Prasasti Ciaruteun Melambangkan Raja Pelindung Rakyat

95

Prasasti Ciaruteun atau Prasasti Ciampea ditemukan di tepi Sungai Ciaruteun, tidak jauh dari Sungai Ci Sadane  Bogor. Prasasti tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanagara yang terletak di Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor, sekitar 19 kilometer  barat laut dari Kota Bogor. Tempat ditemukannya prasasti ini berupa bukit  yang diapit oleh tiga sungai ,  Ci Sadane, Ci Anten dan Ci Aruteun. Sampai abad ke-19, tempat ini masih dilaporkan sebagai Pasir Muara yang masuk dalam tanah swasta Tjampéa ( Ciampea,  sekarang wilayah Kecamatan Cibungbulang). Tak jauh dari prasasti ini, masih dalam kawasan Ciaruteun terdapat Prasasti Kebonkopi I.  Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara Parwa 2, Sarga 3 yang menyebutkan bahwa Tarumanagara mempunya Rajamandala (wilayah bawahan) yang dinamai “Pasir Muhara”.

Pada tahun 1863 di Hindia Belanda, sebuah batu besar dengan ukiran aksara purba dilaporkan ditemukan di dekat Tjampea (Ciampea), tak jauh dari Buitenzorg (kini Bogor). Batu berukir itu ditemukan di Kampung Muara di daerah aliran Sungai Ciaruteun, salah satu anak sungai Cisadane. Pada tahun yang sama, Prasasti Ciaruteun dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional) di Batavia. Namun akibat banjir besar pada tahun 1893 batu prasasti ini terhanyutkan beberapa meter ke hilir dan bagian batu yang bertulisan menjadi terbalik posisinya ke bawah. Kemudian pada tahun 1903 prasasti ini dipindahkan ke tempat semula. Kemudian pada tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengangkat dan memindahkan prasasti batu ini agar tidak terulang kembali terseret banjir bandang. Selain itu prasasti ini , kini berada pada bangunan pendopo untuk melindungi prasasti ini dari curah hujan dan cuaca serta tangan- tangan jahil. Replika berupa cetakan resin dari prasasti ini kini disimpan di tiga museum, di Museum Nasional Indonesia dan Museum Sejarah Jakarta di Jakarta dan Museum Sri Baduga di Bandung.

Prasasti Ciaruteun dibuat dari batu kali atau batu alam. Batu ini berbobot delapan ton dan berukuran 200 cm kali 150 cm. Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari empat baris dan pada bagian atas tulisan terdapat pahatan sepasang telapak kaki, gambar umbi dan sulur-suluran (pilin) dan laba-laba.

Tulisan pada prasasti  antara lain :

vikkrantasyavanipat eh

srimatah purnnavarmmanah

tarumanagarendrasya

visnoriva padadvayam

Artinya:

“Inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawarmman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”. (Wikipedia)

Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tempat ditemukannya prasasti tersebut. Hal ini  menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan Dewa Wisnu  dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat. Penggunaan cetakan telapak kaki pada masa itu mungkin dimaksudkan sebagai tanda keaslian, mirip dengan tanda tangan zaman sekarang. Hal ini mungkin juga sebagai tanda kepemilikan atas tanah. (E-001/BBS) ***