Golok Ciomas Warisan Budaya Banten

738

Golok atau bedog dalam bahasa Sunda sangat beragam, tiap daerah di Jawa Barat dan Banten memiliki variasi bentuk tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi dan karakteristik masing-masing masyarakat penggunanya.Pada umumnya golok memiliki bilah dengan panjang lebih kurang 30 cm sampai dengan 40 cm, namun ada pula bilah golok yang berukuran pendek atau kurang dari 30 cm. Golok yang memiliki panjang bilah lebih dari 40cm disebut kolewang atau gobang.Golok Sunda dan Banten umumnya memiliki bentuk gagang atau perah yang melengkung dan memiliki ujungnya berbentuk bulat (eluk). Bentuk perah yang agak miring dan melengkung berfungsi agar golok dapat digenggam dengan kuat dan nyaman. Bentuk ujung perah yang bulat berfungsi agar jari kelingking terkait, menahan genggaman tangan agar tidak lepas tergelincir.

Perah kebanyakan dibuat dari bahan kayu dan tanduk kerbau, selain itu juga digunakan tanduk rusa dan tulang hewan sesuai dengan permintaan.Sarung golok disebut sarangka, fungsi utamanya adalah agar golok dapat mudah dan aman untuk dibawa, diselipkan (disoren) dipinggang. Bentuk sarangka mengikuti bentuk bilah di dalamnya, bila bentuk bilah melengkung maka bentuk perah pun dibentuk melengkung.Seperti perah, sarangka  umumnya terbuat dari kayu. Adapula yang terbuat dari kulit hewan, tetapi jarang. Sarangka yang dilengkapi dengan asesoris tambahan berupa gelang-gelang pengikat (simpay) yang terbuat dari tanduk kerbau atau lembaran logam yang disebut dengan barlen.

Berbicara tentang golok tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan kawasan Ciomas,Serang, Provinsi Banten,sudah sejak lama Golok Ciomas dikenal oleh masyarakat luas bahkan hingga ke mancanegara.Golok Ciomas merupakan senjata warisan leluhur yang hanya bisa didapatkan di kawasan Ciomas.Mengapa golok Ciomas begitu termasyur,hal ini dikarenakan dalam proses pembuatannya dibutuhkan ritual khusus serta alat alat khusus yang merupakan warisan turun temurun.Proses pembuatan golok ini hanya dilakukan setiap tanggal 12 Maulud pada penanggalan bulan Islam,tanggal ini bertepatan dengan kelahiran nabi besar Muhammad SAW.Bahan baku berasal dari besi inti asli Ciomas,lokasi besi ini di pondok Kahuru,Bojong Onje.Sedangkan alat tempa menggunakan palu pusaka yang konon merupakan hadiah dari Sultan Hasannudin kepada Ki Cengkuk, leluhur yang pertama kali membuat golok Ciomas,pada masa kerajaan Banten,sedangkan palu pusakanya dinamakan si Denok.

Hal yang menarik dari golok Ciomas adalah kekuatan magis yang diyakini oleh masyarakat bisa melumpuhkan musuh serta apabila terkena sayatannya bekas luka tidak mudah sembuh .Bahkan bila disayatkan ke pohon pisang muda,pohon itu akan membusuk dan mati.Dari segi desain, golok Ciomas bisa dilihat dari identifikasinya, misalnya mamancungan, kembang kacang,salam nunggal dan candung. (E-001) ***