Drs. Howardi Tjandrasa, MM. Dari Hobi Menjadi Ladang Rejeki

35

Drs. Howardi Tjandrasa, MM., lahir di Surabaya bulan Januari 1965, dan menempuh pendidikannya di Bandung sejak SMA, S1 Unpar, dan S2 ITB.  Ia merupakan pengusaha industri kreatif dengan spesifikasi kerajinan berbahan baku kayu.  Ia juga memiliki dua orang anak perempuan, yang pertama  lulusan design graphis, dan yang kedua masih SMA.

Sebelum memulai usaha sendiri, Howardi sempat bekerja di perusahaan Farmasi, kemudian di perusahan property.  Menginjak usia 32 tahun, ia mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja, dan tahun 1997 Howardi mulai membuka usaha sendiri, yang mana ketika itu sedang terjadi krisis moneter di Indonesia.

“Mulainya usaha ini sebenarnya secara tidak sengaja, karena saya memang suka bekerja, dan sejak kecil sudah dididik oleh orang tua untuk bisa mengerjakan apa saja di rumah, seperti perbaikan pipa bocor, listrik dan lain lain yang sifatnya sederhana.  Awalnya saya mulai dengan membuat sendiri rak mainan, lemari kecil dan lain-lain, dengan dibantu seorang tukang kayu.  Workshop saya awalnya di garasi rumah.  Ayah saya seorang dokter PNS dan menyukai pekerjaan dari besi dan kayu, sehingga kami mempunyai bengkel kecil di rumah dengan peralatan cukup lengkap.  Kemudian, saya menghubungi teman-teman yang memerlukan jasa pembuatan lemari, rak dapur, kursi maupun lemari dapur.  Bahan bakunya saya pinjam dulu dari teman yang memiliki toko bahan bangunan.  Modal awalnya kecil sekali, karena saya mendapatkan “Down Payment” dari pihak “buyer”, dan itu cukup untuk membayar gaji pegawai.  Setelah barang selesai dan dibayar, saya langsung melunasi pembayaran ke toko bahan kayu.  Hal ini terus saya lakukan sampai terkumpul modal untuk sewa tanah di dekat rumah guna membangun workshop.  Setelah sekian tahun berlalu, tanah itu bisa saya beli,” cerita Howardi kepada BB.

Setelah lebih dari 20 tahun bergelut di bidang meubel / furniture, Howardi mulai merasa jenuh, sehingga memutuskan untuk berhenti total, dan semua karyawan diberi pesangon.  Setelah 1 tahun berhenti dan hanya mengerjakan pekerjaan kecil dari kayu kayu sisa, ternyata banyak sekali kayu potongan yang harus di buang atau dibakar.  Ia melihat beberapa kayu masih cukup baik untuk dibuat sebagai kerajinan.

“Saya membuat satu rumah-rumahan untuk burung, kotak teh dan talenan kayu, kemudian saya posting di WA grup, ternyata mendapat tanggapan bagus dari teman-teman serta memuji keindahan hasil pekerjaan  saya. Ini terjadi 3 tahun lalu.  Artinya, saya 20 tahun menjalani usaha pembuatan meubel, dan baru 3 tahun di bidang Woodart.  Saya mulai mencari karyawan lagi dan mendapat siswa STM jurusan elektro serta mesin.  Mereka saya didik untuk mengenal mesin kayu dan pekerjaan kayu selama 1 tahun, untuk mengasah mereka supaya bisa menghasilkan produk yang baik.  Untuk standar kerapihan, saya mencontoh produk buatan Jepang dan Taiwan, dikarenakan produk kayu mereka sangat rapih. Kami setiap hari terus berlatih dan mengerjakan barang-barang seni maupun barang-barang fungsional yang berupa alat keperluan rumah tangga, tanpa fokus ke penjualan terlebih dulu, karena saya mau melihat kemampuan dan hasil sebelum memutuskan terjun ke bisnis ini,” cerita Howardi.

Produk pertama yang diproduksinya merupakan produk tersulit, yakni berupa radio kayu dan bentuknya harus unik, serta harus bisa diterima oleh semua kalangan, baik anak muda maupun orang tua.  Akhirnya dibuatlah radio kayu dengan bentuk agak kuno tapi fungsinya modern, yaitu radio kayu FM digital dengan fasilitas tambahan berupa Bluetooth, speaker dan USB Player.  Gallery nya berada di Jalan Gunung Tampomas-Kota Cimahi dan workshopnya bernama “Kaiwoodenart” di Jalan Gunung Batu, Cidamar.

Pemasarannya dilakukan melalui Instagram dan penjualannya secara online.  Pembelinya berasal dari seluruh Indonesia.  Tidak ada ekspor, karena fokusnya masih di dalam negeri. Selain radio kayu, masih ada ratusan jenis barang fungsional lain yang dibuat.  Bahan yang digunakan berupa limbah potongan sisa kusen, sisa pintu, bekas palet dan peti kayu yang berasal dari  palet, serta bekas peti dari German yang kualitasnya sangat baik.

Omset penjualan perbulan dari “Kaiwoodenart” mencapai Rp 100 juta hingga Rp 150 juta. Jumlah karyawan 4 orang dan didukung oleh mesin yang  lengkap, sehingga bisa menghasilkan produk yang baik dan cepat.  Untuk harganya, mulai dari tatakan gelas seharga Rp 5.000, sampai dengan radio gramofon seharga Rp 2.5 juta.  Pembelinya berasal dari berbagai kalangan, dan umumnya ibu rumah tangga.

Pemilik “Kaiwoodenart” ini mengklaim, keunggulan produknya adalah unik, tidak ada di toko, dikerjakan dengan sangat rapih dan jaminan tukar baru apabila rusak atau cacat ketika barang diterima.  Peluang pasar untuk produk ini sangat besar, karena sangat sedikit yang memproduksi jenis barang seperti ini.  Pembeli dari seluruh kota besar di Indonesia memesan kepadanya.  Kai” sendiri diambil dari bahasa Sunda yang artinya kayu.

“Setelah masuk di beberapa media TV dan cetak, perhatian pemerintah mulai terasa dengan adanya kunjungan dari instansi instansi terkait, karena memang usaha industri kreatif ini yang ingin dikembangkan oleh pemerintah,” tutur Howardi.

Howardi Tjandrasa sudah melakukan kunjungan ke beberapa SMK, dan membuka kesempatan bagi anak anak muda untuk belajar di tempatnya, mulai dari pekerjaan sederhana sampai bisa membuat suatu produk.  Namun sayang sekali sampai saat ini belum ada satupun yang tertarik.

“Harapan kami kepada pemerintah daerah khususnya Kota Cimahi, untuk bisa membuat semacam balai latihan kerja, guna mendidik anak-anak muda supaya mempunyai skill yang cukup hingga bisa diterima di industri terkait sebagai karyawan yang siap pakai, atau menddik mereka agar mandiri setelah selesai mengikuti program di balai latihan kerja. (E-018)***