Kisah Dua Orang Penumpang Kereta Bawah Tanah

18

SABTU Wage, 13 Juli 2019, di dalam gerbong kereta bawah tanah,  dua orang dengan nama yang sama-sama kejawa-jawaan, sama-sama berkemeja putih lengan panjang, duduk bardampingan  Orang yang tampak lebih kurus bergelar insinyur pertanian. Dari wajahnya saja, jelas, ia seorang sipil. Sedangkan yang berperawakan atletis namun agak gemuk, masih tampak sebagai seorang militer.

      Penumpang MRT Jakarta yang kurus bernama Joko Widodo sedangkan yang gemuk bernama Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Orang yang berbadan kurus harus disebut lebih dulu. Bukan karena ia orang sipil tetapi ia memang pemilik nomor undian 01. Baru kemudian pemegang nomor urut 02. Nomor itu sebagai nomor peserta pada Pemilihan Presiden 2019 yang diselenggarakan bersamaan dengan Pemilihan Umum Legislatif. Itu dulu. Ketika bangsa Indonesia menyelnggarakan pemilu. Ketika bangsa Indonesia seolah-olah terdiri atas dua kubu yang bertentangan. Mereka menamakan diri sebagai Kelompok Pengusung Nomor Urit 01 dan kelompok Pengusung Nomor Urut 02.

      Kedua belah pihak  seolah-olah musuh bebuyutan yang berseteru turun temurun. Kedua belah pihak merasa sudah menjadi pemenang tujuh bulan sebelum pemilu dilaksanakan. Perseteruan itu semakin memanas pada saat memasuki masa kampanye, pada saat pencoblosan. Puncaknya terjadi serelah KPU mengumumkan hasil perhuitungan suara bahkan sampai keluarnya putusan MK.

      Itu dulu, ketika pemilu dengan tensi politiksangat tinggi dilakukan di negeri ini. Sekarang segala perseteruan dan ingar binger politik itu seharusnya sudah selesai. ”Tidak ada lagi 01 dan 02 yang ada asdalah 03 yakni Persatuan Indonesia sesuai dengan bunyi sila ketiga Pancasila.”  Hal itu merupakan keinginan banyak orang. Ternyata harapan itu tertunaikan, ketika Jokowi dan Prabowo bertremu di Stasiun MRT Lebakbulus. Keduanya naik kereta bawah tanah dan turun di Bundaran HI. Dua orang penumpang itu berjalan menuju rumah makan dan makan bersama. Wajah keduanya tampak berbinar, bercampur baur antara gembira, haru, bangga, kecewa, dan sejumlah nuansa lagi yang tidak terlalu jelas.

       Puncak percakapan kledua orang itu di dalam MRT, adalah pernyataan Prabowo yang mengucapkan selamat kepada Jokowi atas keterpilihannya sebagai Presiden RI 2019-2014. Pernyataan yang disambut Jokowi dengan penuh kehangatan itulah yang menjadi titik awal terwujudnya rekonsiliasi. Indonesia kembali ke khitahnya sebagai negara dengan penduduki beragam tetapi selalu bersatu dalam bingkai sejarah yang terpelihara dari zaman ke zaman. Pertemuan di gerbong MRT itulah yang kemudian punya dampak luar biasa, baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Secara politik terlihat secara jelas, posisi masing-masing parpol. Secara social, pertemuan itu menghapus rasa cemas, takut terjadi bentrok fisik antar-pendukung. Segalanya mulai terhapus meskipun masih banyak residu Pilpres  2019. Ternyata sejarah berulang. Tahun 2014, rivalitasd kedua capres itu sampai ke MK dan menimbulkan rasa khawatir di masyarakat. Dulu tidak terjadi apa-apa, sekarang pun diharapkan tidak ada lagi perseteruian.

       Pertemuan Sabtu Wage itu, juga punya danmpak positif terhadap perekonomian Indonesia. Harga saham gabungan naik siginifikan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat. Kepercayaan negara lain  tumbuh lagi. Kaum investor  mulai melirik Indonesia sebagai negara yang berpeluang menjadi tempat usaha para pemodal. Kepercayaan itu tumbuh ketika mereka mengamati, Indonesia aman. Indonesia mampu menyelenggarakan pemilu serentak dengan pemilih lebih dari 160  juta orang.

        Rakyat sempat cemas, takut pemilu berakhir dengan kheos. Beruntung Polri dan TNI benar-benar kompak menjaga dan menindak kelompok-kelompok yang berniat memancing di air keruh. Rakyat cemas, kalau-kalau persetereuan itu berpengaruih terhadaop pertumbuhan ekonomi.

        Alhamdulilah, atas doa semua orang, termasuk para ulama dan penggiat semua agama, Indonesia selamat dari marabahaya perpecahan. ***