Tenaga Kerja Perempuan Dominasi 3 Sektor Industri Kreatif

15

INDUSTRI dan ekonomi kreatif di Indonesia saat ini didominasi oleh tenaga kerja perempuan. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bekraf dalam laporan ‘Tenaga Kerja Ekonomi Kreatif’, menyebutkan perempuan secara konsisten menjadi pemain utama industri kreatif sejak 2011 hingga 2016.

Persentase perempuan di sektor ini sebesar 53,86 persen. Angka yang cukup mencolok bila dibandingkan dengan komposisi industri pada umumnya, dengan pekerja perempuan hanya sekitar 37,16 persen dan laki-laki sebesar 62,84 persen. Pada 2016, perempuan yang bekerja di sektor ekonomi  kreatif sebanyak 9,4 juta orang.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Ricky Joseph Pesik, menyebutkan sayangnya saat ini tenaga kerja perempuan terpusat di tiga sektor industri kreatif saja yaitu fashion, kuliner dan kriya.

“Maksud saya begini, kenapa lebih dominan perempuan di 3 sektor ini karena 3 sektor ini sendiri kontribusinya itu total sudah lebih dari 70 persen jadi otomatis memang yang dominan jumlah pekerjanaya disana kan,” kata Ricky.

Meski terpusat pada tiga sektor tersebut, Ricky menjelaskan bukan berarti sektor lain tertutup dari tenaga kerja perempuan.

“Bukan berarti sektor lain perempuannya tidak dominan. Kayak di periklanan tadi sangat dominan sebenarnya cuma kan jumlahnya lebih sedikit secara total,” ujar dia.

Sensus Ekonomi 2016, juga menunjukkan perempuan Indonesia masih memimpin persentase kepemilikan usaha ekonomi kreatif. Pengusaha perempuan memiliki angka keterwakilan sebesar 54,96 persen, sementara laki-laki 45,04 persen.

Industri ekonomi kreatif juga membuka kesempatan bagi perempuan untuk memberdayakan diri, khususnya secara ekonomi. Salah satu kesempatan dan peluang cukup besar ada di industri film.

Tahun-tahun terakhir Indonesia memunculkan para pembuat film perempuan yang ambil bagian di industri ini. Perempuan berperan di semua lini di industri film, sebagai sutradara, script writer, produser, hingga  teknik audio video.

Karya-karya para filmmaker perempuan mulai bisa dinikmati para pencita film tanah air. Sheila Timothy misalnya, hadir dengan film-film laris antara lain  Wiro Sableng, Banda, dan mengangkat tema ekonomi kreatif  kuliner berjudul Tabularasa.

Meski demikian peran perempuan di industri film, animasi, dan video hanya 11, 53 persen, sisanya masih  ada di tangan laki-laki. Pun dengan desain komunikasi visual yang baru memberi  tempat 7,95 persen untuk perempuan, dan  pada indstri TV dan radio  perempuan mengambil porsi 15,01 persen.

Dari 16 sub sektor ekonomi kreatif  hanya ada dua yang dikuasai perempuan. Yaitu subsektor kuliner yang melibatkan perempuan dengan persentase 58,68 persen dan pada subsektor fesyen 54,25 persen. Pada 14 subsektor lainnya masih didominasi laki-laki.

Dalam kesempatan serupa, Head of  Strategic  Planning at FCB Jakarta,  Imperia Oktabrinda, menekankan  pentingnya industri periklanan di Indonesia mempromosikan partisipasi perempuan dalam industri kreatif. Ditambah tingkat signifikansi peran perempuan dalam industri periklanan untuk mengubah stereotype.

“Ini karena industri periklanan kerap menggunakan perempuan sebagai objek dalam iklan, meskipun target marketnya laki-laki. Alasannya untuk menarik perhatian target pasar. Sebaliknya untuk produk dengan target market perempuan, perempuan tetap tampil dalam iklan, dan bukan laki-laki,” ujar dia.

Ke depan, diharapkan perempuan makin berperan daam ekonomi kreatif yang kini menjadi salah satu poros utama dalam perekonomian Indonesia dan angkanya terus naik tiap tahun.

Pada 2017, sumbangan ekonomi  kreatif  mencapai Rp 990 triliun meningkat hampir sekitar Rp 96 triliun dibanding tahun sebelumnya. Serapan tenaga kerja ekonomi kreatif pada 2017 mencapai 17,4 persen, dan berkontribusi terhadap  ekspor USD 22,1 miliar.  Sektor ini menggerakkan lebih dari 19.245 pelaku usaha kreatif,  yang tersebar di 68 daerah di Indonesia dan 18 kota  di luar negeri.

Diharapkan 16 sub sektor  ekonomi kreatif yang dibawahi Bekraf ini akan tumbuh 10 persen pada tahun-tahun berikutnya.

Pada 2019, ditargetkan sumbangan ekonomi kreatif menembus angka Rp 1.041 triliun dan mampu menyerap 18,2 persen tenaga kerja serta menyumbang nilai ekspor USD 23,7 miliar.

Sektor ini diharapkan berkontribusi hingga Rp 1.123 triliun dengan daya serap terhadap tenaga kerja 19 persen dan memiliki nilai ekspor lebih dari USD 25 miliar pada 2019. (C-003/BBS)***