Persoalan Seputar “Kertajati”

117

BANDARA Internasional Jawa Barat (BIJB) “Kertajati” diam-diam masih tetap menyimpan masalah.  Memang bermacam masalah itu tidak sampai mencuat ke permukaan. Diawali dengan “ketersinggungan” para petinggi pemerintahan di Kabupaten Majalengka karena oleh salah sebuah maskapai penerbangan swasta dalam ngeri, pada awalnya disebut-sebut dalamtiket penerbangannya bahwa BIJB “Kertajati” masuk ke dalam wilayah Kabupaten Cirebon.

Tentu saja para petinggi pemerintahan di Kab. Majalengka tersinggung besar. Merasa sangat tidak dihargai, padahal berbagai urusan pendirian BIJB “Kertajati” semata-mata melibatkan Kab. Majalengka.

Konon kabarnya, “Kertajati” (KJT) dimasukkan ke dalam wilayah Kabupatn Cirebon karena Cirebon lebih dikenal penumpang dibanding Majalengka.

Kendati persoalan itu tak sampai berkepanjangan, namun rasa ksal para  pejabar pemeritahan di Kab. Majalengka tentu tak mudah dihilangkan. Agak bisa dipahami jika para petinggi pemerintahan di Kab. Majalengka terkesan acuh tak acuh terhadap perkembangan BIJB “Kertajati”.

Areal bandara itu yang diharapkan bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi rakyat dibiarkan tak ditangani dengan sugguh-sungguh. Ketersinggungan para petinggi pemerintahan di Kab. Majalengka itu disebabkan pula oleh tidak diprioritaskannya warga masyarakat di Kb. Majalengka untuk mengbdikan diri sebagai pegawai di BIJB “Kertajati”.

Padahal berapa banyak warga masyarakat Kab. Majalengka yang harus berkorban untuk pembanguan BIJB “Kertajati” itu. Paling tidak, para petani yang tanahnya diperlukan untuk pembanguan BIJB “Kertajati” terpaksa harus melepaskan lahan pertaniannya, sekalipun tergolong lahan pertanian subur dan produktif. Oleh sikap acuh tak acuh para petinggi pemerintahan di Kab. Majalengka terhadap keberadaan BIJB “Kertajati” mayoritas tenaga kerja di BIJB “Kertajati” itu terdiri dari warga daerah lain.

Friksi antara Pemda Kab. Majalengka dengan pengelola BIJB “Kertajati” disebabkanpulausul dari Pemda Kab. Majalengka yang tidak digubris. Pemda Kab. Majalengka mengusulkan agar ada akses jalan yang menghubungkan salah satu kawasan penduduk dengan BIJB “Kertajati”, dalam upaya mempeftahankan dan mengembangkan perekonomian rakyat.

Pemda Kab. Majalengka mengajukan pembangunan akses jalan tersebut sebagai imbangan terhadap rencana pembanguan jalan tol Cisumdawu (Cileunyi, Sumedang, Dawuan) yang diperkirakan akan mematikan perekonomian rakyat di sepanjang jalan tol Cisumdawu tersebut.

Ketika rute penerbangan ke luar Jawa sudah dipindahkan dari bandara Husein Sastranegara Bandung ke BIJB “Kertajati” akses jalan tol Cisumdawu yang sudah direncanakan sejak beberapa tahun yang lalu itu ternyata tak kunjung selesai. Karena akses jelan ke BIJB “Kertajati” di Majalenga itu belum terbangun, maka keluhan para penumpang dari luar Jawa sering pula dilakukan.

Salah seorang pengusaha asal Bali yang menggunakan jasa penerbangan Den Pasar-“KertajatI” mengeluh karena jarak yang terlalu jaauh antara Majalengka dan Bandung. Ketika penerbangan masih Denpasar-Bandung, hanya dalam waktu tidak lebih dri setengah jam dari bandara Husein ia sudah bisa menemui kliennya di salah satu hotel di pusat kota.

Tapi sekarang, jarak tempuh BIJB “Kertajati”-Bandung bisa memakan wakru sampai limajam perjalanan. Kalau jalanan macet waktu tempuh akan lebih lama dari itu. Persoalan itu akan bisa diatasi bila tol Cisumdawu sudah selesai dibangun. Pengusaha asal Bali itu mengeluh pula karena tidak tersedianya hotel yang cukup memadai di tempat-tempat yang tak jauh letaknya dari lapangan terbang.

Salah satu persoalan yang terkesan menjadi ganjalan beberapa pihak yang berkaitan dengan BIJB “Kertajati” adalah tidak ada nama yang permanen dari bandara tersebut. Nama BIJB “Kertajati” terkesan tidak cukup membanggakan.Mereka menginginkan agar BIJB di Kertajati itu diberi nama seseorang, baik hlawaan atau orang yang besar jasanya bagi daerah, bagi bangsa dan negara.

Di pikiran mereka “Kertajati” hanyalah nama lokasi tempat BIB itu berada. Sama sekali bukan nama BIJB. Bandara-bandara di manapun di tanah air selalu diberi nama seeorang, biasanya nama pahlawan aau orang yang pernah berjasa bagi negara. Namun BIJB sama sekali tak bernama. Bandara itu hanya disebut “Kertajati” saja. Keinginan agar BIJB “Kertajati” itu memiliki nama, seolah-olah masih menjadi pembahasan di bawah tanah, belum mencuat ka permukaan.

Salah sebuah nama yang sejak awal berdirinya BIJB “Kertajati” menjadi bahan pembicaraan adalah nama Bagoes Rangin, seorang pahlawan di jaman kolonial dari salah sebuah daerah di Majalengka. Memang belum ada yang mencuatkan nama itu secara terbuka dan gencar untuk pengganti “Kertajati”. Tapi nama itu boleh juga dijadikan salah satu alternatif untuk memberi nama Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati.***

Dr. Yayat Hendayana
Pengajar Program Sarjana & Pascasarjana Unpas