Akan “Dibubarkan” Smk Yang Kurang Peminat

21

Menanggapi upaya revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK yang digulirkan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Dewi Sartika menyatakan, hanya SMK yang kurang peminat yang akan dibubarkan. Saat ini, hal tersebut sedang membuat kebijakan yang tengah diuji publik oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Dewi Sartika, saat ini, beberapa Dekolah Menengah Kejuruan atau SMK di Jabar, kurang peminatnya. Setidaknya ada 4 ratusan SMK yang muridnya di bawah seratus, enam ratusan SMK muridnya di bawah dua ratus. Bahkan, ada SMK yang setelah tiga tahun tidak ada muridnya. Sekolah tersebutlah yang dalam tanda petik akan dibubarkan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun membuat kebijakan terkait hal tersebut, yang tengah diuji publik. Menurut Dewi, beberapa jurusan seperti teknik komputer jaringan dan bisnis akuntansi sudah mulai tidak diminati masyarakat. Oleh karena itu, pihak SMK harus melihat potensi di lingkungannya, dan bisnis apa yang prospeknya bagus 5 tahun mendatang.

Dewi sartika menambahkan dulu pemerintah menginstruksikan perbandingan antara lulusan SMK dan SMA yaitu 60 berbanding 40. Namun, ternyata jumlah sekolahnya yang menjadi lebih banyak. Industri yang begitu cepat berubah karena revolusi four poin o pun membuat kompetensi sebagian SMK tidak cocok dengan pasar. Dengan begitu, kurikulum, sarana prasarana hingga guru SMK harus direvitalisasi.

Secara simultan pihaknya melakukan pemetaan, SMK mana yang harus didahulukan. Selain itu, pihaknya pun meminta seluruh sekolah mendata pekerjaan aluminya, sehingga terdata dengan baik. SMK pun harus mensertifikasi, mempersiapkan diri dengan karakter, dan memperbaiki bahasa atau literasi lulusannya. Hal tersebut melihat banyaknya pekerja di industri di Subang, Purwakarta, dan Bekasi yang bukan berasal dari Jabar. Dewi menambahkan, pihak Dinas Pendidikan Jabar pun telah menjalin nota kesepahaman dengan setidaknya 9 ratus sekolah, yang tinggal diimplementasikan.

 

Budi Hartati, Bandung Tv.