Impor Keramik India Melesat

64

BUKAN hanya film Bollywood, produk keramik India juga membanjiri pasar dalam negeri. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mencatat, impor keramik dari India itu melesat lebih dari 10 kali lipat.

Oleh karena itu, produsen keramik lokal meminta India masuk dalam daftar negara yang dikenai safeguard.

Seharusnya impor dapat dikendalikan lantaran industri dalam negeri bisa menyerap lapangan pekerjaan dan berpotensi mendatangkan devisa.

Namun tanpa kebijakan safeguard, Elisa menilai akan sulit bagi keramik Indonesia bersaing dengan produk lain seperti China, India dan Vietnam.

Tekanan industri keramik memang sudah terasa. Hal itu seperti dialami salah satu pemain keramik, PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk (CAKK).

Cahayaputra melakukan efisiensi produksi agar harga produknya bisa bersaing di pasar.

Industri keramik Indonesia tengah menghadapi banjir impor dari India. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119/PMK.010/2018 mengenai Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan terhadap Impor Produk Ubin Keramik tidak mencatatkan India ke dalam daftar negara yang dikenai safeguard.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Elisa Sinaga bilang, India dan beberapa negara lain tidak dikenai safeguard karena pada saat PMK tersebut diteken, impor keramik dari India masih di bawah 3%.

Pengecualian ini berdasar Peraturan Pemerintah (PP) No 34 tahun 2011 mengenai Tindakan Antidumping Tindakan Imbalan, dan Tindakan Pengamanan Perdagangan, safeguard tidak diberlakukan terhadap barang yang berasal dari negara berkembang yang pangsa impornya tidak melebihi 3% atau secara kumulatif tidak melebihi 9%.

” Sekarang impor dari India naiknya sudah lebih dari 10 kali lipat,” terang Elisa, Jumat (11/8). Ia menyayangkan PMK yang merinci negara mana saja yang dikecualikan dalam safeguard.

Melihat kondisi saat ini, ASAKI mengirimkan surat kepada Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) agar memasukkan India ke dalam daftar negara yang dikenai safeguard.

Elisa melihat kecenderungan kenaikan impor dari India terasa sejak China dikenai safeguard dari Indonesia. Asal tahu saja, semula impor keramik China yang mencapai 60% kini menurun menjadi 30%.

Secara keseluruhan, kata Elisa,impor keramik tidak berkurang karena porsi yang semula didominasi China kini digantikan oleh impor India.

Elisa menyesalkan hal ini, sebab Indonesia masih mampu memproduksi keramiknya. Seharusnya impor dapat dikendalikan, apalagi industri ini bisa menyerap lapangan pekerjaan dan berpotensi mendatangkan devisa.

Tanpa kebijakan safeguard akan sulit bagi keramik Indonesia bersaing dengan produk lain seperti bikinan China, India, Vietnam. Harga produk negara-negara tersebut murah karena industrinya didukung oleh negara melalui berbagai fasilitas produksi.

Melihat kondisi ini, Elisa memperkirakan industri keramik Indonesia akan berat hingga akhir tahun 2019 . Sebabnya, permintaan di dalam negeri belum sepenuhnya pulih, sementara produksi keramik tertekan oleh produk dari luar.

Walupun begitu, Elisa melihat ada upaya-upaya pemerintah untuk memperkuat permintaan keramik dengan mengoptimalkan sektor properti seperti proyek pembangunan perumahan dan penurunan suku bunga.

Sekadar tambahan informasi, selain serbuan impor keramik dari India, impor dari Vietnam tidak kalah membuat waspada. Keduanya kini tengah diajukan untuk segera tercatat ke dalam daftar negara yang dikenai safeguard. (C-003/BBS)***