Erlin Resiana. Hijrah Menjadi Pelaku Usaha Tanpa Riba

360
Erlin Resiana Hijrah Menjadi Pelaku Usaha Tanpa Riba

Erlin Resiana, CEO – Founder dari “Brandnya Elbrus” yang lahir di Bandung tanggal 3 Agustus 1970 dan anak dari pasangan R. Djojo Somawisastra dan Rosmiati ini, merupakan pengusaha fashion yang cukup terkemuka di Jawa Barat, bahkan di Indonesia, yang tengah berupaya untuk hijrah menjadi ‘Pelaku Usaha Tanpa Riba’.

Istri dari Ir.Muhajir Iqbal ini menuturkan, usaha yang dijalani saat ini bermula dari keinginannya untuk menciptakan pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah sesuai hobinya (design), dan bisa berdampingan dengan passion suami dalam bidang garment.

“Karena  sudah merasa lelah dengan jenis usaha Garment by Order yang harus menepati dead line, maka akhirnya kami ingin menciptakan suatu produk sendiri,  yang merupakan produk retail yang spesifik, dan belum banyak diproduksi orang, yakni produk legging khusus untuk perempuan.  Seiring berjalannya waktu terus berkembang dengan berbagai jenis produk, model dan design, seperti rok, kulot, serta outer batik yang banyak digemari pelanggan,” tutur Erlin di Bandung.

Menurut Erlin, usaha yang ditekuni saat ini berkaitan juga dengan latar belakang pendidikannya, yakni  bidang manajemen.  Untuk design, ia memiliki talenta sesuai hobi dan kemampuannya lewat ide dan kreasi sendiri.  Erlin lebih suka menciptakan sesuatu yang unik, berbeda dari yang lain, memiliki kekhasan sendiri, serta tidak dimiliki oleh competitor lain.

Tempat produksinya berada di wilayah Kabupaten Bandung.  Dalam sebulan, Erlin mampu memproduksi sekitar 1000 – 1500 pieces.  Bahan baku yang digunakannya adalah Spandex cotton yang merupakan bahan baku lokal, karena lebih mudah diperoleh, dan bisa menjadi produk yang benar-benar country of origin Indonesia.  Dalam proses produksinya, pihaknya mempekerjakan 5 orang tenaga kerja, dan bila produksi sedang banyak, akan ditambah sesuai kapasitas produksi.

Segmen pasarnya adalah wanita, dari usia remaja hingga usia 65 tahun, karena wanita lebih banyak membeli produk fashion.  Produknya dijual dengan kisaran harga Rp 250.000 – Rp 350.000 yang dipasarkan secara offline dan online. Untuk off line, ia memiliki counter khusus.  Sedangkan jalur online nya melalui web atau wa, untuk melayani pelanggan / customer yang tidak bisa datang langsung ke counter. “Keunggulan produknya bila dibandingkan dengan produk sejenis yang beredar di pasaran adalah, nyaman dipakai (comfortable) sekaligus fashionable.  Pesaing dalam pemasaran tidak banyak, karena untuk memproduksi fashion seperti ini, dalam satu kali produksi tidak bisa dalam jumlah yang sedikit,” ujar Erlin.

Ibu dari Tasya Urnadin (20) dan  Elbrus (16) ini mengaku, selama menggeluti usaha fashion, ada beragam pengalaman positif dan negatif yang dilalui.  Pengalaman positifnya, setiap menciptakan produk mulai dari legging, rok dan kulot, outer sampai produk batik fashion, selalu digemari customer dan  mereka menjadi pelanggan setia karena nyaman saat dipakai, bahkan mereka rela untuk menunggu produksi yang tengah dibuat. Tidak sedikit customer yang tadinya hanya mencoba satu jenis produk, akhirnya suka semua jenis produk yang ada.  Selain itu ada juga pengalaman negatifnya, yakni  kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang menurun drastis terhadap fashion, sangat menghambat pertumbuhan usaha, walaupun masih bisa bertahan karena kesetiaan pelanggan.

“Saat ini, kami tidak bisa lagi memproduksi dalam jumlah besar seperti dulu, karena harus disesuaikan dengan daya beli masyarakat dan keadaan pasar saat ini,” ungkap Erlin.

Beberapa penghargaan yang berhasil diraih selama menekuni usaha ini sejak tahun 2009 di antaranya, sertifikat dari Menteri Perdagangan, Industri dan Investasi Mesir sebagai peserta Cairo International Fair ke 47 di Cairo – Mesir tahun 2014, juga penghargaan sebagai Penasehat Tim Angklung Masyarakat Sunda – Jawa Barat  (2018) yang  membawa seni Sunda ke mancanegara.

“Ketika itu saya sebagai penasehat sebuah Tim Angklung di Jawa Barat bersama dengan Maulan M. Syuhada sebagai Ketua, dan Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si. sebagai pembina.  Hanya saat ini karena harus mengurus usaha, kegiatan di luar usaha juga dilakukan bersamaan, karena ketika melakukan misi budaya keliling dunia, produk brandnya ‘Elbrus’ menjadi salah satu pendukung dengan tujuan branding, yakni memperkenalkan, memamerkan dan memasarkan produk Indonesia dengan membuka booth brandnya ‘Elbrus’ di setiap festival di negara yang kami kunjungi.  Selain itu sambil melakukan survey pasar di negara mana saja yang produk brand ‘Elbrus’ diminati, terutama pasar Eropa,” tutur Erlin Resiana.

Agar produknya tetap berdaya saing, Erlin terus berupaya melakukan inovasi dan menciptakan produk baru yang tetap diminati dan disukai pasar, agar pelanggannya tetap setia dengan semua jenis produk yang diciptakan.  Disamping itu, ia juga melakukan “maintenance” terhadap pelanggan dengan sepenuh hati memberi pelayanan kepada pelanggan.

“Minat pasar cukup baik, terbukti saat customer membeli, maka mereka akan kembali membeli, bahkan hampir semua customer menjadi pelanggan setia selama bertahun- tahun dan tidak ingin pindah ke  produsen lain.  Setelah merasa nyaman dengan salah satu produk kami, biasanya pelanggan itu akan menanyakan produk yang lain, sehingga akhirnya ia membeli produk kami lebih dari satu,” ucap Erlin.

Menurut penggemar warna hitam, coklat dan putih ini, kepedulian pemerintah terhadap sektor usaha cukup baik, terbukti dengan program pemerintah dalam menciptakan enterpreneur baru agar  semakin baik.

“Harapan saya kepada pemerintah, lakukan pendampingan dan dukungan kepada para pelaku usaha terutama wirausaha baru, tidak hanya dalam menciptakan produk, tetapi juga dalam pendanaan pinjaman yang bebas riba, serta pemasaran produk yang bisa menembus pasar internasional,” pungkas Erlin Resiana. ( E-018)***