Masyarakat Lebih Menyukai Daging Segar Program Swasembada Gagal Terus

139
Masyarakat Lebih Menyukai Daging Segar Program Swasembada Gagal Terus

BISNIS BANDUNG —  Masyarakat Indonesia  lebih menyukai daging segar (hot meat) dibandingkan dengan daging beku (frozen meat). Daging segar di produksi oleh RPH di dalam negeri . Daging beku  umumnya diimpor , baik daging sapi maupun kerbau. Sementara di dalam negeri beberapa kali dicanangkan program swasembada daging  mengalami kegagalan.

Menurut  Peneliti Senior Lembaga Kajian Peternakan Indonesia ,  Dr. Ir. Rochadi Tawaf, MS , alasan masyarakat konsumen menyukai daging segar, karena rasa dagingnya lebih terasa dibanding dengan daging beku. Sehingga ada asumsi bahwa daging beku adalah daging yang sudah lama, hingga rasa dagingnya hilang . Karenanya, daging impor hanya digunakan oleh pelaku industri  dan sebagian masyarakat perkotaan. ”Secara kualitas kedua produk ini, daging beku maupun segar tidak berbeda secara signifikan, indikatornya dari kandungan protein  relatif sama,” tutur Rochadi.

Dijelaskan Rochadi , daging sapi lokal berasal dari berbagai jenis sapi, antara lain sapi Bali,  sapi Pasundan, sapi Madura dan sebagainya. Sapi-sapi ini menghasilkan daging yang rendah lemak dan biasanya dipotong pada umur yang relatif tua , karena dihasilkan oleh peternakan rakyat. Mereka menjual sapi jika mereka butuh uang , jadi dijual bukan berdasarkan usianya. Berbeda dengan sapi-sapi impor hasil penggemukan yang dipelihara untuk di potong pada usia jual. Daging sapi impor jenis Brahman cross/BX  , dagingnya  lebih lembut dan empuk. Sapi jenis ini setiap tahun sekitar 400-700.000 ekor di impor oleh para pegusaha feedlot. Dipasar, dua komoditi daging sapi ini  sulit dibedakan, karena ada kebiasaan masyarakat mengolah daging lebih banyak menggunakan bumbu. Misalnya, masakan rendang dengan bumbu khusus dan dimasak berjam-jam. Pola masak seperti ini yang menyebabkan daging apapun tidak ada bedanya setelah jadi masakan. Daging impor (frozen beef)  paling banyak dari Australia, New Zealand, USA dan negera-negara Eropah yang bebas penyakit PMK. Sedangkan daging kerbau (Frozen) berasal dari Inda,

Menurut Rochadi Tawaf, jika merujuk kepada data BPS (2017) konsumsi protein masyarakat Indonesia  sudah tercapai. Kementerian Kesehatan Republik menyebut kecukupan gizi yang dianjurkan adalah  57 gram protein/kapita/hari, secara nasional rata-rata konsumsi protein penduduk Indonesia pada Maret 2017 mencapai  62,20 gram/kapita/hari, sudah berada di atas standar Protein Nasional. Namun,  berdasarkan subsektor peternakan, kontribusi konsumsi protein hewani pada tahun 2015 mencapai 21,8 gram/kapita/hari , lebih tinggi dari yang tersedia 18,23 gram/kapita/hari. Kekurangan inilah yang menjadi tekad pemerintah untuk berswasembada protein hewani.

Protein diperlukan pada anak-anak usia balita bagi pembentukan kesempurnaan sel otak dan pertumbuhannya. Ada standar tingkat konsumsi per-komoditas sumber protein. Daging ruminansia baru tercapai 5,5 gram/kapita/hari (standar 8,6 gram/kapita/hari), daging ungas baru tercapai sebesar 13,0 gram/kap/hari (standar 18,7 gram/kap/hari), telur baru tercapai  19,6 gram/kap/hari (standar 28,8 gram/kap/hari), Susu baru 5,7 gram/kap/hari (standar 6,6 gram/kap/hari).

Menyinggung daya konsumsi kaitannya dengan kemampuan supply demand daging sapi, menurut Rochadi,  secara teoritis dapat diakukan dengan dua hal utama ,yaitu inovasi teknologi dan permodalan.

”Saat ini, supplyer terbesar daging sapi ke Indonesia adalah Australia. Berdasar data Badan Pusat Statistik menunjukkan impor daging sapi dari Negeri Kanguru ini mencapai 85.000 ton atau sekitar 53% dari total impor  160.197 ton dengan nilai impor mencapai US$ 296,3 juta setara Rp 4 triliun dari total nilai impor Rp 7,7 triliun,” ungkap Rochadi Tawaf, baru-baru ini.

Hal itu terjadi karena perilaku konsumen di dalam negeri sangat berbeda dengan di luar negeri yang menyebabkan importasi daging terbesar masuk ke Indonesia. Di dalam negeri konsumen tidak terlalu peduli terhadap berbagai jenis daging.

 Meningkatnya kebutuhan daging sapi di dalam negeri setiap tahun mendorong pemerintah arus impor daging sapi dan sapi bakalan dari luar negeri. Berdasarkan prognosa produksi daging sapi dalam negeri pada 2017 mencapai 354.770 ton sementara kebutuhan daging dalam negeri sebesar 604.968 ton. Kebutuhan daging sapi hanya dapak dipasok dari produksi domestik sebesar 58%, sisanya harus impor.

Dikemukakan Rochadi Tawaf , berdasarkan perjalanan program swasembada daging masa lalu dapat diidentifikasi sebagai berikut : Periode 1995 – 2000  bernama “Swasembada Daging Sapi  on trend” program ini gagal . Program ini  hanya jargon, tidak didukung oleh kebijakan Nasional lintas sektor,  lemahnya  kebijakan operasional dan dana yang tidak mendukung.  Kemudian periode 2000 – 2005 yang disebut  Program “Kecukupan Daging Sapi” gagal juga karena  tidak secara sistematis disusun sebagai program unggulan, tidak ada penetapan target pertahun , tidak ada dukungan dana & SDM untuk  mencapainya, hanya berupa jargon-jargon yang tidak didukung oleh kementrian atau sektor lainnya. Periode 2005 – 2010 disebut program “Percepatan Swasembada Daging Sapi (PSDS)”, program ini pun gagal, walaui sudah memiliki target tahunan yang di susun sistematis. Namun tidak didukung oleh anggaran yang memadai.  Periode 2010 – 2014  disebut sebagai “Swasembada Daging Sapi Dan Kerbau (PSDSK)”, program ini  gagal pula ; walau  terukur dalam blue print PSDSK ada keterkaitan peternak, swasta dan pemerintah , anggaran tersedia, namun belum menjadi suatu gerakan baru.  Menteri Pertanian mengakui bahwa kegagalannya akibat salah hitung.  Periode 2015 – 2019 program swasembada daging terkendala oleh berbagai kebijakan yang tidak konsisten dan berubah-ubah. Dikatakan Rochadi , tampak jelas bahwa kegagalan swasembada daging pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya dukungan kementerian lain, selain terbatasnya dana, data yang tidak akurat , termasuk kebijakan-kebijakan yang kontra produktif , sehingga swasembada ini menjadi tidak realistik.

Berdasarkan roadmap ,  pemerintah menetapkan swasembada akan terjadi tahun 2026, namun itupun menurut Rochadi diragukan keberhasilannya, karena asumsi dasarnya dalam dua tahun ini tidak dipenuhi. ”Misalnya impor bakalan harusnya dalam dua tahun 640.000 ekor, hanya mampu sekitar 6000 ekor,”pungkas Rochadi. (E-018)***