Karet Sebagai Penghasil Devisa Perkebunan Rakyat Produktivitasnya Rendah

129

BISNIS BANDUNG — Guru Besar Emirtus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof.Dr.Ir.Maman Haeruman K. MSc mengatakan , produksi dan pemanfaatan serta luas areal penanaman karet di Indonesia cenderung meningkat. Namun sektor perkebunan ini masih terabaikan, padahal merupakan sumber penghasil devisa karena sebagian besar produknya diekspor.

Dikemukakan Maman, saat ini Indonesia dan Malaysia menjadi  penghasil karet terbesar di Asia Tenggara. Luas areal tanam, perkebunan rakyat pada tahun 1970 seluas 1,8 juta hektar , pada  tahun 2015 meningkat menjadi 3 juta hektar lebih. Kemudian, perkebunan besar negara dari 223.000 hektar menjadi  230.000 hektar, perkebunan besar swasta dari 280.000 hektar menjadi 325.000 hektar . Kalau dilihat dari komposisi luasannya,menurut Maman, perkebunan karet rakyat mencapai 84,94%, perkebunan besar swasta 8,71% dan perkebunan negara 6,36%. Jadi tanaman karet dominannya adalah perkebunan rakyat. ”Tapi kalau dilihat produktivitasnya dalam tahun 2015, produktivitas tertinggi dicapai oleh perkebunan swasta, yaitu 1471 kilogram/hektar, diikuti perkebunan negara 1433,4 kilogram/hektar dan perkebunan rakyat hanya 972,97 kilogram/hektar,” ujar Maman seraya menjelaskan , rendahnya produktivitas karet rakyat karena karet yang dikembangkan kebanyakan “Seedling”, bibit tanaman yang berasal dari biji karet yang produktivitasnya rendah. Berbeda dengan yang dikembangkan di perkebunan besar negara/swasta, hampir seluruhnya “clooning”, seragam dan produktivitasnya tinggi.

Menyinggung perkebunan karet di Jawa Barat , Maman Haeruman menyebut, di Jawa Barat areal tanaman karet  meningkat seperti  pada tahun 2015 – 2016 dari 61.000 hektar menjadi 62.000 hektar , tapi tahun 2017 anjlok hanya tersisa 37.915 hektar karena  tergerus perkembangan  industri dan infrastruktur, menyebabkan alih fungsi lahan perkebunan karet tidak terhindarkan. Sedangkan upaya tehnik budidaya tanaman karet di tingkat petani dengan bimbingan Dinas Perkebunan masih sangat kurang. ”Ini terjadi akibat prioritas kebijakan pertanian bias pangan, sektor perkebunan terabaikan. Padahal harus diakui secara jujur bahwa komoditas perkebunan ini sumber penghasilan petani dan penghasil devisa karena sebagian besar produknya ini diekspor,” ungkap Maman, Senin di Bandung. Untuk mengembangkan tanaman karet di Jawa Barat menjadi terlampau mahal karena upaya peningkatan produksi dlakukan bukan melalui ekstensifikasi, tapi melalui intensifikasi,

Sedangkan produksi karet di Indonesia menurut Maman, peningkatannya cukup signifikan. Tahun 1970 produksi nasional mencapai 0.8 juta ton, tahun 2000 meningkat jadi 1.5 juta ton dan tahun 2015 di atas 3.1 juta ton. Sebagian besar hasil karet – “smoked sheet & crumb rubber” diekspor. Nilai ekspor untuk tahun-tahun 1970, tahun 2000 dan 2015 masing-masing senilai $ 185.164, $ 888.623 dan $ 3.699.055.  Dalam tahun 2010 ekspor karet booming mencapai di atas $ 7 juta. Dari gambaran nilai ekspor karet perlu adanya pengembangan industri yang menggunakan bahan baku karet. Substitusi impor barang karet perlu dipertimbangkan untuk menghindari ketergantungan terhadap barang karet impor. Sebab itu pemerintah sebaiknya memberi dorongan kepada msyarakat untuk memanfaatkan produk industri  berbahan baku karet, , padahal karet menjadi tumpuan lebih dari 2,2 juta petani, belum termasuk buruh di pabrik dan perusahaan industri karet yang tersebar di berbagai kota , seperti di Bandung dan Bogor.

Guru Besar Fakultas Pertanian ini menyebut, ada wacana pemerintah untuk melapis jalan dengan karet , sebab aspal  rapuh  terhadap air (hujan). Jadi bila dilapisi karet, jalan aspal seolah  memakai jas ujan, jadi tahan akan air (hujan). Itu sebenarnya ide lama, tapi terealisasi. Padahal bahan baku karet cukup tersedia.

Maman Haeruman berharap, dalam jangka pendek pemerintah harus mendorong masyarakat selain untuk memanfaatkan produk-produk industri karet dalam negeri, juga pemanfaatan untuk infrastruktur jalan, jembatan dan lainnya. Ditegaskan Maman ,industri karet  harus didorong untuk diusahakan oleh pengusaha pribumi, jangan oleh pihak asing.       Dalam konteks industri, apa yang dilakukan oleh tetangga, yakni Malaysia patut dijadikan rujukan. Industri ban yang mereka hasilkan menjadi unggulan dunia. Saingannya adalah yang dihasilkan negara maju yang menggunakan karet sintetik yang harganya mahal. Hal ini menjadi celah yang bisa dimanfaatkan oleh negara penghasil karet alam,seperti Indonesia.”Disini Indonesia harus berinisiatif mengembangkan teknologi pemanfaatan karet alam,”ujar Maman menambahkan. (E-018)***