Emil tak Khawatir Gerindra Pimpin DPRD Jabar

33

BISNIS BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Ridwan  Kamil  menyikapi positif  mengenai   Partai Gerindra dipastikan bakal menduduki kursi ketua DPRD Jawa Barat setelah mendapat kursi terbanyak dalam Pemilihan Legislatif 2019.

“Perubahan komposisi pimpinan DPRD Jabar  itu dinamis tiap periode.  Setiap lima tahun ada perubahan komposisi menandakan  aspirasi masyarakat   seiring dengan gagasan-gagasan yang mungkin relevan  dengan  ekspektasinya,” ujarnya  kepada wartawan di Gedung Sate  Bandung,  Rabu (14/8/2019).

Menurut Emil sapaan akrabnya  bahwa dinamika politik semacam itu wajar terjadi. Ia pun mengaku telah berkomunikasi secara informal dengan petinggi partai untuk menyamakan visi dan misinya dalam membangun Jawa Barat hingga akhir jabatannya.

“Saya kira wajar saja dan pola politik daerah tak ada istilah koalisi oposisi. Semuanya cair, diberi komunikasi yang memadai, semua kolaboratif membangun Jabar juara di masa depan. Saya juga sudah bertemu dengan pimpinan partai secara informal. Semua menyatakan semangat untuk membangun bersama,” tuturnya.

Ia juga tidak khawatir soal komitmen Partai Gerindra yang akan mengawasi kinerjanya. Sebab mengawasi eksekutif  sudah jadi tugas anggota legislatif. ” Tugas dewan kan penganggaran, pengawasan, dan membuat legislasi. Yang penting semangatnya kebersamaan saja karena pembangunan Jabar bukan untuk orang per orang,” jelasnya.

Diketahui, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat menetapkan Partai Gerindra sebagai peraih kursi terbanyak di DPRD Provinsi Jawa Barat dengan perolehan 25 kursi.  Disusul PKS   sebanyak 21 kursi, PDIP  sebanyak 20 kursi, Partai Golkar  16 Kursi  dan PKB pengusung  Gubernur Jabar  sebanyak 16 kursi.

Sedangkan pengamat politik UPI Karim Suryadi menilai dominasi Gerindra-PKS di DPRD Jabar akan ‘mengancam’ ketenangan pemerintah Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum. Kader-kader Gerindra dan PKS nampaknya akan vokal mengkritisi Pemprov Jabar.

Wajar saja, karena Gerindra-PKS merupakan koalisi pengusung Sudrajat-Ahmad Syaikhu, yang menjadi lawan politik RK-Uu di Pilgub Jabar 2018. Pada kontestasi Pilpres 2019, Gerindra-PKS juga jadi kubu lawan koalisi pengusung RK-Uu.

Menurutnya, ada dua kemungkinan yang terjadi dengan dominasi Gerindra-PKS saat ini. Pertama, Gerindra-PKS akan menunjukkan tajinya dengan mengkritisi pemerintahan atau sebaliknya justru ‘sepakat’ dengan berkompromi.

“Bisa mengkritisi. Tapi sisi lain mengayun pada titik ekstrem di mana kedua kekuatan main mata, mengambil kompromi, lobi-lobi cari aman, meski berseberangan tapi sepakat menjalankan pemerintahan dengan adem ayem,” katanya. (B-002)***