men jadi manfaat. ***