UMKM Tumpuan Harapan

3

Di era e-commerce sekarang ini, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi tumpuan ekspor. Ketidakseimbangan perdagangan yang menunjukkan bahwa impor lebih besar dari ekspor membuat neraca perdagangan kita tidak seimbang. Ekspor mesti dipacu, dan impor dikurangi.

UMKM diharapkan dapat menggenjot ekspor kita. Harapan itu tidak hanya dilontarkan oleh Gubernur Jabar, Muhammad Ridwan Kamil, melainkan juga oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi. Menurut Gubernur Jabar, dalam upaya mendongkrak ekspor itu, merupakan tugas pemerintah untuk membawa perubahan dengan merangsang tumbuhnya inovasi di kalangan pengusaha UMKM. Kendati, sekarang ini, laju pertumbuhan ekonomi Jabar yang 5,4 persen sudah lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekonomi secara nasional.
Inovasi merupakan kata kunci untuk meningkatkan ekspor produk- produk UMKM. Agar produk UMKM kita mampu bersaing di pasar global, produk-produk lokal yang dihasilkan UMKM itu perlu dikurasi terlebih dahulu. Menurut Ridwan Kamil, hal pertama yang harus dibenahi dari produk-produk UMKM itu ialah pengemasan. Kemasan itulah ysng seringkali menjadi niai tambah bagi produk-produk yang diekspor.

Produk-produk UMKM yang diekspor ke luar negeri hendaknya bukan lagi merupakan barang dasar, melainkan barang jadi. Hal itulah uang dikehendaki oleh Deputi Gbernur BI, Rusmaya Hadi, yang hadir bersama Gubernur Jabar, Mohamad Ridwan Kamil dalam acara Karya Kreatif Jaar di 23 Paskal, Jum’at (28/6). Kegiatan ekspr oleh UMKM tidak saja dapat dilakukan oleh pengusaha UMKM sendiri, melainkan juga daapat bergabung dengan pengusaha eksportir yang ada, dan telah lama beroprasi.

Untuk meningkatkan ekspor dari para pengusaha UMKM, penguasaan digital merupakan tuntutan mutlak. Melalui digital ietulah kegiatan ekspor dapat dilakukan. Menurut Deputi Gubernur BI, ada empat kategori UMKM.

Pertama, UMKM startup yang potensial. Kedua, UMKM yang sudah memiliki pembukuan dan berani tampil, ketiga, UMKM yang memasarkan prduknya melalui online, dan keempat UMKM yang berpotensi ekspor karena menghasilkan produk-produk kelas dunia.
Peluang untuk berkembang bagi pe­ngusaha UMKM di Jabar, saat ini masih sangat terbuka. Menurut Ridwan Kamil, produk lokal unggulan yang diekspor baru sekitar 33 persen. Masih cukup banyak produk unggulan lainnya yang diperoduksi UMKM yang belum memasuki dunia ekspor.

Salah satu persoalan yang membuat ekspor UMKM rendah adalah penguasaan digital dari sebagian pengusaha UMKM yang masih rendah. Kalau pemerintah, baik pusat maupun daerah Jawa Barat berniat untuk mingkatkan kemampuan ekspor para pengusaha UMKM, kuncinya terletak pada upaya me­ningkatkan kemampuan digital para pe­ngusaha UMKM itu.

Sekarang ini, kemampuan penguasaan digital dari para pengusaha UMKM lebih karena otodidak, tidak memperoleh bmbingan dan pelatihan. Tampaknya, merupakan kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan dan latihan bagi para pengusaha UMKM untuk meningkatkan penguasaan digitalnya. Dengan demikian, para pengusaha UMKM kita dapat melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan e-Commerce.***

Yayat Hendayana
Pengajar Pada Program
Sarjana dan Pascasarjana Unpas