Sukses Setelah 27 Kali Gagal Berbisnis

534
Sukses Setelah 27 Kali Gagal Berbisnis

JADI pengusaha sukses, jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sering kali, sebelum menjadi pebisnis yang berhasil, seseorang harus jatuh bangun merintis usaha terlebih dahulu.

Bukan cuma sekali dua kali bangkrut tapi berkali-kali, bahkan ada yang sampai puluhan kali. Tengok saja kisah Andreas Kurniawan.

Sebelum jadi pengusaha plafon yang sukses dengan omzet miliaran rupiah per tahun, pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah, 10 Januari 1983, ini berulang kali jatuh bangun. “Plafon adalah usaha ke-28 saya. Jadi, ada 27 usaha saya bangkrut,” ujar dia.

Andre, begitu panggilan Andreas Kurniawan, memulai usaha plafon pada 2013 lalu. Ia merupakan distributor sekaligus kontraktor plafon dan panel dinding berbahan polyvinyl chloride (PVC) Shunda Plafon.

Dan sejak 2017, bisnisnya berbentuk perseroan terbatas (PT) dengan mengusung nama PT Atlantis Karya Indonesia dan berkantor di Semarang.

Menjadi seorang pengusaha merupakan mimpi Andre saat bekerja di Jepang sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Adalah guru bahasa Jepangnya yang pertama memercikkan keinginan itu dalam benaknya.

Sang guru berujar, Indonesia adalah negara kaya lantaran memiliki sumber daya manusia (SDM) yang banyak dan sumber daya alam melimpah. “Kekurangan Indonesia adalah mindset SDM-nya masih sedikit yang berpikiran untuk mandiri,” ujar dia menirukan si guru.

Maka, saat pulang ke tanah air pada 2007 setelah bekerja tiga tahun di negeri matahari terbit, dia langsung berbisnis, dengan bergabung jadi anggota sebuah perusahaan multi-level marketing (MLM) yang bergerak di bidang kesehatan.

Bukan tanpa alasan dia mengawali usaha dengan jualan produk kesehatan dari perusahaan MLM. “Orang punya usaha intinya harus bisa menjual. Saya belum punya ilmu ini, maka saya putuskan mendapatkan ilmu pemasaran dari perusahaan MLM itu,” jelas lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) ini.

Lantaran waktu berjualan produk MLM fleksibel, Andre menjajal usaha lain. Kebetulan, saudaranya memproduksi minuman jahe. Ia pun berdagang produk itu dengan keluar masuk pasar dan rumah makan guna bertemu dengan pedagang atau pemilik yang mau menjual kembali minuman jahe.

Bolak-balik kena tipu

Setahun berdagang produk kesehatan MLM dan minuman jahe, Andre kembali mencoba usaha lain. Dengan menggandeng seorang temannya, dia memproduksi tas untuk alat musik, seperti keyboard dan gitar.

Ia keluar modal Rp 125 juta, sebagian dari tabungan hasil kerja di Jepang, dan sisanya pinjam bank dengan menggadaikan sertifikat tanah.

Tapi, setelah dua tahun jualan produk kesehatan MLM, Andre menyetop bisnis itu. Sebab, tujuan utamanya untuk menimba ilmu marketing sudah tercapai, meski penghasilan dari bisnis tersebut cukup bagus.

Di tahun yang sama, dia juga berhenti berdagang minuman jahe gara-gara saudara berhenti produksi. Tambah lagi, ia beberapa kali kena tipu.

“Jualan minuman jahe saja saya sudah kena tipu, produk sudah saya kasih tapi enggak dibayar-bayar,” kenang dia, yang sempat kuliah ekstensi di Jurusan Ilmu Politik Universitas Diponegoro saat melakoni ketiga usaha tersebut tapi tidak lulus.

Tak lama kemudian, ia menutup usaha pembuatan tas alat musik. Lagi-lagi, Andre kena tipu. Yang menipu adalah mitra bisnisnya.

“Semua pesanan dia yang tangani, tapi uangnya tidak pernah masuk ke saya. Tahun kedua bisnis ini jalan, saya putuskan tutup,” kata Andre yang hobi memetik gitar.

Lantaran masih punya utang ke bank, sementara semua tabungannya sudah ludes, dengan berbekal keahliannya, dia memutuskan menjadi guru privat bahasa Jepang. Yang jadi muridnya, antara lain mahasiswa yang berencana studi ke Jepang dan karyawan yang akan bekerja di negeri sakura.

Seiring jumlah murid yang makin banyak, Andre pun membuka tempat kursus pada 2009 dengan mengontrak sebuah rumah di dekat kampus Universitas Diponegoro, Semarang. Ia juga mempekerjakan dua pengajar. Namun, “Awal 2010 saya tutup karena muridnya semakin berkurang,” ujar dia.

Akhir 2010, Andre masuk ke bisnis kayu, bermodal uang hasil pinjaman bank dari menggadaikan aset milik orangtuanya. Ia berani terjun ke bisnis ini karena mendapat pesanan ribuan ton kayu langsung. Setelah keliling Sumatra, dia mendapat pemasok dari Jambi.

Dasar apes, Andre kena tipu lagi. Bisnis berjalan setahun, sang mitra kabur ke Thailand membawa pergi uangnya. “Kerugian mencapai Rp 4 miliar. Saya masuk ke bisnis gede, dan jeblok gede banget,” bebernya.

Sejak itu, hidupnya kacau balau. Sebab, utangnya segunung. Tiap hari, penagih utang silih berganti datang ke rumah. Maklum, ia meminjam uang dari 16 lembaga keuangan.

Berkat dorongan sang istri, Andre bangkit. Dia berjualan apa saja, mulai pakaian, makanan, hingga komputer, sambil mengajar privat bahasa Jepang. Ia juga memberi pelatihan di perusahaan jasa TKI yang mengirim pekerja ke Jepang.

Pada 2012, Andre mendapat tawaran berjualan plafon PVC Shunda Plafon dari mentor bisnisnya. Awalnya, ia menjalani usaha ini bersama seorang mitra. Tapi akhirnya, dia memutuskan untuk jalan sendiri.

Andre jualan lewat internet dengan memanfaatkan kanal-kanal gratis, seperti media sosial Facebook dan situs jual beli OLX. Ia mengibarkan bendera Shunda Plafon Semarang. Untuk itu, dia belajar soal search engine optimization (SEO), dengan ikut pelatihan dan seminar, serta baca buku.

Selama setahun merintis usaha ini, Andre benar-benar melakoninya seorang diri. “Saat ada yang pesan, saya datangi tempatnya, saya ukur, saya gambar, saya belanja barang, lalu saya pasang sendiri. Pulang ke rumah bikin invoice dan saya tagih sendiri,” bebernya.

Dapat proyek besar

Sejalan dengan order yang terus meningkat, Andre mengajukan diri menjadi distributor Shunda Plafon area Semarang. Ia pun mendatangi pemasok utama plafon yang membawahi wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. “Melihat pembelian saya yang tinggi, saya akhirnya ditunjuk jadi distributor Semarang pada 2013,” kisahnya.

Bisnisnya semakin berkembang. Dia lalu menyewa ruko di dekat Rumahsakit Umum Pusat Dr Karyadi pada 2014 untuk dijadikan kantor. Ia mulai mempekerjakan seorang karyawan.

“Sekarang, karyawan tetap saya ada 10 orang, tapi punya banyak tenaga lepas untuk memasang plafon saat ada proyek,” ujarnya yang pada 2014 sempat menawarkan jasa kontraktor properti, namun tutup demi fokus membesarkan bisnis plafon.

Usahanya makin moncer setelah mendapat kontrak besar dari PT Adhi Karya Tbk pada 2015, yang menggarap pabrik Indofood di Semarang. Hebatnya, bukan Andre yang mengajukan penawaran, tapi pihak Adhi Karya yang datang ke kantornya. “Saya enggak tahu bagaimana ceritanya mereka bisa pilih saya,” kata dia.

Sejak mendapat proyek tersebut, Andre mengerek status usahanya menjadi PT. Ini demi menggaet order serupa.

Pada 2017, ia resmi mengibarkan bendera PT Atlantis Karya. Pada tahun yang sama pula, dia membuka dua kantor cabang. Saat itu, omzet per cabang mencapai Rp 750 juta sebulan.

Tapi, karena kurang pengawasan, ada empat karyawannya di kantor cabang yang melakukan korupsi. Nilai totalnya sekitar Rp 1,5 miliar. “Enggak saya proses hukum, saya pecat saja mereka,” kata Andre.

Dari kejadian itu, dia akhirnya menutup dua kantor cabangnya. “Ini jadi pelajaran buat saya, bagaimana mengawasi bisnis dan SDM. Jadi, saya fokuskan di satu kantor dulu saja,” tambahnya.

Ke depan, Andre berencana masuk ke bisnis baja ringan, dengan membangun pabrik sendiri. “Kalau pasang plafon, kan, ada rangkanya yang terbuat dari baja ringan. Sayang ingin produksi itu,” jelas dia.

Sebelum itu, Andre mau mempelajari pasarnya lebih dalam dulu. Ia juga sedang membentuk tim pemasaran yang kuat dengan tajuk Indonesia Global Sinergi (IGS). Tim ini kelak tidak hanya memasarkan baja, tapi juga plafon. Bahkan, area penjualannya bukan cuma di Semarang dan sekitarnya, tapi juga sampai Jakarta.

Andre membuktikan, jatuh berkali-kali tak menghentikan langkahnya mencapai sukses. (C-003/Kntn)***