Bukan Hanya Teknologi Persenjataan Saja

6

     PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi semakin cepat. Bangsa yang tidak menguasai ilmu pengetahunan dan teknologi akan jauh tertinggal. Hal itu merupakan tantangan  yang sudah sangat dekat. Tantangan itu berubah sangat cepat. ’Karena tantangan sangat berubah, cara kita menghadapi tantangan dan masalah juga harus berubah. Cara dan model-model lama sudah tidak bisa kita lanjutkan. Tidak ada pilihan lain bahwa kita harus cepat.” Hal itu dikemukakan Prersiden Jokowi ketika melantik 781 perwira remaja dan Polri di Jakarta.

     Di hadapan  259 perwira AD, 117 AL, 99 AU serta 306 Polri itu Presiden meminta para perwira muda itu benar-benar menjadi pengawal NKRI dan  penjaga Pancasila. Karena situasi sekarang sangat berbeda dengan masa lalu, sekarang sudah benar-benar berubah. ”Tidak ada pilihan lain bahwa kita harus cepat,” kata Prersiden. ”Kita harus fleksibel. Kita harus cerdik. Kita harus semakin menguasai ilmu pengetahuan dan tejknologi,” kata Presiden lagi. Masih ujar Presiden,  dengan penguasaan ilmu pengetaghuan dan teknologi, karakter yang tanggugh, tanggap,  cepat, serta cerdas,  karakter kebangsaan yang kokoh, para perwira remaja ini akan menjadi penjaga NKRI dan Pancasila sejati.

     “Tanggung jawab Saudara sangat besar. Saudara harus terus melindungi Pancasila dari gempuran gelombang idiologi luar.  Menjaga masa depan bangsa, menjaga Bhineka Tunggal Ika, menjaga toleransi terhadap perbedaan anak-anak bangsa, menjaga persatuan dalam keberagaman Indonesia serta memegang teguh kode etik perwira,” ujar Presiden.

    Prrsiden ingin menegaskan, tugas perwira TNI dan Polri sekarang jauh lebih berat. Sebagai prajurit, para perwira baru itu bukan hanya  tangguh dalam bertempur. Selain memiliki kekuatan fisik yang prima, perwira harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan hanya teknologi persenjataan tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam segala bidang. Seperti dikemukakan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, perwira muda jangan hanya terbengong-bengong dan ditinggalkan negara lain yang lebih besar dan paham Revolusi 4.0. ”Sekarang kita masuk ke Revolusi Industri 4.0 dan tak lama lagi masuk ke Revolusi 5.0.

    Dalam percaturan internasional kita tidak boleh menjadi bangsa yang kalah 4-0 apalagi 5-0 oleh negara lain  yang jauh di bawah Indonesia dalam segala hal. Negara tetangga yang baru membangun seperti Vietnam, kini sudah mulai menyalip Indonesia dalam perekonomian dan perdagangan internasional. Singapura, Malaysia, Thailand, dan sekarangh Vietnam sudah menjadi pelaku Revolusi Indistri 4.0. Masyarakat termasuk para penjaga negaranya menguasai benar ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka sadar, pertempuran di masa depan tidak lagi membutuhkan para penyergap senyap atau penembak jitu. Peperangan akan terjadi di belakang meja, di depan piranti serba canggih. Peperangan tidak akan berbeda dengan anak-anak bermain game di depan layar monitor.

    Pada saat manusia makin sadar akan pentingnya hidup tentram dan damai, sudah tidak akan memikirkan lagi kecanggihan senjata. Peperangan sudah dihapus dari kamus kehidupan bangsa dan negara di seluruh dunia..Dalam era itu, umat manusia hanya berlomba menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kepentingan yang lebih dalam dari sekadar perebutan kekuasaan, menghadang serangan musuh dari luar, penanggulangan pemberontakan, da sejenisnya.

    Profesionalisme dalam tubuh TNI dan Polri semakin tergantung dalam era digitalisasi sekarang ini. Ancaman yang kini menggunakan perangkat lunak berupa siber makin profesional. Para penipu, ilviltran, pengganggu keamanan, pencurian uang secara digital, semakin marak. Itu semua membutuhkan prajurit TNI dan anggota Polri dengan kemampuan tinggi dalam teknologi digital atau siber.Ancaman dari luar, sekarang tidak terlalu besar. Kalaupun ada hanya beruipa pencurian ikan, pasokan senjata bagi kaum pemberontak, seerta kelompok-kelompok yang merongrong kebijakan pemerintah.

   Semua tantangan atau ancaman itu tidak dapat dilawan hanya dengan persenjataan konvensional.  Semuanya sudah serba digital. Karena itu ilmu pengetrahuandanteknologi merupakan  kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Para petrwira TNI dan Polri harus sudah siap dengan ilmu pengetahuan dan terknologi. Antisipasi terhadap perubahan sudah tidak dapat ditunggu dalam hitungan dekade, tahun, bulan, minggu, atau hari. Dalam era digital, segalanya sudah dalam hitungan detik.

    Patra perwira muda yang baru dilantik dengan pangkat Letnan II dan Inspektur II, belum punya kemampuan mumpuni. Mereka harus terus diasah lagi ilmu pengetahuan dan teknologinya. Mereka harus diberi fasilitas masuk perguruan tinggi menjadi perwira sarjana  atau sarjana yang perwira. ***