Ide Dari Repot Memerah Asi, Kini Raup Ratusan Juta Sebulan

28

KETIKA masih bekerja dengan status ibu muda baru punya bayi, Stephanie Tunggal pernah mengalami kerepotan saat harus memompa air susu ibu (ASI) di tempat kerja. Apalagi, kantornya tidak punya ruang khusus untuk memerah ASI.

Walhasil, perempuan kelahiran Bogor, 26 September 1985,  ini terpaksa memompa ASI di ruangan untuk telepon. Yang menjadi masalah: pintu ruang itu tidak bisa dikunci. “Jadi, saya was-was banget selama pumping,” kata dia.

Sejatinya, kerepotan Stephanie bisa sedikit berkurang dengan menggunakan pakaian khusus menyusui. Cuma masalahnya, ketika itu tidak mudah menemukan baju menyusui yang cocok buat dipakai untuk bekerja. Kalau pun ada, harganya terbilang mahal.

Berangkat dari kerepotan itu, muncul ide untuk membuat usaha baju menyusui. Tapi, dia baru merealisasikannya dua tahun kemudian. Ia mulai merintis bisnis itu dengan merek dagang Maternel di 2017.

Dalam tempo dua tahun, usaha Stephanie berkembang cukup pesat. Saat ini, saban bulan, produksinya berkisar 2.500 potong. Dengan harga jual mulai Rp 169.000 per potong, ia bisa mengantongi omzet sebesar Rp 350 juta sebulan.

Dan sebetulnya, keinginan menjadi pengusaha sudah muncul dalam benak Stephanie saat bekerja di Google Asia Pasifik di Singapura pada 2012 silam. “Saya menyadari, sebagai karyawan, sekalipun bekerja di Google, perusahaan nomor satu dunia, tetap ada keterbatasan,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, ini.

Tambah lagi, saat di Google, dia bekerja di bagian iklan usaha kecil dan menengah. “Saya seperti konsultan, ini yang membuat saya tahu dunia digital seperti apa. Jadi, sedikit banyak saya tahu bagaimana caranya dapat pelanggan di dunia digital,” imbuhnya.

Stephanie akhirnya mewujudkan keinginan menjadi pengusaha setelah tidak lulus masa percobaan tiga bulan saat bekerja di Tourism New Zealand pada Mei 2017. Pemecatan ini membuat ia terguncang.

Lantaran di saat yang sama pengasuh anaknya mengundurkan diri, Stephanie memutuskan untuk menjadi ibu rumahtangga. Cuma, lantaran terbiasa bekerja, selama 10 tahun, baru dua minggu dia tak betah terus menerus ada di rumah. “Saya langsung saja kerjakan mimpi saya jadi entrepreneur baju menyusui,” ujar pemilik gelar Master of Business Administration (MBA) bidang Bisnis Internasional dari Université de Rennes 1, Prancis, ini.

Berkat influencer

Stephanie mengawali usaha itu dengan keliling mencari bahan yang pas untuk baju menyusui. Karena masih belum punya baby sitter, ia pun menitipkan sang anak ke tempat penitipan anak (daycare).

Yang paling susah adalah mencari konveksi yang tepat. Setelah berselancar di dunia maya, Stephanie ketemu sebuah konveksi yang menyanggupi membuat baju menyusui sesuai desain bikinannya.

Cuma, hasilnya tidak sesuai ekspektasi. “Hancur, parah, enggak bisa dipakai. Dia bilang, mau direvisi tapi enggak direvisi-revisi. Padahal, untuk bikin sample itu, saya bayar,” katanya.

Tapi, akhirnya ia mendapatkan konveksi di daerah Tangerang yang cocok. Hanya, setelah melewati beberapa revisi saat pembuatan sampel baju menyusui, begitu akan masuk produksi, pemilik konveksi mensyaratkan angka minimal tiga lusin.

Bagi Stephanie yang baru pertama kali berbisnis, jumlah itu amat banyak. “Saya enggak punya mentor bisnis, enggak punya saudara ataupun keluarga yang berbisnis. Jadi, saya melakukan sendiri,” jelasnya.

Lantaran sudah bertekad, dia jalan terus. Dengan modal awal tidak sampai Rp 5 juta, untuk beli bahan, ongkos produksi, dan bikin situs sederhana, Stephanie resmi menggulirkan usaha baju menyusui.

Namun, ia masih main aman, Stephanie membuat baju menyusui dengan model kebanyakan berbahan batik. Dia pun masih menjual lewat Instagram. “Ada, sih, yang beli, tapi paling satu saja,” ungkapnya.

Lalu, atas saran temannya, Stephanie menggunakan jasa influencer alias orang-orang yang punya pengikut banyak di media sosial dan pengaruh yang kuat terhadap followers-nya. Sebab, kata sang teman, model baju batik menyusui buatannya sebetulnya bagus, tapi pemasarannya masih kurang.

Ia pun menggunakan beberapa artis, seperti Raya Kohandi dan Alice Norin. Dan, keputusannya enggak salah. Penjualannya mulai meningkat.

Kemudian, Stephanie mengeluarkan model baru. Namanya: Sabrine Nursing Dress. Sebenarnya, ia sempat meminta konveksi lain untuk membuatnya tapi ditolak. Dengan alasan, desainnya rumit. Alhasil, dia menyerahkan produksi ke konveksi awal di Tangerang.

Lantaran bentuknya tak seperti baju menyusui yang sudah ada, Sabrine Nursing Dress laku keras. Tambah lagi, ia menggunakan artis Sandra Dewi, dan Chelsea Olivia sebagai model. “Ini jadi titik tolak Maternel. Saya sampai restock berkali-kali,” sebutnya.

Oh, iya, nama Maternel berasal dari bahasa Prancis de la mère yang berarti keibuan. “Karena kita lidah Indonesia, jadi namanya saya ubah jadi Maternel,” beber Stephanie.

Sejak itu pula, dia mulai mengetahui strategi pemasaran yang lebih menggigit. Menurutnya, para ibu menyusui enggak terlalu percaya dengan iklan.

“Mereka lebih percaya sama ibu-ibu lainnya yang juga menyusui seperti para artis yang menjadi influencer saya. Oleh karena itu, sampai sekarang saya aktif mencari terus artis yang baru melahirkan sebagai influencer,” ujarnya.

Masih online

Tapi sebetulnya, Stephanie sempat menjalankan bisnis sambil bekerja. Tiga bulan merintis usaha baju menyusui, ia mendapat tawaran bekerja dari mantan bosnya sebagai manajer di sebuah perusahaan periklanan. Gajinya: dua digit.

Dia menerima tawaran tersebut karena penjualan Maternel ketika itu belum banyak, baru 100 potong per bulan. Tetapi, ia mulai kewalahan setelah menggunakan Chelsea Olivia yang baru melahirkan sebagai influencer.

Order membeludak lantaran bertepatan dengan momen Natal. Maklum, baju menyusui buatannya juga cocok digunakan untuk berbagai acara termasuk pesta Natal.

Akhirnya, Stephanie mempekerjakan kakaknya yang seorang ibu rumahtangga untuk urusan pengemasan. Sebelumnya, ia mengurus bisnis seorang diri, mulai produksi, pemasaran, hingga pengemasan.

Cuma, seiring angka penjualan yang terus mendaki, hingga 1.000 potong per bulan, dia memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tambah lagi, kakaknya hamil sehingga tidak bisa lagi bekerja untuknya. “Sebelum Lebaran tahun lalu, saya pun resign,” katanya.

Pertimbangan lainnya, sambil bekerja saja penjualan Maternel bisa 1.000 potong, apalagi kalau fokus ke usaha baju menyusuinya. “Kan, bisa lebih banyak lagi,” ucap Stephanie.

Awalnya, dia masih menjalankan usahanya di rumah. Tapi, sejalan dengan penjualan yang terus naik, ia pun menyewa sebuah tempat dan merekrut karyawan sebagai administrator dan pengemasan.

Bisnisnya pun berjalan kian cepat. Penjualan yang masih 100% lewat kanal online menembus 2.000 potong per bulan. Pada Oktober 2018, Stephanie kembali menyewa sebuah kios. “Tapi, kami mau pindah Juli nanti, sudah dapat sebuah rumah lebih besar, jadi bisa punya tim banyak,” sebutnya.

Selain lewat situs Maternel, dia menjual produknya di marketplace, seperti Shopee dan Tokopedia, serta media sosial, semisal Instagram. Sejauh ini, ia belum berencana buka toko offline. “Untuk website, nanti ada sistem pembayaran baru dengan kartu kredit,” tambah Stephanie yang baru menjalin kongsi dengan penyedia payment gateway Midtrans.

Sementara urusan produksi, ia masih menyerahkan pembuatan baju menyusui kepada dua mitra konveksi yang berlokasi di Tangerang. Salah satunya pernah berpartner dengan butik online Berrybenka.

Stephanie pernah terpikir untuk mendirikan konveksi sendiri. Tapi, setelah melihat pengalaman temannya yang seorang desainer, ia pun membuang jauh-jauh dulu pikiran untuk punya rumah produksi. “Teman saya pusing mengelola sumber daya manusia (SDM), penjahitnya,” katanya.

Untuk rencana ke depan, selain pindah kantor dan menambah kanal pembayaran di situs, dia tentu akan terus mengeluarkan model baru. Saat ini, koleksi baju menyusuinya adalah dress, atasan, gaun pesta, dan hijab. “Bikin model baru seminggu sekali,” ujarnya. (C-003/BBS)***