Dr.Ir.Denie Heriyadi, S.U. Pernak Pernik dan Senarai Domba Garut

27

Dr.Ir.Denie Heriyadi, S.U., yang lahir di Bandung tanggal 29 Juni 1956 dan suami dari Elly Komalasari (59) ini, kini menjabat sebagai Lektor Kepala Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad). Ayah dari Wishal Miggy Dasanova (34) dan Safa Annisa (31) itu menuturkan, menjadi seorang akademisi sejak 1981  sudah terpahat dalam hatinya, dan sudah menjadi cita-citanya sejak dulu.

“Menjadi akademisi, sudah menjadi cita-cita saya yang juga mendapat dukungan dari keluarga, selain memang dari latar belakang pendidikan saya.   Saya juga pernah bekerja pada peternakan ayam di Jambudipa-Cisarua, Kab.Bandung Barat.  Sudah 38 tahun saya menekuni profesi sebagai akademisi, dengan spesialisasi ilmu bidang Produksi Ruminansia Kecil (domba dan kambing).  Ketertarikan saya terhadap spesialisasi tersebut, terinspirasi oleh latar belakang kehidupan para nabi yang banyak menjalani hidup sebagai peternak domba / kambing.  Domba dan kambing mempunyai keunikan tersendiri, karena merupakan ternak yang jujur dan menyejukkan.  Produksinya juga mempunyai kwalitas yang baik bila dipelihara dengan baik pula,” ungkap Dr.Ir.Denie Heriyadi.

Penganut motto hidup “Hidup tanpa motto hidup” ini mengaku, selama berprofesi sebagai akademisi, ada sejumlah karya ilmiah yang telah ditulisnya, dan mendapat beragam pengalaman yang tidak akan terlupakan.  Karya ilmiah yang ditulis dalam bentuk buku itu terdiri dari 3 judul.  Menurut Denie, buku yang paling berkesan baginya adalah buku yang berjudul “Pernak Pernik dan Senarai Domba Garut”.  Dalam buku ini ia membahas berbagai hal yang terkait dengan domba Garut, khususnya berbagai kosa kata terkait domba Garut yang berkembang di masyarakat.

Dalam perjalanan tugasnya, Dr.Ir.Denie Heriyadi juga berhasil meraih beberapa penghargaan, antara lain Satya Karya Bhakti 15 tahun, Dosen Teladan I Fakultas Peternakan Unpad, Dosen Teladan I Tingkat Universitas Padjadjaran,  Satya Karya Bhakti Kelas II serta Satyalencana Karya Satya 20 tahun.

Denie juga mengakui bahwa, sebagai akademisi ia mendapatkan beberapa manfaat yakni, memiliki kebebasan berfikir, dapat menyampaikan pendapat, ide serta gagasan secara bebas dan bertanggungjawab, hubungan kolegalitas yang terbuka dan transparan, sekaligus ada rasa saling hormat menghormati antara atasan dan bawahan .

Diungkapkan pula oleh Denie, dirinya akan menjalani profesi sebagai akademisi sepanjang hidupnya.  Karena, dengan menjadi akademisi, banyak hikmah yang bisa didapat, yakni selain terjalinnya silaturahim, juga bisa memperoleh amal jariah, selalu dinamis dan kreatif untuk mendapatkan ilmu-ilmu mutakhir, serta berkesempatan luas untuk mengimplementasikan ide, gagasan maupun pengetahuan.

Selain sebagai akademisi, Denie Heriyadi juga aktif berorganisasi, antara lain di KORPRI sejak Tahun 1981,  di HPDKI Jawa Barat sejak Tahun 1978,  HPDKI Nasional sejak Tahun 2000, Koperasi Mitra Malabar serta Yayasan Bina Medika.  Selain itu,  ia juga aktif di Komisi Bibit Nasional-Kementan,  Komisi Penetapan Rumpun dan Galur Ternak-Kementan,  Komisi Lembaga Sertifikasi Produk (LsPro)-Kementan, dan Komisi Wilayah Sumber Bibit-Kementan.

Denie berusaha mengatur waktu aktivitasnya berdasarkan skala prioritas.  Prioritas pertama adalah perkuliahan (kegiatan akademik), dan berikutnya keluasan cakupan kegiatan serta dampak kegiatannya.      Ia juga mengatakan bahwa, dirinya tidak akan memaksa anak-anaknya untuk mengikuti jejak kariernya, namun memberi kebebasan untuk memilih profesi yang disukai oleh mereka, karena mereka sendirilah yang akan menjalani profesi yang dipilih.

Untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi, Denie selalu berupaya untuk berbuat yang terbaik, serta berjuang untuk jujur dan bertanggungjawab.

Penggemar warna coklat ini juga mengatakan, perkembangan ilmu pengetahuan dalam satu dekade terakhir sangat luar biasa, sangat cepat dan sulit diprediksi, termasuk di bidang peternakan dan bisnis domba.  Indikatornya adalah, perkembangan IT yang sangat cepat. “Indonesia seharusnya mampu memimpin dunia dalam berbagai hal, khususnya untuk bidang peternakan ruminansia kecil (domba), karena sumber pakan untuk domba tersedia sangat berlimpah, serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia maupun basis ekosistem yang sangat luas dan variatif,” pungkas Denie Heriyadi kepada BB. (E-018)***