POLDA JABAR Bekuk Dua Tenaga Kesehatan Selewengkan Dana BPJS

10

Direktorat reserse kriminal khusus, meringkus seorang oknum dokter, dan bendahara RSUD Lembang, lantaran telah melakukan tindak pidana korupsi, penggelapan dana klaim BPJS senilai tujuh miliar rupiah lebih. Aksi keduanya dilakukan mulai dari tahun 2017 hingga september 2018. Uang hasil korupsi tersebut, dibelanjakan sejumlah barang mewah, seperti guci, lemari, tanah, tas dan lain-lain yang nilainya berkisar antara lima puluh juta hingga ratusan juta rupiah.

Tersangka oknum dokter berinisial O-H, dan bendahara berinisial M-S yang keduanya adalah wanita ini, hanya bisa tertunduk penuh malu saat digiring jajaran direktorat reserse kriminal khusus Polda JABAR. Keduanya merupakan otak tindak pidana korupsi dana klaim BPJS, di rumah sakit umum daerah lembang kabupaten bandung barat. O-H dan M-S sengaja tidak menyetorkan dana klaim sebesar sebelas milyar empat ratus tujuh puluh juta lebih, ke kas daerah Kabupaten Bandung Barat. Keduanya justru melakukan korupsi sebesar tujuh miliar tujuh ratus lima belas juta lebih, untuk berfoya-foya. Sementara jumlah dana klaim BPJS yang disetorkan hanya sebesar tiga miliar tujuh ratus dua belas jutaan saja. Uang hasil korupsi mereka, digunakan untuk membeli sejumlah barang mewah, diantaranya beberapa guci antik bernilai puluhan juta, sejumlah tas bermerk, lemari, tanah luas di kota jambi dan masih banyak lagi. Tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh O-H dan M-S ini, sudah berlangsung sejak 2017 hingga september 2018.

KABID Humas Polda Jawa Barat mengatakan, kasus ini terungkap dari bukti setoran tahun 2017 hingga september 2018, yang telah merugikan negara. Setelah dilakukan penelusuran terungkap, telah terjadi tindak pidana korupsi.

Akibat perbuatannya,kedua tersangka dijerat pasal dua, tiga, dan delapan undang-undang nomor 20 tahun 2001, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dengan ancaman dua puluh tahun penjara. Sementara itu, kasus ini sudah dilimpahkan ke pihak Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, untuk dilakuka proses hukum selanjutnya.

Yuwana Kurniawan, Bandung Tv.