Investasi Mulai Menyebar ke Luar Jawa

15

PENANAMAN  modal semester dua tahun ini mengalami tren positif. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta kemarin. Ia optimistis, investasi akan terus mengalir ke negara-negara sedang membangin, seperti Indlonesia. Menurut Sri Mulyani, perkembangan ekonomi global memicu aliran investasi ke Indonesia. Hal itu ditambah pula dengan perkembangan ekonomi domestik yang semakin baik. ”Ini menambah kepercayaan  investor menanamkan modalnya di Indonesia,” kata menteri cerdas asal Lampung itu.

    Kepercayaan investor itu juga tumbuh signifikan dipicu dengan situasi politik yang mengarah ke stabilisasi pascapemilu. Bagaimanapun situasi polituk  berpengaruh sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan lancarnya perdagangan. Penyelenggaraan pemilu serentak yang rekatif aman, mendorong dunia internasional bersimpati terhadap Indonesia. Mereka percaya, modal yang ditanamkan di Indonesia akan aman dan menguntungkan.

     Kuartal dua tahun ini, investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 395,6 triliun, naik 16,4% dibanding tahun lalu. Investasi itu terdiri atas PMA Rp 212,8 T dan sisanya beruipa PMDN.   Kebanyakan bergerak dalam sektor infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi, pembangkit tenaga listrik, dan konstruksi. Investasi itu mampu menyerap tenaga kerja 490.715 orang.Menurut Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal, Thomas Lembong, investasi tumbuh lebih baik dibanding tahun lalu.. Tahun ini investasi dapat tumbuh positif hingga mencapai double digit.

      Sedangkan menurut Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, ada kecenderungan yang cukup menggembirakan, para investor mulai melirik lahan investasinya ke luar Pulau Jawa. Seperti dikutip dari PR Rabu 31/7,  Kepala BKM, Farah Ratnadewi Indriani, mengatakan, investasi di luar Jawa meningkat lebih besar dibandingkan di P. Jawa. Bergesernya investasi ke luar Jawa karena investor melihat, daerah di luar Jawa masih menjanjikan perkembangan lebih luas disbanding P. Jawa. Jumlah penduduk yang relatif lebih kecil dibanding populasi di P. Jawa, tidak menimbulkan masalah.   Masalah yang dihadapi P.Jawa jauh lebih berat disbanding dengan keadaan di luar Jawa. Tenaga kerja yang lebih murah dengan tuntutan yang tidak terlalu banyak, mendorong produkttivitas industri lebih besar.

       Kecenderungan memilih luar Jawa juga dipicu dengan keinginan pemerinrah memindahkan ibukota ke luar Jawa. Bagi kaum investor pemindahan ibukota itu dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di luar Jakarta, kkhususnya, P.Jawa pada umumnya.”Semoga kondisi ini terus dikembangkan untuk mewujudkan keseimbangan pertumbuhan wilayah di Indonesia,” katanya.

        Pertumbuhan industri yang didorong dengan peningkatan investasi, seyogianya didahului dengan peraturan yang lebih memudahkan bagi investor. Mereka juga diberi persyaratan yang tidak terlalu berlebihan. Namun pengawasan harus jauh lebih ketat. Pelaksanaan pembangunan infrastruktur, termasuk pendirian pabrik, harus benar-benar berdasarkan peraturan perundang-undangan.Pembangunan amdal harus menjadi syarat utama agar lahan industri di luar Jawa tidak menjadi pencemar lingkungan yang massif. Investor juiga harus terus dipantau agar tidak membakar hutan untuk lahan industri.

        Persyaratan yang ketat, tidak akan berhasil tanpa pengawasan yang intensif. ***