Gedung Sate Menjadi Lokasi Wisata Sejarah dan Budaya

6

SIAPA tak kenal Gedung Sate yang berdiri megah di Kota Bandung. Orang di luar provinsi pun mengenalnya, bahkan tidak sedikit warga asing yang mengaguminya. Rasanya  sangat  tepat jika Gubernur Jawa Barat,  M Ridwan Kamil  bakal  menjadikan Gedung Sate  sebagai  lokasi wisata sejarah dan budaya Indonesia.

Afirmasi  yang disampaikan  Kang Emil, sapaan akrab orang nomor satu di Provinsi Jawa Barat ini tentunya  tidak lepas  dari  bagian untuk  fokus  dalam pembangunan kebudayaan di  Tatar Sunda ini.

“Bagi  masyarakat Kota Bandung dan Jabar pada umumnya, Gedung Sate adalah salah satu ikon kebanggaan.  Oleh sebab itulah  kami mencanangkan gedung di pusat Kota Kembang ini menjadi lokasi wisata,” kata Gubernur Emil seusai menghadiri pameran lukisan dan penyerahan Anugerah Barli 2019 di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin pekan ini.

Sedangkan acara  pameran Anugerah Barli  tersebut  merupakan  bagian dari rencana induk (master plan) Gedung Sate yang akan dijadikan wisata sejarah dan wisata kebudayaan. Dengan demikian,
ajang pameran lukisan Barli menjadi salah satu pembuktian Gedung Sate sebagai lokasi wisata budaya.

Dalam acara  ini  dinding Gedung Sate  dipenuhi lukisan yang menggambarkan sejarah berdirinya Gedung Sate, serta khasanah seni dan budaya dari 27 kabupaten/kota yang ada di Tanah Pasundan.

“Hari ini kita ada pameran dari murid dan jaringan Museum Seni Barli. Ada 150 lukisan, bagus-bagus lukisannya. Mengindikasikan tingginya kebudayaan dan ekspresi kesenian di Jawa Barat,” ujar Emil.

“Gedung Sate ada dua ruang besar, ada galeri barat dan galeri timur. Sesekali boleh (digelar pameran), tidak hanya acara administrasi kepemerintahan, tapi juga bisa jadi lokasi acara galeri berkesenian, seni rupa, dan lain-lain,” katanya.

Pusat kebudayaan

Menurut Emil, kebudayaan akan menjadi salah satu fokus pembangunan Jabar. Pemprov Jabar tengah dan akan membangun pusat kebudayaan di setiap kabupaten/kota di Jawa Barat.

“Sudah kita tekadkan dalam lima tahun semua kota/kabupaten harus punya pusat kebudayaan. Kita akan mengedepankan kebudayaan, karena hidup ini bukan hanya urusan ekonomi. Penting juga kita refleksikan relasi kita terhadap sesama manusia, kepada Tuhan, melalui ekspresi kesenian, khususnya seni rupa,” katanya.

Anugerah Barli sendiri merupakan ajang pameran bersama para perupa Jawa Barat dan peserta kompetisi menggambar (drawing).

Acara pameran digelar dari 19-28 Agustus 2019 di Aula Timur Gedung Sate. Total, ada 91 pelukis dengan 150 lukisan dipamerkan.

Pimpinan Balai Seni Balri, Nakis Barli, mengatakan Anugerah Barli merupakan peristiwa langka bagi Balai Seni Barli.

Pameran lukisan yang digelar juga merupakan representasi hidup yang dimiliki Barli semasa hidup hingga akhir hayatnya.

“Kegiatan ini merupakan peristiwan langka bagi kami, saat Anugerah Barli digelar bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Provinsi Jawa Barat dan masih rangkaian Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang sama-sama menginjak usia ke-74,” kata Nakis yang merupakan istri pelukis (almarhum) Barli Sasmitawinata.(B-002)***