Jadi Pengusaha Sukses Beromzet Miliaran?

24
Jadi Pengusaha Sukses Beromzet Miliaran?

SEPERTI orang Minang kebanyakan yang ingin berwirausaha ketimbang bekerja, Toni Firmansyah pun punya hasrat yang sama. Apalagi, lelaki kelahiran Tapan, Sumatra Barat ini lahir dan besar di tengah keluarga pedagang.

Orangtuanya memiliki toko kelontong. Tak heran, sejak kecil Toni sudah tertarik dengan dunia dagang. “Itulah mungkin yang membentuk pola pikir saya untuk berdagang, menjadi pengusaha,” kata pendiri sekaligus Direktur Utama PT SR12 Herbal Perkasa ini.

Tapi, orangtuanya punya pandangan berbeda. Toni pun dipaksa masuk perguruan tinggi. Meski begitu, cita-citanya menjadi pengusaha tak padam.

Toni pun memilih kuliah di bidang farmasi. Ini atas saran kakaknya, dengan pertimbangan, selulus kuliah Toni bisa buka usaha di bidang obat atau kosmetik.

Walau di awal-awal semester kurang tertarik dengan perkuliahan farmasi, pilihan Toni tidak salah. Kini, Toni menjelma jadi produsen produk herbal dan perawatan kulit dengan mengusung merek SR12.

Omzetnya, dia menolak buka-bukaan. “Intinya, bisa di atas Rp 1 miliar per bulan,” ujar lelaki kelahiran 19 Agustus 1987 ini.

Sebelum merintis usaha herbal dan perawatan kulit, saat masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, Toni berbisnis sarang burung walet. Kebetulan, sang ayah punya usaha ini. Di kampungnya, memang banyak warga yang menjalani usaha sarang walet.

Cuma, Toni mengklaim, dia  orang pertama di kampungnya yang bisa mencuci sarang walet kualitas ekspor. Untuk mendapat kemampuan itu, dia mengikuti pelatihan selama sepekan denga biaya Rp 6 juta.

Tapi, bisnis sarang waletnya hanya berjalan enam bulan. Gara-garanya, harga jual sarang walet anjlok tajam, dari Rp 15 juta per kilogram menjadi hanya Rp 6 juta sekilo.

Toni pun rugi hingga ratusan juta rupiah. “Saya yakin dan sabar saja, bahwa yang namanya bisnis, ya memang seperti ini, tidak bisa langsung cepat kaya,” ucapnya.

Meski merugi, Toni tidak putus asa. Terlebih, saat berbisnis sarang walet, dia dapat kepercayaan untuk mengelola apotek milik tantenya di Jakarta. Di tangannya, apotek yang tadinya buntung, jadi untung.

Dari bisnis apotek itu Toni banyak belajar soal pasar dan pemasaran. Melihat peluang yang masih besar, ia pun berencana membuka cabang. Cuma, “Itu membutuhkan uang besar sekali,” imbuh dia.

Toni pun mencari tambahan modal dengan bergabung sebagai tenaga penjual produk sebuah perusahaan multi-level marketing (MLM) lokal pada 2012. Namun, hanya setahun ia melakoni pekerjaan ini.

Padahal, dia sudah berhasil mengantongi penghasilan Rp 40 juta per bulan. “Saat training MLM, saya ingat kata-kata motivator, bahwa saya harus jadi singa yang besar,” ujarnya.

Bekerja dulu

Selain apotek dan MLM, semasa kuliah, Toni juga jualan beraneka produk secara online melalui aplikasi percakapan instan BBM hingga media sosial Facebook. Sejak itu, Toni sudah mulai menyadari bisnis di internet adalah bisnis masa depan.

Selepas lulus kuliah, Toni tak langsung mewujudkan cita-cita sebagai pengusaha. Dia juga menolak permintaan sang ayah untuk pulang kampung, meneruskan bisnis walet.

Toni memutuskan bekerja sebagai tenaga pemasar di sebuah perusahaan kosmetik. “Perusahaan itu awalnya hanya beromzet puluhan juta rupiah, namun saat saya masuk menjadi miliaran rupiah, karena 80% pembelinya berasal dari jaringan saya,” ungkapnya.

Sang pemilik perusahaan pun memberi kepercayaan kepada Toni untuk membenahi pemasaran dan produk. “Hingga saya bisa dibilang sebagai orang kedua di perusahaan itu setelah pemilik,” tambah dia.

Cuma, lantaran tidak satu visi lagi dengan si pemilik perusahaan, Toni memilih keluar setelah bekerja selama satu setengah tahun. Tapi, “Ini yang justru membuat idealisme saya muncul dan membuat saya yakin bahwa saya harus bikin usaha sendiri,” katanya.

Sejatinya, Toni sudah menjadi pengusaha. Berbekal penghasilannya saat bekerja di perusahaan kosmetik, ia berhasil membeli apotek milik tantenya dan membuka dua cabang.

Tapi akhirnya, dia menutup kedua cabang itu karena regulasi apotek luar biasa ketat. Ditambah lagi, dia ingin fokus merintis bisnis herbal dan perawatan kulit.

Toni menjatuhkan pilihan pada bisnis herbal dan perawatan kulit lantaran saat kuliah dia sudah tertarik pada dunia kosmetik. “Mata kuliah tentang kosmetik yang paling saya suka,” ujar dia.

Terlebih, industri kosmetik di Indonesia tumbuh pesat. Kesadaran masyarakat untuk terus mempercantik diri pun terus meningkat. “Selfie (swafoto) makin tren,” jelasnya.

Lalu, Toni memilih herbal karena banyak masyarakat beralih ke produk-produk yang terbuat dari bahan alami. Dengan bantuan sang istri, ia pun memulai usaha di bidang ini pada 2015. Modal awalnya sekitar Rp 600 juta.

Toni menggunakan dana itu untuk mengembangkan produk. Selama satu tahun setengah, dia dan istri menciptakan formula sekaligus menyiapkan bisnis.

Hasilnya, mereka mengeluarkan lima produk perawatan kulit yang meluncur Oktober 2016, yakni krim wajah malam dan pagi, sabun, pembersih, dan serum wajah. Untuk produksi, ia menyerahkan ke pabrik yang menjadi rekanan.

Merek dagang SR12, Toni comot dari nama apotek miliknya R12. Ia lalu menambahkan “S” menjadi SR12. “Yang artinya, skin care (perawatan kulit),” beber pemilik gelar sarjana farmasi dan apoteker ini.

Untuk pemasaran, Toni merekrut lima tenaga penjual yang dulu bekerja bersamanya di perusahaan kosmetik. “Mereka orang terlatih, jaringannya banyak dan luas,” ujar dia.

Go international

Dalam tempo empat bulan, Toni sudah bisa balik modal. Ia pun terus menambah produk. Kini, jumlahnya lebih dari 60 produk. Seiring permintaan yang terus menanjak, ia pun memutuskan untuk memproduksi sendiri sebagian produk.

Untuk itu, dia membangun tiga pabrik. Satu di daerah Serang, Banten, untuk bahan baku. Dua pabrik lagi di Parung dan Bogor, Jawa Barat, untuk produksi. “Untuk yang di Jawa Barat, satu bangun sendiri senilai Rp 7 miliar dan satu lagi saya beli Rp 10 miliar,” ungkap Toni.

Kedua pabriknya baru bisa memproduksi total 300.000 botol per bulan. Padahal, dengan produk yang lebih dari 60 item, kebutuhannya mencapai 600.000 botol. Maklum, permintaan untuk masing-masing produk sekitar 10.000 botol. Karena itu, dia masih menyerahkan sebagian produksi ke pabrik-pabrik mitra.

Sejauh ini, Toni belum menemui masalah yang terlalu berarti. Satu-satunya problem yang sempat jadi penghalang adalah laporan keuangan.

Awalnya, ia tak menggunakan sistem dan tenaga profesional di bidang keuangan. “Sistem satu per satu saya benahi, hingga akhirnya pada awal 2019 sistemnya lengkap,” katanya.

Seiring bisnis yang semakin membesar, Toni mengerek status usahanya menjadi perseroan terbatas (PT). “Jujur saja, sudah banyak investor yang mau masuk dan menawarkan kerjasama atau investasi ke kami, bahkan ditawar ratusan miliar rupiah. Tapi saya masih belum mau, belum butuh bantuan dari luar,” tegas dia.

Saat ini, SR12 Herbal Perkasa punya dua anak usaha dengan total karyawan 300 orang, termasuk di induk. Anak usaha yang pertama bergerak di bidang manufaktur berupa pabrik di Serang dan Bogor. Anak usaha kedua di bidang distribusi obat tradisional yang mengusung merek lain, bukan SR12.

Toni membentuk anak usaha lantaran ia punya impian besar: membawa SR12 go international. “Indonesia kan surganya tanaman obat, sudah seharusnya saya sebagai seorang farmasi harus berbuat, untuk mulai mengenalkan produk-produk herbal lokal,” ujarnya.

Sebetulnya, produk SR12 sudah merambah luar negeri. Dari sekitar 9.000 mitra penjual, beberapa di antaranya berada di Singapura dan Malaysia.

Untuk mewujudkan impian go international yang lebih luas, Toni berencana menambah satu pabrik lagi. Ia akan membeli sebuah pabrik di Bogor dengan nilai Rp 85 miliar. Dia juga bakal mengakuisisi sebuah perusahaan obat antibiotik tradisional bernilai Rp 110 miliar.

Setelah berhasil mencaplok perusahaan obat itu, Toni akan menjadikannya sebagai sister company, masuk grup SR12. “Jadi, nanti lebih luas lagi bisnis kami. Perusahaan kami masuk ke industri manufaktur di bidang farmasi,” ujarnya.

Mimpi menjadi pengusaha bahkan dengan julukan singa besar, terwujud juga. (C-003/Bbs)***