Meretas Laba Bisnis Dompet Kertas

12

DOMPET atau benda yang biasa digunakan untuk menyimpan uang biasanya dibuat dari kulit dan kain. Meski tak berada di urutan atas piramida fesyen, dompet tetap memiliki peluang bisnis sendiri.

Salah satu yang mampu membaca dompet sebagai potensi bisnis adalah Angga Dewa pemilik Little Big Paper. Uniknya brand asal Bandung ini bukan terbuat dari bahan dompet pada umumnya. Produk Little Big Paper terbuat dari kertas yang biasa dianggap masyarakat sebagai benda yang rapuh dan mudah rusak.Namun, siapa sangka di tangan Angga kertas menjadi suatu kreasi dompet yang diminati, terutama di kalangan anak muda. Mulai menjual produk Little Big Paper pada tahun 2015 kini sudah memiliki lima jenis produk. Diantaranya dompet kecil, dompet panjang, tempat kartu, tas, dan kotak pensil. Untuk saat ini Angga menyebut produk yang dijual komersial barulah dompet.

Angga menceritakan, ide membuat dompet kertas terinspirasi dari produk dompet kertas dari Amerika Serikat (AS) dan Australia. Angga mengaku membeli produk tersebut kemudian berinovasi dari produk ini.

“Karena pola mereka itu kertas dilipat jadi dompet dan pola mereka sudah dipatenkan, saya tak bisa seperti mereka, itu kenapa saya inovasi sendiri buat produk sendiri dan saya patenkan,” tutur Angga.

Bahan baku dompet kertas Little Big Paper memang bukan sepenuhnya dari kertas. Angga mengaku membuatnya dari plastik daur ulang yang membuat dompet kertas bisa tahan air.
Harga produk dompet kertas ini dijual mulai dari Rp 100.000 per buah dan dalam sebulan mampu memproduksi dengan kapasitas 500 buah. Rata-rata sebulan Little Big mampu menerima 100 hingga 300 pesanan dari seluruh Indonesia. “Tak menentu, tapi paling jelek 150 pesanan dan itu di luar pesanan customize,” tambah Angga.

Dari pesanan yang datang saban bulan Little Big mamu menghasilkan sekitar belasan hingga Rp 30 juta.

Little Big saat ini diakui Angga memang baru memasarkan produknya melalui instagram dan website Little Big Paper, serta ada di semua e-commerce serta mengikuti beberapa bazar. Meski semakin banyak yang berminat akan produknya, Angga belum berencana membuka toko offline dari Little Big Paper dalam waktu dekat.

“Rencana ada toko offline, tapi belum dalam waktu ini. Karena kami akan tes pasar lewat kerjasama dengan distro dan lainnya, kalau permintaan mereka bagus baru kami buka toko. Jadi patokannya itu, lihat pasar dulu gimana,” jelas Angga.

Uniknya, Angga menjelaskan sebanyak 40% konsumen merupakan orang yang sama. Dengan kata lain banyak konsumen yang akhirnya menjadi pelanggan. Bahkan, ada satu konsumen yang sudah 20 kali beli dan ada juga yang membeli atas rekomendasi dari teman yang sudah membeli sebelumnya.

Sebagai usaha yang terus dikembangkan, kendala tentunya dirasakan Angga diantaranya adalah edukasi kepada konsumen akan produk kreasi kertas dan distribusi produk. Untuk itu, dia mengaku menggunakan iklan di internet serta sebagai solusi. “Desain kami setiap satu bulan sekali, misal sebulan bisa ada empat desain,” katanya. (C-003/Bbs)***