Cicadas, dari Walikota ke Walikota

61

    TAMPAKNYA Pemerintah Kota Bandung yakin, kawasan Cicadas dapat ditertibkan. Upaya penertiban Cicadas bukan baru sekarang. Hampir setiap pergantian walikota, Cicadas selalu muncul sebagai kawasan yang menantang untuk ditertibkan. Tapi selalu gagal. Hasil kajian walikota yang didorong para ahli, baik ahli tata kota, sosiolog, maupun ekonomi, menyimpulkan, para pedagang kaki lima di Cicadas tidak mungkin ditertibkan, sepanjang Pemkot tidak dapat membangun bangunan khusus untuk menampung mereka. Dibangunlah Pusat Perbelanjaan Cicadas, di Kiaracondong yang tidak terlalu jauh dari simpang Cicadas. Hanya satu dua orang PKL yang mau masuk ke mal itu. Yang lainnya kembali berdagang di trotor.

      Walikota pernah menata PKL Cicadas dengan mendirikan tenda biru sepanjang trotoar. Hasilnya luar biasa Para pedagang merasa gembira dengan keputusan walkot itu.Jumlah pedagang semakin banyak karena merasa diberi fasilitas. Akhirnya semua toko di sepanjang Cicadas dari pertigaan Cikutra ke barat, hampir samopai ke Sukaaman, tertutup tenda PKL. Para pemilik toko tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka pasrah saja, mereka berkomitmen, membiarkan para PKL mengais rezeki, meskipun sering kali menutup pintu toko, menempatkan barang daganannya sering kali menghalangi orang yang akan masuk toko. Bertahun-tahun, PKL dan pemilik toko bersandar pada filsafat, ”rezeki tidak akan ke mana-mana”. Para pembeli dipersilakan memilih, mau membeli barang di kios PKL atau di toko.

      Baru minggu ini, Pemlot Bandung di bawah kepemimpinan H.Oded M. Danial, melirik lagi ke arah Cicadas. Ia berjanji akhir tahun ini, masalah Cicadas akan rampung. Ribuan PKL akan kembali menjadi sasaran penertiban. Mereka belum begitu paham, apa yang harus mereka lakukan dalam penertiban ala Oded itu. Mereka tahu perisis, berdagang di atas trotoar, apalagi menhalangi toko, merupakan pelanggaran. Mereka tahu persis, Pemkot selalu mengimbau mereka agar berdagang tertib sesuai peraturan. Trotoar bukan tempat berjualan. Pemkot membangun trotoar bagi para pejalan kaki. Namun mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Harapan mereka satu-satrunya, Pemkot atau siapa saja jangan sampai melakukan tindakan yang mengganggu kenyamanan mereka berjualan.

      Para PKL Cicadas merasa, mereka merupakan pedagang yang sudah sangat lama berdagang di tempat itu. Rata-rata mereka merupakan generasi ketiga atau keempat yang mendapat warisan orangtuanya berupa tempat berjualan. Banyak di antaranya yang dari tahun 50-an menyandarkan hidupnya di Cicadas, sebagai PKL. Bebagai jenis dagangan di sana tersedia. Dari jam tonjol, asah gunting, sepuh emas, aneka kuliner, sampai barang elektronik, pakaian segala umur, tersebar dalam hiruk-pikuk pejalan kaki. Bahkan dulu (tahun 50-an) perempuan-perempuan penjaja seks juga cukup banyak, tersebar di warung-warung kopi.

      Cicadas merupakan pemilik sejarah kehidupan malam di Kota Bandung. Sejak penduduk Bandung diperbolehkan pulang dari pengungsian, antara tahun 1948-1950, Bandung kembali menjadi kota dengan penduduk yang makin padat. Selain penduduk asli Bandung yang pulang dari pengungsian, banyak pula orang yang sengaja datang ke Bandung. Para urbanisan itu kebanyakan mencari rejeki di Bandung dengan berdagang, baik sebagai pedagang kelililing, pedagang asongan di tersminal dan stasiun, banyak pula yang jadi PKL. Muncullah tempat-tempat keramaian di pusat dan di pinggir kota. Tempat-tempat yang seolah-olah menjadi pasar malam itu antara lain, Tegallega, Stasiun KA Bandung, Jamika, dan Cicadas sebagai pusat keramaian terbesar. Jadilah Cicadas sebnagai tempat terpadat di Bandung. Pasar malam menjadi lengkap dengan adanya gedung bioskop. Ada tiga bioskop yang sel;alau penuh penonton. Salah satunya, Taman Hiburan berupa bioskop terbuka.

       Sekarang setelah lebih dari 70 tahun, Pemkot Bandung kembali melirik Cicadas. Kawasan itu harus beres, bersih, dan tertata dengan baik. Tentu saja warga Bandung setuju dengan tindakan Pemkot itu. Namun kalau dilihat dari sejarahnya, Cicadas sulit ditata. Menyingkirkan PKL dari trotoar, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan pengkajian, urun rembuk para ahli, dan paling utama, kesadaran PKL dan warga Bandung secara bersama-sama menjadikan Kota Bandung kota yang aman, nyaman, tetrtib, bersih, dan indah.***