Jabar Terdepan, Ekonomi Kreatif

7

DUA pundi-pundi  ekonomi  yaitu  pariwisata  dan ekonomi kreatif   bakal menjadi prioritas  dalam  pengembangan tahun-tahun ke depan.  Keinginan  kuat   itu terungkap dalam momen  milad ke74 Provinsi  Jawa-Barat   sebagaimana ditegaskan  Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,  Senin, 19 Agustus 2019 di Kota Bandung.  Kedua sektor  itu   sangat menjanjikan,  khususnya  ekonomi kreatif   yang  punya corak tersendiri.

Diketahui bahwa  ekonomi kreatif merupakan penunjang yang penting bagi industri padat karya dan manufaktur serta sejalan  dengan upaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Sebab  jika hanya mengandalkan industri manufaktur atau pabrikan,  sangat  rawan terhadap pergerakan global.

Ekonomi kreatif (Ekraf) terbukti  berperan  besar bagi perekonomian  Jabar, bahkan nasional. Banyak produk ekonomi kreatif  telah diekspor ke banyak negara. Pada 2016 saja, Jabar  menjadi provinsi pengekspor ekonomi kreatif terbesar yakni mencapai 33,56 persen terhadap total ekspor ekonomi kreatif nasional.

Pengembangan ekonomi kreatif, tentu diperlukan sebuah daya ungkit.  Dan  langkah Bank Indonesia yang menyediakan kredit untuk UKM ekonomi kreatif sekitar Rp2,3 triliun merupakan  dukungan  sangat  penting   mengangkat  agar ekonomi tetap stabil.

Jika  dikombinasikan dengan ekonomi pariwisata, maka kedua sektor yang bersumber pada bakat dan pikiran akan menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa.  Hal tersebut  melengkapi kekuatan ekonomi Jabar,  selain  industri manufaktur.

Laju pengembangan  Ekraf  tergolong progresif, dan   Jabar berkomitmen untuk terus mengembangkannya.   Komitmen tersebut tercermin dalam Peraturan Daerah   Jabar Nomor 15 Tahun 2017 Tentang Ekonomi Kreatif dan Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 10 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Kekayaan Intelektual.

Ekraf menjadi bagian utama dalam proses pembangunan  dan  Jawa Barat menjadi provinsi penyumbang ekspor ekraf tersebut pada tahun 2016, yaitu sebesar 31,96 persen. Selain itu, menjadi salah satu penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) di bidang ekraf terbesar, yakni 11,81 persen atau tertinggi ketiga setelah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebesar 16,12 persen, dan Bali sebesar 12,57 persen.

Berbagai komoditas ekraf berkembang di   provinsi ini, misalnya Game Developer, seni pertunjukan, film, musik, fotografi, desain komunikasi visual, kriya keramik, kerajinan rotan, kerajinan tangan, fashion, batik, bambu, dan banyak komoditas lainnya.

Kini  dikembangkan beberapa program unggulan seperti One Village One Company (OVOC) maupun One Pesantren One Company (OPOC).  Kedua program tersebut akan bergerak di bidang industri kreatif.

Komitmen Pemprov Jawa Barat dalam pengembangan ekraf terwujud dengan Pusat Ekraf (Creative Hub), dan Badan Ekonomi Kreatif Daerah yang akan hadir di 27 Kabupaten/Kota se-Jawa Barat. Hal tersebut sebagai upaya penggalian potensi ekraf di setiap Kabupaten/Kota.

Tak pelak Jawa Barat merupakan  provinsi terdepan dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Pertama, jadi satu- satunya provinsi yang punya Perda tentang Ekonomi Kreatif. Kedua, sedang dibangun pusat kreatif (creative hub) di beberapa kabupaten/kota.

Pada 2019, Creative Hub tengah dibangun di Kota Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Cirebon, Tasikmalaya, dan Kabupaten Purwakarta. Sedangkan pada 2020 nanti, Creative Hub akan dibangun di Kota Cimahi, Depok, Sukabumi, dan Kabupaten Bandung, Garut, Majalengka, dan Sumedang.

Sungguh  melegakan  bagi Jabar,   ketika  akhir tahun 2018  ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 142 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2018-2025 (Perpres Rindekraf).  Perpres Rindekraf  itu   ditetapkan sebagai landasan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Guna  mencapai integrasi program dan kegiatan, dibutuhkan sinergi dan kolaborasi yang intensif antarkementerian dan lembaga agar pelaksanaan Rindekraf   dapat berjalan optimal.   Sebab Rindekraf  pun  mencangkup pemberdayaan kreativitas, sumber daya manusia, dan pengembangan usaha ekonomi yang kreatif serta mengerek  daya saing. ***