Potensi Binis Perhutanan di  Sini Sangat Potensial

10

BISNIS BANDUNG – Jabar mempunyai  potensi bisnis perhutanan  yang potensial  yang ditunjang  luas hutan yang tergolong besar.  Kondisi tersebut harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat.

Kendati begitu, pemerintah daerah  diminta tetap waspada dengan laju pertumbuhan penduduk yang bisa menjadi ancaman tersendiri bagi luasan hutan yang ada. Sebab, dengan meningkatnya jumlah penduduk, maka ruang untuk tempat tinggal dipastikan akan turut bertambah, bahkan bisa menggeser hutan. Lahan perkotaan yang semakin sempit,  jelas akan berdampak pada penggunaan lahan di dataran yang lebih tinggi.

Hutan yang masuk dalam kategori lahan warga pun perlahan tapi pasti akan tergerus dengan keberadan bangunan. Perkembangan jumlah penduduk, kata dia, mau tak mau konsekuensinya pada pertambahan infrastruktur pemukiman.

“Tentu akan berpengaruh terhadap lingkungan salah satunya hutan,” kata  Yudi Rismajadi, seorang  peneliti Kehutanan dari Universitas Winaya Mukti  (Unwim) dalam acara  Jabar Punya Informasi (Japri) di halaman  Gedung Sate, Jumat (16/8/2019).

Saat ini, kata dia, porsi kawasan hutan di Jawa Barat  masih dalam kategori ideal. Namun, menjamurnya industri di Jawa Barat juga menjadi salah satu perhatian dan tantangan lain untuk menjaga luas lahan hutan di Jawa Barat agar tidak terus terkikis.

“Kan ada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), di sana jelas dicantumkan mana wilayah hutan, mana wilayah industri, mana wilayah pemukiman,” katanya serya menambahkan
kawasan hutan yang ada di Jabar saat ini telah merambah bisnisnya ke sektor wisata.

Bisnis pariwisata

Menurut Kepala Departemen Pengembangan Bisnis Perum Perhutani Divre Jawa Barat (Jabar) dan Banten, Cucu Suparman, perkembangan bisnis hutan ke sektor wisata tersebut cukup menguntungkan.  Apalagi, luas hutan di Jabar cukup luas mencapai 816.603 hektare.

Cucu mengatakan, untuk menjaga agar kawasan yang dipakai untuk bisnis pariwisata tetap baik kondisinya, pengamanan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) serta serjumlah terobosan lain perlu dilakukan.

Upaya ini juga, harus dilakukan untuk menggali kembali potensi wisata hutan lainnya. “Jika potensi itu berhasil dikelola, saya optimistis roda ekonomi masyarakat di sekitar akan berputar semakin cepat,” ujar Cucu saat menjadi pembicara dalam Jabar Punya Informasi (Japri), di Halaman Belakang Gedung Sate, akhir pekan ini.

Menurut Cucu, tren menanjaknya bisnis wisata tidak lepas dari panaroma alam yang indah. Saat ini, sekitar 15 persen pendapatan Perum Perhutani berasal dari wisata hutan. Di antaranya, Kawah putih, kawasan Ciwidey, kawasan Galunggung, Cilember, dan beberapa objek lain, kawasan di Bandung Utara seperti Cikole.

“Ini, potensi luar biasa dikembangkan dari potensi hutan dan kehutanan,” katanya.

Selain itu, kata Cucu, pihaknya tengah mengeksplorasi peluang bisnis perhutanan yang baru, termasuk mencari sumber energi yang terbarukan. Saat ini, Perum Perhutani tengah mengembangkan Biomassa yang merupakan energi kimia dari organisme.

“Salah satunya biomassa, dari jenis tanaman Kaliandra dan Gamal, produk akhirnya di antaranya Wood Pellet,” katanya.

Wood Pellet, kata dia, merupakan bahan bakar pengganti batubara yang dimanfaatkan untuk penghangat ruangan, kompor, dan pengeringan pakaian. Wood Pellet menjadi sumber energi alternatif ramah lingkungan dengan kadar CO2 yang rendah, sehingga menghasilkan pembakaran yang sempurna.

Menurut Kepala Bidang Pengelolaan dan Pemanfaatan Kawasan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Jabar, Budi Mulia, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan hutan, yakni ekologi, sosial budaya, dan ekonomi.  Ketiganya harus tetap seimbang.(B-0002)***