Pengadilan Tanpa Hakim Man Jasad Diseret ke DCDC Pengadilan Musik

39
Pengadilan Tanpa Hakim Man Jasad Diseret ke Pengadilan Musik

Dengan mengedepankan konsep bermusik idealism, konsistensi dan kematangan musikalitas para personilnya selama 29 tahun sudah tentu patut untuk mendapat perhatian dan apresiasi. Grup Band yang berdiri sejak 1990 di Ujungberung Kota Bandung ini seolah tidak pernah mati, mereka bertahan dan berubah menjadi monster death metal yang tak terkalahkan. Musik yang dimainkan pun bukan berasal dari sebuah genre yang banyak didengar oleh banyak orang, namun berkat Jasad, death metal di Indonesia hadir sebagai genre dengan komunitas pendengar yang besar atau khusus bagi sapaan fansnya lebih dikenal dengan sebutan Pasukan Karuhun.

Jasad yang beranggotakan, Mohamad Rohman (vokal), Yuli Darma ( bass), Ferly Suferli ( gitar), Reduan Purba (gitar ) dan Oki Fadhlan ( drum) dapat dikatakan menjadi formasi terbaik dalam sejarah panjang perjalanan karir mereka di kancah musik death metal. Album demi album  mulai dirilis , antara lain Mini album bertitle C’est La Vie (1996/ bersama Palapa Record), album penuh Witness Of Perfect Torture (2001/ Rottrevore Records), Annihilate The Enemy (2005/ Sevared Records) dan Rebirth of Jatisunda (2013) yang pada album ini Man sang vokalis bereksplorasi pada tema-tema budaya dan sejarah lokal Sunda. Pengadilan Tanpa Hakim Man Jasad Diseret ke Pengadilan Musik

Sehingga, kombinasi mematikan antar generasi old skool death metal dengan suntikan darah segar  semangat modern death metal pun terjadi,  album-album tersebut menjadi amunisi Jasad untuk makin tak terbendung, hingga berhasil merambah ke panggung-panggung kaliber dunia. Maka, hal itu pula lah yang akhirnya menjadi dasar DCDC Pengadilan Musik edisi ke-34 menyeret Jasad untuk diuji ketahanannya dalam mempertanggungjawabkan baik uji kompetensi bermusik dan karya terbaru mereka, selain tentunya mengungkap segala pertanyaan soal album terbaru mereka yang berhubungan dengan angka 5 yang konon isinya hanya 5 lagu dengan jumlah personil berlima serta beberapa filosofi lainnya. Pada episode ini juga menjadi semakin menarik, karena Man ‘Jasad’ yang biasanya duduk di kursi Hakim harus diseret ke kursi panas persidangan, sehingga yang menggantikan adalah dari Jaksa Penuntut Umum Budi Dalton meskipun tetap sebagai JPU yang didampingi Pidi Baiq serta pembela Yoga PHB & Rully Cikapundung .

Jalan persidangan dipandu  oleh Edi Brokoli sekaligus sebagai panitera. Sehingga membuat DCDC Pengadilan Musik pada pertengahan Juli 2019 lalu di Kantinnasion Rumah The Panas Dalam, menjadi semarak dan kocak.

Nesa Marieta selaku perwakilan dari Brand Djarum Coklat mengatakan, bahwa DCDC Pengadilan Musik , uniknya Pengadilan Musik kali ini tanpa hakim karena hakimnya jadi terdakwa. ”Hal serupa itu sengaja dikemas untuk mencari suasana baru dan program ini sendiri secara rutin akan mengundang dan mengkaji materi-materi terbaru dari band-band independen tanah air yang aktif dalam membuat karya” ujar Nesa.Pengadilan Tanpa Hakim Man Jasad Diseret ke Pengadilan Musik

Sementara itu, Edi Brokoli selaku Panitera DCDC Pengadilan Musik, menambahkan bahwa kali ini menjadi istimewa karena Hakimnya menjadi terdakwa.  Man Jasad  selama 33 episode sebelumnya dan pada episode 34 Man Jasad jadi hakim , kini mau ngak mau harus duduk di kursi terdakwa bersama bandnya. Edi menyebutkan, ketika menjadi panitera pengadilan musik, suka terus ya, Jaksanya juga culangung, intinya bagian yang paling terberat bagi panitera adalah menstabilkan suasana persidangan, ketika bahan candaannya sudah keluar topik persidangan & hakimnya pun tidak bisa apa-apa. (E- 009)