Drs. Henry Saragih; Akan Tetap Memperjuangkan Hak Petani

114

Drs. Henry Saragih menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Adiministrasi Negara Universitas Sumatra Utara pada tahun 1988.  Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (1998 – sekarang) dan Ketua Dewan Pengawas Koperasi Petani Indonesia Nasional (2018 – sekarang).  Henry Saragih juga sempat menjabat sebagai Koordinator Umum La Via Campesina, yakni Gerakan Petani Internasional (2004–2013), serta Direktur Yayasan Sintesa Sumatra Utara (1991–1997).

Henry Saragih lahir di Petumbukan, Deli Serdang 11 April 1964, dan istrinya yaitu Mazdalifah (54) juga berprofesi sebagai  pengajar di Universitas Sumatera Utara. Mereka dikaruniai dua anak, yakni Izzah Dienillah Saragih dan Mujahid Widian Saragih.

        Serikat Petani Indonesia (SPI) merupakan sebuah organisasi massa tani yang didirikan tahun 1998 di Asahan, Sumatera Utara.  SPI dirintis oleh Henry Saragih sejak ia masih menjadi mahasiswa yang saat itu aktif dalam kelompok diskusi Sintesa Forum Study, yang mana kemudian pada tahun 1987 bertransformasi menjadi organisasi non profit, dan dinamakan Yayasan Sintesa 1987.  Organisasi ini memfokuskan kinerjanya pada masalah petani serta pembangunan perdesaan dengan segala permasalahannya.

Keterlibatan Yayasan Sintesa terhadap isu petani khususnya konflik agraria, menjadi semakin intens dilakukan tatkala adanya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) di Desa Tangga, Asahan. Selama pembangunan PLTM berlangsung, Henry Saragih dan rekan-rekannya dari Yayasan Sintesa melihat, banyak terjadinya perampasan tanah milik petani oleh perusahaan-perusahaan besar untuk dijadikan kebun kelapa sawit.  Semua ini kemudian mendorong Yayasan Sintesa untuk membantu menyelesaikan kasus-kasus tanah milik petani di sekitar PLTM. Advokasi terhadap kasus-kasus tersebut kemudian berkembang dan menyebar ke wilayah lainnya di Sumatera Utara.

      Pada tahun 1994, Henry Saragih bersama petani mendeklarasikan terbentuknya organisasi Serikat Petani Sumatera Utara, sebagai wadah perjuangan petani yang pada tahun 1998 menjadi bagian dari FSPI.  Henry menyadari, dengan mendirikan organisasi tani, masalah yang harus diselesaikan tidak hanya sebatas kasuistik, namun harus menyelesaikan juga akar masalahnya. Tahun 1990, sambil mengorganisir petani di tingkat desa, Henry Saragih ternyata juga membangun jaringan organisasi tani di tingkat internasional dengan bergabung ke dalam La Via Campesina (organisasi petani internasional).

Henry melihat bahwa, persoalan petani di Indonesia ternyata dialami juga oleh petani di seluruh dunia.  Henry berkomitmen untuk tetap memperjuangkan hak-hak petani, walau tidak sebagai ketua maupun pengurus SPI, karena di dalam AD/ART ada batasan usia sampai umur 55 tahun.   Henry Saragih sudah empat kali terpilih sebagai Ketua.

      Konsistensi Henry Saragih dalam menyuarakan persoalan petani dan masyarakat perdesaan, baik di tingkat nasional maupun di  internasional bersama La Via Campesina sudah banyak dibuktikan melalui forum-forum internasional, seperti menjadi pembicara pada World Food Summit Five Years Later di Roma Italia (2003).  Selain itu, ia juga memberikan pemaparan dalam Sidang Umum PBB tentang Krisis Pangan Global dan Hak Pangan (2009), serta menjadi pembicara pada Konferensi Mother of Earth and Climate Change di Bolivia (2010), serta beberapa yang lainnya.

Henry Saragih juga pernah mendapat beberapa penghargaan, di antaranya, Global Justice Award dari Institute for Global Justice (IGJ) pada tahun 2007, dan ia juga sempat dinobatkan sebagai salah satu dari 50 Penyelamat Planet oleh surat kabar The Guardian, Inggris (2008).  Kemudian, sebagai Defender of Farmers Right oleh Harian The Jakarta Post (2003), serta sebagai tokoh Gerakan Sosial Indonesia oleh Majalah Mingguan GATRA (2010), sekaligus juga sebagai Tokoh Petani yang Paling Berpengaruh di Dunia (SK Harian Kompas tahun 2011).

Menurut Henry Saragih, yang paling menarik adalah, keberhasilan perjuangan Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak Asasi Petani dan Masyarakat yang bekerja di perdesaan, yang disahkan dalam Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat pada bulan Desember tahun 2018.  Disisi lain, sebagai Ketua Umum SPI, Henry sering memiliki kekhawatiran bila tidak bisa konsisten dalam menjalani perjuangan ini.

“Karena, sering ada kebiasaan manusia yang selalu baik di awalnya saja, namun buruk di akhir.  Padahal semua manusia menginginkan akhir yang baik.  Semua itu disebabkan oleh sikap yang tidak konsisten,” tutur Henry.

       Terlepas dari kekurangan dan keberhasilannya, Henry mengakui bahwa, SPI sebagai organisasi tani belum memberikan kontribusi besar bagi pembangunan bangsa.  Namun, SPI memiliki beberapa point yang bisa dilihat dampaknya.  Secara konsepsional, SPI memiliki konsep kedaulatan pangan sebagai alternatif mengatasi persoalan pangan di Indonesia.  SPI juga berhasil memperjuangkan Hak Asasi Petani yang punya manfaat besar bagi masyarakat perdesaan. Melalui kerja organisasi di lapangan dan pendidikan koperasi, SPI bisa mengurangi pengangguran di perdesaan, serta mengurangi kemiskinan dan kelaparan.  Pada awalnya, petani yang tidak memiliki tanah, sekarang dapat memilikinya, dan secara bertahap petani bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari, walaupun dampak ini belum bisa dilihat secara nasional.

        Henry Saragih juga mengatakan, keberpihakan pemerintah kepada petani saat ini sudah lebih banyak terasa, salah satunya bisa dilihat  ketika pemerintah memasukkan cita-cita kedaulatan  pangan dalam RPJMN tahun 2015, dan membagikan 9 juta ha tanah kepada petani melalui program reforma. (E-018)***