ILO Soroti “Gap” Pengupahan di Jabar

23
ILO Soroti “Gap” Pengupahan di Jabar

BISNIS BANDUNG–  Pengupahan  buruh  swasta di Jawa Barat bervariasi karena sistem upah  yang  berlaku terdesentralisasi pada kepala daerah.  Ketimpangan upah tersebut mendapat sorotan  perwakilan ILO karena perbedaan terlalu jauh, semisal  upah minimum di Pangandaran Rp 1,6 juta, sedangkan di Karawang Rp 4,2 juta.

“ Pejabat ILO akan membantu menyiapkan usulan pada pemerintah pusat mengenai sistem pengupahan yang relatif lebih baik , sehingga bisa menjaga kualitas ekonomi Jawa Barat jangan sampai terkorbankan. Buruh ikut sejahtera dan investasi tidak ada yang pergi dari provinsi ini,” kata Gubernur  Jabar, Ridwan Kamil di Gedung Sate, Senin (29/7/2019).

Perwakilan ILO yang berkantor di Jakarta, katanya menawarkan usulan agar Indonesia mengelompokkan jenis industri berdasarkan provinsi, lalu daerah masing-masing menawarkan penghitungan sistem kebutuhan layak yang wajar di tiap daerah.

“Misalkan Jabar fokus ke manufaktur, Jateng khusus yang tekstil atau apa, itu harus pusat (yang memutuskan). Sehingga nanti industri tidak terlalu beragam. Perbedaan keragaman industri yang mengakibatkan upahnya itu jomplangnya gak pernah selesai,” katanya.

Ia menyebutkan, lebih dari 140 perusahaan di Jawa Barat  tutup, atau pindah dari wilayahnya gara-gara upah. Hampir semua, alasan penutupan itu berkaitan dengan upah yang tinggi.

Ketua Apindo Jawa Barat Dedy Widjaja membenarkan sistem upah saat ini membuat kinerja usaha tidak efisien. Dia mencontohkan, protes upah setiap tahun lewat unjuk rasa justru sering terjadi di daerah dengan nilai upah yang sudah tinggi seperti di Karawang dan Bekasi. “Daerah dengan upah yang rendah malah hampir tidak pernah unjuk rasa. Mereka mensyukuri ada industri yang datang ke sana,” kata dia.

Rapat bersama ILO tersebut , tutur Dedy, membahas soal pengelompokan jenis industri berdasarkan besaran upahnya di daerah. “Di daerah yang sudah tinggi khususnya untuk padat modal, padat karya disentralkan di tempat-tempat seperti di Majalengka, Pangandaran, Ciamis, Garut, dan sebagainya. Dengan yang namanya zona ini pasti tidak akan terjadi gejolak-gejolak seperti hari ini,” katanya.(B-002)***