Kisah Sukses Mengembangkan Tas Pintar

163

KEHIDUPAN di perkotaan yang dinamis, membuat mobilitas para pekerja urban menjadi cukup tinggi. Aktivitas yang mobile ini membuat kebutuhan akan tempat penyimpanan barang atau tas juga ikut meningkat.

Di era modern seperti saat ini, tas tak lagi hanya sebagai tempat penyimpanan barang, tetapi bisa lebih multifungsi. Maka, tak heran bila produk tas terus berinovasi memenuhi keinginan sekaligus kebutuhan penggunanya.

Salah satunya produk tas kekinian yang tengah digandrungi oleh kalangan generasi milenial adalah tas pintar. Ini adalah tas yang dilengkapi dengan fitur teknologi, seperti tempat pengisian baterai ponsel atau charging port dan USB slot.

Tas seperti ini, dilengkapi dengan fitur teknologi yang biasa disebut dengan tas pintar atau smart bag. Kebutuhan akan smart bag bagi masyarakat urban inilah yang menginspirasi Robbi Ibadi, Founder King Smith menggarap peluang bisnis ini sejak tahun 2017.

“Saya lihat smart bag model backpack atau tas ransel yang beredar di sini berasal dari luar negeri. Setahu saya, waktu itu belum ada merek lokal yang menggarap peluang ini,” ungkap Robbi saat ditemui wartawan dalam acara peluncuran The Big Start season 4 di kawasan Senayan Jakarta belum lama ini.

Inspirasi membuat smart backpack merek King Smith tak hanya berasal dari kebutuhan. Robbi mengaku hobi mengoleksi berbagai jenis tas sejak lama. Tuntutan kerja dengan mobilitas tinggi membuat pria berambut cepak ini membutuhkan tas yang multifungsi.

Dia menyatakan, gaya hidup masyarakat sudah berubah. “Saat ini, banyak orang tidak bisa lepas dari perangkat gawai. Proses pembayaran juga mulai berubah menjadi cashless yang menggunakan ponsel. Produk tas kami berusaha untuk menjawab kebutuhan tersebut,” jelasnya.

Robbi menyebut tas pintar harus memenuhi tiga karakteristik yang dibutuhkan, yakni daya tahan, ruang, dan fitur yang membedakan dengan tas biasa. Bila tas biasa hanya menyediakan daya tahan dan ruang, maka sisi fitur jadi kelebihan dari tas yang dijualnya saat ini.

Tas pintar produksi King Smith dilengkapi dengan tiga fitur, yakni USB slot untuk mengisi daya ponsel pintar, bahan anti air, dan teknologi panel surya. Saat ini ada 10 model tas yang telah dirilis King Smith.

Untuk smart bag berukuran kecil dibanderol mulai Rp 150.000 sampai dengan Rp 220.000 per buah. Sedangkan smart bag berukuran besar berbentuk ransel dibanderol mulai Rp 250.000 sampai Rp 600.000 per buah tergantung model dan bentuk. “Penjualan bisa melalui internet atau online maupun offline. Untuk offline, produk kami sudah masuk di beberapa toko buku Gramedia. Kalau produksi King Smith sendiri ada di Rawamangun, Jakarta Timur,” kata Robbi.

Menurut penuturannya, kapasitas produksi King Smith mencapai sekitar 1.000–2.000 unit tas per bulan. Adapun daya serap pasar di seluruh Indonesia mencapai 30%–40%.

Menciptakan terobosan baru di bidang fesyen di Tanah Air, khususnya tas tidaklah mudah. Selama ini kebanyakan perputaran fesyen untuk produk tas hanya berkutat di urusan model, motif, ukuran dan bahan yang digunakan saja.

Saat ini, jarang ada tas yang dimodifikasi dengan teknologi terkini, khususnya tas yang multifungsi dengan kebutuhan hidup. Tas model seperti ini menjadi mudah diterima pasar lokal, karena fungsional sekaligus modis.

Tantangan inilah yang ingin di jawab oleh Robbi Ibadi, Founder King Smith. Ia pun mulai memroduksi beragam produk tas pintar atau disebut smart bag. Bahkan King Smith bisa dibilang, sebagai perintis produk tas pintar di pasar domestik.

Meski menjadi perintis, Robbi menceritakan proses membangun produk tas serbaguna ini tidaklah mudah. Ia mengklaim membutuhkan waktu sekitar setengah tahun untuk melakukan riset mengenai banyak hal tentang tas pintar. “Bagi saya, fitur yang cukup menantang untuk diwujudkan di tas pintar adalah solar panel,” katanya.

Selain keseruan membuat desain Robbi juga tertantang mencari bahan baku, misalnya saat harus mendapatkan bahan baku panel surya untuk tas. Maklum. bahan baku panel surya saja masih terbatas jenisnya, di pasar dalam negeri. “Jadi kami mengambil dari luar negeri. Dan produksinya untuk fitur solar panel juga terbatas, atau limited edition,” jelasnya.

Tantangan lain yang harus ia pecahkan adalah mendesain tas yang tidak hanya fungsional tapi tetap mengikuti tren yang naik daun.

Membaca tren desain tas ini yang cukup sulit, lantaran Robbi tidak memiliki latar belakang desain sama sekali. Sebelumnya ia bekerja menjadi pegawai BUMN yang bergelut dengan rutinitas.

Mengetahui kekurangannya ini, Robbi lantas memutuskan belajar desain pada seorang teman yang sudah berpengalaman. Ia juga mengasah kemampuan desainnya secara autodidak.

Layaknya pemain baru di dunia bisnis, pada awal beroperasi Robbi juga mengalami masalah keterbatasan permodalan. Untuk mewujudkan smart backpack King Smith, ia butuh modal cukup besar, mengingat bahan baku yang dia gunakan cukup sulit ditemukan di dalam negeri alias impor.

Akhirnya, pria kelahiran 1988 ini merogoh kocek sekitar Rp 10 juta untuk membuat purwarupa tas pintar. Kemudian, hasil purwarupa itu ia presentasikan ke calon investor. Ia sengaja membuat produk contoh terlebih dahulu dan tidak langsung memproduksi dalam jumlah besar. “Saya mencoba presentasi ke beberapa department store dan investor,” katanya.

Dan dari investor inilah Robbi mendapatkan tambahan modal.

Inovasi menjadi salah satu kunci penting dalam sebuah bisnis. Tatkala dalam menghadapi ketatnya persaingan dan menjawab titik jenuh pasar. Dan sepertinya hampir mustahil rasanya jika bisnis pada kondisi saat ini bisa berjalan dan bertahan tanpa keberadaan dari sebuah inovasi serta kreativitas.

Inilah yang berlaku bagi Bagi Robbi Ibadi, Founder King Smith, pembuat tas pintar alias multifungsi yang biasa disebut smart bag. Nah, Inovasi menjadi salah satu kekuatan produk tas pintarnya yang bisa untuk ragam kegiatan. Bisa untuk mengisi daya gadget, ada colokan USB, hingga area menyimpan sepatu, termasuk juga wadah untuk laptop.

Kebetulan, awal Robbi membuat tas tersebut ia peruntukan bagi kaum Adam yang kerap kali punya banyak aktivitas saat bepergian. Melihat hasil pasar yang positif, ia pun mulai memperluas pasar. Kali ini dengan menyasar pasar perempuan. Dan empat bulan yang lalu ia merilis merek anyar khusus kaum hawa bernama Queen Smith.

Namun, fitur-fitur yang membuat King Smith berjuluk sebagai tas pintar untuk sementara belum terdapat di Queen Smith. “Karena biasanya perempuan lebih mementingkan model dibanding fitur teknologi. Tapi ke depannya kami juga akan buat smart bag untuk perempuan,” jelasnya kepada wartawan.

Menurut mantan pegawai BUMN ini, selain inovasi, sebuah produk juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan menjadi solusi dari permasalahan. Dalam waktu dekat, King Smith juga akan merilis fitur baru dari tas pintarnya, yakni tas dengan fitur panel surya yang berfungsi untuk mengisi ulang energi dari slot USB yang ada di tas itu.

Belum lama ini, Robbi sudah merilis tipe tas yang punya fitur energi surya tersebut. Namun bentuknya masih berupa tas selempang alias sling bag ukuran kecil yang dibanderol sebesar Rp 350.000. Selain itu, ada juga tas sejenis dengan ukuran yang lebih besar lagi tapi harganya juga lebih mahal lagi yaitu di atas Rp 600.000 per buahnya.

Ke depannya, selain terus melakukan inovasi produk, Robbi juga ingin fokus memperkuat branding. Juara II ajang The Big Start season 3 ini berharap label King Smith bisa lekat di ingatan masyarakat sebagai pelopor smart bag di Indonesia. “Inginnya adalah kalau orang ingat smart bag itu ya ingat King Smith. Makannya, untuk tahun ini saya mau fokus penguatan brand, ujarnya.

Untuk beberapa tahun ke depan, Robbi mengaku ingin fokus menggarap pasar lokal lebih dulu. Ia ingin terus mengedukasi pasar Indonesia soal smart bag. “Soal menambah kapasitas produksi bukan hal sulit. Kalau permintaan pasar naik otomatis kapasitas produksinya ikut naik,” tuturnya. (C-003/Bbs)***