Merintis Usaha Mengembangkan Bisnis Kopi

82

BANYAK jalan menuju Roma. Peribahasa tersebut sering mengingatkan kita bahwa banyak cara untuk menuju kesuksesan. Bicara soal cara menggapai kesuksesan, ternyata tak melulu soal ijazah dan nilai bagus. Tak lulus dari bangku kuliah bukan berarti Anda tak bisa menggapai kesuksesan.

Hal tersebut dibuktikan oleh Teuku Dharul Bawadi, pemilik Bawadi Coffee. Pemuda kelahiran Aceh tersebut pernah gagal menamatkan kuliahnya saat semester 6 di masa perkuliahannya. Dari kegagalannya itulah, pria yang akrab disapa Bawadi ini mulai berencana untuk merintis bisnis.

“Saat mau lanjut ke semester 7, saya melihat kawan-kawan hanya mengejar untuk jadi PNS setelah lulus. Sedangkan saya waktu itu berpikir ingin menciptakan lapangan kerja bagi orang lain, jadi saya ingin segera mungkin membuat bisnis,” ungkapnya.

Dalam proses merintis bisnis, Bawadi akhirnya memilih untuk terjun ke industri kopi. Pilihannya tersebut bukanlah tanpa alasan. Komoditas kopi hasil tanah kelahirannya punya potensi besar untuk bisa dikembangkan. Bahkan peluang untuk bisa merambah ke pasar internasional juga terbuka lebar.

Ia mengambil contoh salah satu jenis kopi di daerah asalnya yakni kopi gayo. Jenis kopi ini sudah punya nama dan sering kali memenangkan kontes kopi tingkat internasional. “Jadi kenapa saya tidak menggarap peluang ini karena di Aceh sendiri masih jarang pemain yang menggarap serius peluang bisnis ini,” katanya memberi alasan.

Dengan modal Rp 30 juta hasil tabungan sendiri, Bawadi pun mantap mendirikan Bawadi Coffee pada tahun 2014. Produk unggulan kopi yang ditawarkan yakni kopi jenis arabika asal Gayo, Aceh. Sejak awal mendirikan usaha kopi ini, ia langsung membidik pasar ekspor. Bahkan di awal memasarkan Bawadi Coffee, ia langsung memasarkan ke luar negeri.

“Waktu awal saya memasarkan kopi arabika gayo ke beberapa lokasi di Malaysia dan Singapura. Saya memang memasang target awal kopi Bawadi bisa langsung ke Malaysia,” terangnya.

Produk Bawadi Coffee dijual Rp 15.000 sampai Rp 250.000 tergantung ukuran. Ada kemasan dan ukuran satu kilogram. Kini, Bawadi mengolah sekitar 12 ton–14 ton kopi setiap bulan. Ia bekerjasama dengan 1.840 petani kopi asal Aceh yang saat ini menjadi mitra bisnisnya.

Saat ini, jangkauan pasar ekspor Bawadi Coffee semakin luas. Tercatat sudah ada delapan negara tujuan yakni Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, China, India, Australia, dan Kanada. Dengan hasil tersebut, Bawadi saat ini bisa meraup omzet Rp 600 juta per bulan.

Pengalaman tidak menyenangkan, termasuk pengalaman ditolak selama merintis bisnis tentu pernah dialami oleh sebagian besar pebisnis, tak terkecuali Teuku Dharul Bawadi, pemilik Bawadi Coffee. Ia pernah mengalami beberapa kali penolakan saat menawarkan produk kopi racikannya dari toko ke toko.

Maklum, ia membuat sendiri kopi racikannya. Lantaran kopi besutannya belum punya nama, pemilik warung sering menolak saat produk kopi bikinannya. “Waktu itu banyak yang belum percaya dengan kopi saya karena belum punya nama,” ungkapnya.

Padahal sebelum memasarkan kopi, ia sudah meminta saran dan masukkan dari tetangga dan keluarganya. Ia menceritakan pengalamannya saat pertama kali membuat kopi hasil racikan tangannya. Pria berperawakan tinggi ini tak langsung memasarkan dan menjual produk tersebut. Untuk mendapat berbagai saran dan masukkan, ia memberikan contoh produk kopi hasil racikannya kepada tetangga dan keluarganya.

Setelah mendapatkan berbagai testimoni dari keluarga dan tetangga, barulah Bawadi berani menjual produknya ke pasar. Apalagi responnya saat itu positif. Meski pada saat memasarkan dari toko ke toko mendapat penolakan, ia tak putus asa dan terus gigih menawarkan produknya.

Apalagi sejak awal merintis Bawadi Coffee, Bawadi langsung mengincar pasar mancanegara alias ekspor. Setelah berhasil menembus pasar dalam negeri, ia pun mulai mencoba masuk ke pasar mancanegara. Langkah tersebut bisa dibilang cukup nekat karena pria 30 tahun ini belum pernah menjajaki pasar ekspor sebelumnya.

Namun langkah ini dia buat bukan tanpa alasan. Bawadi yakin produk kopi Indonesia punya peluang besar untuk menembus pasar ekspor. Ia percaya bahwa kopi Nusantara punya kualitas yang tak kalah dengan kopi dari negara lain.

Hanya saja, ia melihat pengembangan potensi bisnis komoditas kopi di Tanah Air belum dimaksimalkan dan belum seimbang antara hulu dan hilir. “Saya langsung masuk pasar ekspor supaya tidak bersaing dengan kompetitor satu negara. Lagipula untuk masuk ke pasar lokal harus punya nama dan dikenal,” tuturnya.

Benar saja. Pertama kali masuk pasar Malaysia dan Singapura, produk Bawadi Coffee langsung mendapatkan respon positif di kedua negara tetangga tersebut dan hingga kini masih terus memasok ke negara itu.

Berkat kegigihan Bawadi mencari celah dan kesempatan, baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Kini, ia bisa mewujudkan mimpinya untuk membuka lapangan kerja bagi orang lain. Bawadi Coffee saat ini memiliki 28 karyawan tetap dan 34 karyawan lepas.

Berdiskusi soal industri kopi di Tanah Air memang tak ada habisnya. Selama dua tahun terakhir kopi menjadi komoditas andalan yang naik daun di Indonesia. Permintaan pasar dalam negeri meningkat pesat. Begitu pula dengan pasar luar negeri yang permintaannya juga terus meningkat.

Lonjakan permintaan ini berarti membuka peluang bagi banyak pelaku usaha. Semakin banyak pelaku usaha yang terjun ke industri kopi Tanah Air, persaingan pun kian ketat.

Kondisi ini dirasakan oleh Teuku Dharul Bawadi, pemilik Bawadi Coffee asal Aceh. Menurut dia, persaingan di pasar dalam negeri saat ini kian ketat. Karena itu ia lebih berani membidik pasar luar negeri alias ekspor.

Hasilnya memang sudah terlihat. Sekitar 30% dari total penjualan Bawadi Coffee berasal dari pasar ekspor. Sisanya baru dari pasar lokal.

Meski sudah menggenggam penjualan dominan di pasar domestik, pemilik Bawadi menyatakan tidak mudah bisa mencapai tahap itu. Padahal, kopi bikinan Bawaldi sudah memakai salah satu kopi terbaik di negeri yakni kopi Gayo.

Selain kualitas produk, ada salah satu hal yang harus dilakukan untuk bisa bersaing di pasar kopi nasional yang semakin ketat, yakni branding atau kekuatan merek. “Branding harus kuat, karena percuma punya barang bagus tapi tidak ada branding bisa membuat produk tidak laku,” katanya.

Untuk memperkuat branding Bawadi Coffee, pria yang hobi travelling ini aktif mengikuti sejumlah pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Bawadi Coffee juga menjadi salah satu UMKM binaan Bank Indonesia (BI). Dengan aktif di sejumlah komunitas UMKM, Bawadi Coffee memiliki peluang untuk dapat memasarkan produknya lebih luas.

Selain branding, Bawadi juga menjelaskan pentingnya memiliki kekhasan atau keunggulan produk yang dijual. “Tiap pengusaha sebaiknya tahu keunggulan produknya karena dari keunggulan itu ada nilai yang bisa kita jual,” katanya.

Bawadi Coffee sendiri ia klaim punya keunggulan pada citarasa kopi, terutama produk kopi luwak jenis Arabica Gayo. Produk inilah yang membuat kopi tersebut bisa menembus pasar ekspor dan mencuri perhatian. Kopi Luwak Arabica Gayo racikan Bawadi Coffee jadi favorit pasar mancanegara karena memiliki rasa fruity dan dihasilkan langsung hewan luwak liar. Harganya pun fantastis, mencapai Rp 1 juta per kilogram. Inilah yang membuat kopi tersebut menembus delapan negara.

Melihat hasil ini, ia tengah menjajaki pengembangan pasar ekspor ke sejumlah negara, seperti Timur Tengah dan Eropa. “Bisa masuk 7 Eleven karena masuk ke 36 negara,” katanya. (C-003/kntn)***