Menjaring Laba Bisnis Sewa Boks Pajangan

38
Menjaring Laba Bisnis Sewa Boks Pajangan

ANDA memiliki bisnis dengan penjualan produk yang masih minim? Boleh jadi, jalur pemasaran yang Anda gunakan masih sangat terbatas. Ya, di tengah ketatnya persaingan bisnis seperti sekarang, menjual produk hanya mengandalkan jalur pemasaran secara daring (online) yang sedang tren belumlah cukup.

Maklum, selera dan pola berbelanja orang tidak sama. Bagi sebagian masyarakat perkotaan, berbelanja di mal sudah jadi gaya hidup. Berbagai alasan diungkap, dari mulai tempatnya yang bersih, nyaman dan banyak produk dengan brand yang popular. Di luar itu, meskibelanja online kian tren, namun masih banyak orang lebih yakin berbelanja jika melihat dan menyentuh langsung barang yang akan dibelinya.

Dengan kata lain, sebagian masyarakat masih menyukai pola belanja melalui jalur luring (offline). Hanya saja, menjual produk secaraluring, terutama di mal, membutuhkan biaya tidak sedikit. Anda harus merogoh kocek besar sewa booth atau kios di mal. Jangka waktu sewanya pun tidak bisa hitungan bulan, tapi harus tahunan.

Nah, adanya kebutuhan bagi mereka yang berjualan daring sekaligus luring, namun dengan biaya yang lebih terjangkau , telah membuka ceruk bisnis baru. Kini muncul usaha penyewaan boks pajangan (display box) produk di mal.

Salah satu yang jeli melihat peluang ini adalah Ronny Hadi. Dengan bendera usaha Panda Box, Ronny menyewakan boks pajangan di Tunjungan Plaza, Surabaya, Jawa Timur sejak Maret 2017. Bahkan, Juli 2018, dia melebarkan usahanya dengan menyewakan boks pajangan di Mal Pakuwon, Surabaya.

Luas lahan stan pajangan Panda Box di Tunjungan Plaza sekitar 43 meter persegi (m) yang berisi 300 boks pajangan. Sementara, di Mal Pakuwon luasnya 57 m dan berisi 340 boks.

Panda Box, papar Ronny, menyewakan boks pajangan untuk memfasilitasi para pedagang daring yang ingin menjual produknya secara luring di mal. “Kami melihat peluang usaha. Kalau mau usaha di mal, orang butuh modal dan risikonya besar jika dagangan tidak laku. Dengan sewa boks pajangan, pedagang hanya butuh modal kecil,” ujar pria 37 tahun ini.

Omzet ratusan juta

Menurut dia, risiko menyewa boks pajangan juga terbilang kecil. Ketika dagangannya tidak laku, pedagang bisa langsung mengubah jenis barang yang dijualnya tanpa harus menunggu hingga tahunan sewa kios habis.

“Sewa boks pajangan di kami minimal 1 bulan dan tidak ada batas maksimal. Jika cocok, pedagang bisa ambil kontrak sewa panjang. Tapi biasanya paling lama masa sewanya selama 1 tahun,” imbuh ayah dua anak ini.

Ada beberapa tipe boks yang disewakan Panda Box, yakni wall display, eye display, island display, dan window display. Tarif sewa boks termurah adalah tipe wall display yang dibanderol Rp 330.000 per bulan.

Sedangkan tarif sewa termahal tipe window display yang dipatok Rp 985.000 per bulan. Tipe wall display merupakan boks ukuran terkecil dengan panjang sekitar 40 centimeter (cm) x lebar 45 cm x dan tinggi 40 cm. Sedangkan boks ukuran terbesar tipe window display dengan panjang 45 cm x lebar 40 cm dan tinggi 70 cm.

Namun, menurut Ronny, harga sewa tak tergantung ukuran boks, tapi pada letaknya. Seperti boks tipe window display dibanderol mahal karena posisinya di bagian depan ruangan toko, persis dekat kaca jendela. Adapun posisi tipe wall display menempel di dinding. “Paling laku boks tipe window display, karena posisinya terlihat langsung dari luar toko,” kata dia.

Saat ini, seluruh boks yang berada di Tunjungan Plaza dan Mal Pakuwon sudah penuh disewa penyewa. Kata Ronny, ada sekitar 200 pedagang yang menyewa boks di Panda Box. Bukan hanya dari wilayah Jawa Timur, penyewa Panda Box juga berasal dari sejumlah kota besar lainnya, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Bali, dan Makassar.

Tentu saja, untuk menembus pasar di luar Surabaya, ada sejumlah jurus yang dijalankan Ronny. Salah satunya, bagi penyewa yang menyewa boks dengan jangka waktu 1 tahun akan mendapat bonus sewa gratis selama 3 bulan.

Bukan cuma itu, Ronny jugamenjamin akan mengganti barang dagangan penyewa jika hilang karena dicuri oleh karyawan. Di luar itu, kehilangan barang ditanggung oleh penyewa.

Menurutnya, di Singapura, pemilik setiap boks bertanggung jawab terhadap barang dagangannya masing-masing. “Di sana, tingkat kepercayaannya tinggi. Kalau di Indonesia masih belum bisa. Pihak yang menyewakan boks harus memberikan jaminan supaya penyewa mau bergabung,” ujarnya.

Untuk menggaet penyewa, strategi pemasaran yang diterapkan Ronny adalah rutin berpromosi melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. “Kami juga bergabung bersama komunitas-komunitas pedagang daring,” kata dia.

Dari hasil sewa boks di Tunjungan Plaza saja, rata-rata omzet bisnis yang bisa dipetik Panda Box mencapai Rp 150 juta per bulan. Ini belum termasuk pendapatan dari management fee yang dikenakan Panda Box ke para penyewa. “Management fee sekitar 10% dari total penjualan penyewa. Margin dari bisnis ini bisa 30%,” imbuh Ronny.

Maklumlah, Panda Box juga mempekerjakan pegawai. Saat ini, ada 12 orang karyawan yang bekerja di dua toko Panda Box. Delapan karyawan bertugas sebagai penjaga toko, sisanya bagian adminstrasi, keuangan, dan pemasaran.

Besarnya potensi omzet yang bisa didulang dari bisnis penyewaan boks juga menarik minat Melva Claribel Wijaya untuk terjun ke bisnis ini. Dengan bendera usaha Smart Box, wanita berusia 22 tahun ini mulai menyewakan boks pajangan sejak Februari 2018 di Thamrin Plaza, Medan, Sumatra Utara.

Saat ini, Smart Box menyewakan sekitar 150 boks di toko seluas 20 m yang dijaga tiga karyawan. Andrianto, Supervisor Smart Box, menuturkan, masing-masing boks berukuran sama, yakni panjang 50 cm x lebar 50 cm. Sama seperti konsep Panda Box, Smart Box juga menawarkan boks dengan beragam tipe dan harga sewa.

Menurut Andrianto, harga sewa boks berkisar Rp 550.000 hingga Rp 700.000 per bulan. Penetapan harga ditentukan berdasarkan posisi boks. “Yang paling laku adalah boks yang berada di susunan paling atas dan persis di depan area toko. Minimal kontrak sewa selama 3 bulan dan maksimal 6 bulan,” kata Andrianto.

Dari hasil menyewakan boks, kata Andrianto, Smart Box bisa meraup omzet hingga Rp 120 juta per bulan. Ini sudah termasuk dengan management fee penjualan sebesar 5% per 15 hari atau 10% per bulan. “Pendapatan dari management fee ini untuk bayar bonus karyawan,” tambah Andrianto.

Ditolak manajemen mal

Nah, Anda tertarik menggeluti bisnis sewa boks pajangan? Anda harus siap merogoh kocek dalam-dalam. Pasalnya, menurut Ronny, investasi untuk membuka bisnis ini tidak kecil.

Dia mencontohkan, harga sewa toko untuk tempat boks di Tunjungan Plaza sekitar Rp 650.000 per m per bulan. Dus, setiap tahun, dana investasi yang harus dikeluarkannya untuk biaya sewa lahan toko pajangan ukuran 43 m adalah Rp 335 juta.

Biaya sebesar itu belum termasuk untuk pembuatan boks yang bisa memakan biaya sekitar Rp 200.000 per boks. Lalu, biaya untuk merancang dekorasi ruangan toko, belanja peralatan elektronik penunjang toko, seperti perangkat komputer, air conditioner, dan close circuit television (CCTV).

Selain itu, dana untuk belanja sistem informasi dan teknologi (IT) pendukung sistem aplikasi transaksi penjualan barang di boks pajangan. Penyewa boks bisa melihat transaksi penjualan barang dagangannya secara realtime di perangkat telepon seluler. “Kalau ditotal, biaya investasi untuk bisnis sewa boks bisa lebih dari Rp 700 juta,” papar Ronny.

Bukan hanya biaya investasi, hal lain yang perlu diperhatikan dalam usaha ini adalah kemampuan penyewa. Bagi pedagang yang omzetnya bagus, bukan mustahil mereka bakal memperpanjang masa sewa boks. Sebaliknya, bagi pedagang yang barangnya kurang laku dijual lewat boks, mereka bisa saja menghentikan kontrak sewa. Itu sebabnya, pemilihan segmen bisnis yang dijalankan penyewa perlu diperhatikan.

Anda juga dituntut pandai menawarkan konsep bisnis sewa boks ke manajemen mal. Sebab, menurut Ronny, tidak semua mal bisa menerima konsep bisnis sewa boks ini. Ia mencontohkan pengalamannya ketika akan membuka cabang baru Panda Box di Jakarta. Beberapa bulan lalu, Ronny mencoba masuk ke salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Namun, pihak manajemen mal belum mau menerima tawaran Panda Box. Kami beberapa kali menerima penolakan dari manajemen mal ketika mengajukan sewa tempat. Mereka kuatir bisnis kami mengganggu para pedagang yang menyewa langsung kios-kios di mal. “Selain itu, manajemen mal juga mungkin risih, kami ingin sewa tempat di situ, tapi untuk disewakan lagi,” kata Ronny.

Andrianto menimpali, kendala lain bisnis ini adalah tingkat kunjungan mal. Jika mal yang menjadi tempat bisnis sewa boks itu sepi, hal itu bisa mempengaruhi pendapatan bisnis ini. Kalau mal sepi pengunjung, otomatis penyewa boks juga sedikit. “Jadi, kami harus bisa memilih mal mana yang ramai pengunjungnya, itu yang harus dipilih,” kata dia.

Setelah menentukan lokasi mal, hal lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah item produk yang dijual. Untuk menarik minat penyewa, Anda harus memilah produk apa saja yang layak dipajang di boks.

Contohnya seperti yang diterapkan Panda Box. Item produk yang dijual di boks telah memenuhi ketentuan pemerintah. Di antaranya, produk yang dijual bukan barang ilegal dan telah memenuhi peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan, khususnya produk makanan, minuman, dan kosmetik.

Selesai? Belum. Adrianto menambahkan, karena lokasi sewa boks berada di mal, maka harga produk yang dijual juga harus kompetitif dengan pedagang lainnya. Nah, caranya, Anda harus bisa melobi pihak penyewa untuk memberikan diskon harga produk demi memikat pengunjung toko.

“Kami biasanya meminta penyewa untuk memberikan potongan harga. Setelah disetujui, kami akan mempromosikan produknya di media sosial. Di Smart Box, diskon harga barang bisa sampai 40%,” tuturnya.

Kendati secara bisnis menguntungkan, rupanya bisnis penyewaan boks pajangan di mal memiliki banyak kendala dan rintangan. Salah satu pelaku usaha yang pernah merasakan getirnya menjalankan bisnis sewa boks di mal adalah Christine. Wanita asal Surabaya, Jawa Timur itu, terpaksa harus mengubur impiannya membesarkan usaha sewa boks pajangan yang dirintisnya dengan bendera usaha Mini Box.

Christine berkisah, ia memulai usaha penyewaan boks pajangan pada Oktober 2017 di Delta Plaza, Surabaya. Saat itu, sebenarnya bisnis awal yang jalankan Christine adalah menjual tali sepatu berbahan silikon Kollaces (tanpa ikat) bersama kolega bisnisnya.

Nah, karena bisnis tersebut tidak perlu space besar, Christine merancang toko dengan konsep boks pajangan. Dari situlah awal mulanya Christine mencoba bisnis boks pajangan.

Sayangnya, di dalam perjalanan, justru bisnis tali sepatu silikon yang lebih laku. “Akhirnya bisnis sewa boks saya tutup. Dan kebetulan ada penyewa yang mengambil alih Mini Box,” kata dia.

Saat itu, Mini Box menempati lahan toko seluas 3 meter (m) x 1,5 m. Ada sekitar 33 boks yang disediakan oleh Mini Boks. Sebenarnya, tidak ada masalah dengan bisnis Mini Box. Waktu masih dibuka, ada penyewanya, kok. “Cuma, memang bisnis sepatu saya yang lebih menguntungkan. Tapi, bisa jadi pengaruh dari lokasi mal juga,” beber Christine. Dua mal milik Pakuwon memang lebih ramai dibanding Delta Plaza.

Ronny Hadi, pendiri Panda Box mengatakan, bisnis penyewaan boks pajangan memang tak mudah dijalankan. Apalagi, jika boks yang disediakan justru dimanfaatkan memajang produk yang dijual sendiri. “Di Indonesia itu, ketika ada bisnis baru yang masuk, biasanya akan cepat ditiru. Tapi, mereka belum tentu bisa mengeksekusi bisnisnya, meskipun ada idenya,” kata Ronny.

Hal yang paling sulit untuk dilakukan oleh pebisnis pemula adalah meyakinkan para penyewa untuk menyewa boks yang disediakan. Misalnya, meyakinkan ke banyak orang soal visi dan misi sejak awal bisnis ini dibangun.

“Kita harus ulet menawarkan dan mempresentasikan jasa yang kita jual ke para penyewa. Orang Indonesia ketika dikasih sesuatu yang baru, tidak langsung percaya. Mungkin ada ketakutan dan lain sebagainya. Tapi, di sini tantangannya,” kata Ronny.

Karena itu, ketika awal membangun Panda Box, Ronny rutin mengunjungi calon penyewa ke berbagai tempat di Surabaya. Dalam sehari, ia bisa mempresentasikan jasa yang dijual Panda Box sebanyak 3-4 kali kunjungan.

“Saya terus mengedukasi manfaat dan keunggulan boks pajangan. Pada awal membuka Panda Box, hanya ada 50 orang pedagang yang sewa boks. Tapi setelah tujuh bulan bisnis berjalan, baru mulai penuh penyewa,” tandas Ronny. (C-003/KNTN)***