Sedikitnya 12 Juta  Anak Balita Perokok Pasif Terancam Kanker

10

BISNIS BANDUNG — Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengungkapkan, perokok pasif secara nasional mencapai 90 juta orang, tragisnya tidak kurang dari 12 juta orang perokok pasif adalah anak berusia 0-4 tahun yang memiliki resiko besar terkena kanker paru-paru

Menurut Tulus , berdasar hasil survey yang dilakukan pada tahun 2013, jumlah perokok pasif anak usia 0-4 tahun (balita) umumnya terpapar asap rokok di ruang tertentu dan dalam rumahnya sendiri. ”Dengan demikian betapa dominannya orang Indonesia yang berstatus sebagai perokok pasif. Faktor risiko perokok pasif terkena kanker paru adalah empat kali lipat, sedangkan perokok aktif adalah 13, 6 kali lipat,” ungkap Tulus.

Oleh sebab itu, YLKI memandang perlu akan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Sangat mendesak, agar semua tempat kerja dan tempat umum sebagai area KTR, tanpa kompromi. Pimpinan dan semua pihak harus mewujudkan area KTR, khususnya di tempat kerja, tempat umum dan angkutan umum. Bahkan sangat mendesak mewujudkan rumah sebagai KTR. Sebab, ucap Tulus ,  merokok dalam rumah sama artinya melakukan KDRT bagi penghuni rumah, karena menyebarkan racun mematikan ke seluruh penghuni rumah. Menghirup udara yang sehat tanpa kontaminan racun asap rokok, adalah hak asasi setiap orang, dimanapun tempatnya.

Dikemukakan  Tulus , saat ini ironisnya banyak kantor pemerintah dan pejabatnya tidak memberikan contoh kepatuhan bahwa secara regulasi tempat kerja adalah area KTR. “Banyak kantor pemerintah yang pimpinan dan stafnya klepas klepus merokok di tempat kerja yang tertutup,” ungkapnya menyitir para perokok di ruag tertutup.

Kini Indonesia  darurat kanker ! Mengingat prevalensi kanker  meningkat menjadi 1.8 % (Riskesdas 2018). Padahal pada Riskesdas 2013, prevalensi kanker di Indonesia hanya 1.4 %. Salah satu pemicu dan pencetus tingginya prevalensi kanker adalah asap rokok. Akankah putra putri terbaik bangsa Indonesia terus bertumbangan oleh penyakit kanker, dan asap rokok menjadi tersangka  utamanya? Dilema ini menjadi bahan pemikiran untuk mengatasinya.

Oleh karena itu, YLKI mendesak pemerintah agar segera membuat “peta kanker” seperti yang dilakukan oleh Pemerintah China pada tahun 1960-an. Peta kanker sangat penting sebagai basis (dasar) pembuatan peta jalan penanggulangan kanker di Indonesia. Sehingga penyakit kanker tidak  mewabah menjadi ancaman pada kesehatan. (E-018)***