Tips Profit Di Tengah Ancaman Resesi Global

47

SEJUMLAH faktor global memicu munculnya isu resesi beberapa waktu belakangan. Sebut saja perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, hingga terbaliknya kurva yield surat utang AS. Kondisi ini sempat membuat investor global cemas. Bisa dilihat dari pergerakan pasar saham global yang tergerus saat memanasnya perang dagang antara dua negara besar dunia.

Namun, tidak demikian halnya dengan investor kawakan pasar saham Indonesia Lo Kheng Hong. Sebaliknya, dia tetap optimistis dengan prospek investasi di sektor saham. Lo Kheng Hong bahkan tengah gencar menaruh uangnya di pasar saham di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).

Menurutnya, saat ini, banyak saham yang ‘salah harga’, tapi fundamentalnya bagus.  Menurut Lo Kheng Hong, penurunan suku bunga justru membuat saham prospektif karena pergerakan harga ikut turun.

“Hari esok itu misteri, tidak ada yang bisa memprediksi. kalau suku bunga turun, bagus untuk membeli saham,” jelas Lo Kheng Hong dalam acara Capital Market Summit & Expo 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (23/8).

Investor yang dikenal dengan semboyan ‘membeli saham yang salah harga’ tersebut menjelaskan saat suku bunga turun, justru dia sering menemukan saham salah harga tersebut. Salah harga yang dimaksud adalah harga saham yang turun mengikuti penurunan suku bunga, namun penurunan tersebut terlalu murah bila dibandingkan dengan fundamental perusahaan.

“Kalau bagus dan murah, under value, saya beli, ngak peduli hari esok,” jelasnya.

Investor yang dijuluki Warren Buffet Indonesia tersebut menjelaskan, valuasi saham bisa dilihat dari perbandingan antara harga saham dengan laba bersih per saham atau price earning ratio (PER) dan membandingkan harga saham dengan nilai bukunya atau price to book value ratio (PBVR).

Untuk mencari saham salah harga tersebut, Lo Kheng Hong mematok PER di bawah lima kali dan PBV di bawah satu kali.  Selain itu, dia juga menyarankan para investor untuk mengamati laporan keuangan. Sehingga investor bisa membeli perusahaan yang berkinerja bagus tetapi valuasinya murah.

Jaga emosi saat bermain saham

Dia juga sempat memberikan tips bagaimana seorang investor harus bersikap:

Pertama, tetap berpikir positif dan bisa menjaga emosinya selama bermain saham. Dia menyebut-nyebut hal itu menjadi kunci utama dalam bermain saham.

Kedua, investor juga tak boleh buru-buru menjual sahamnya saat harga terperosok atau kerap dikenal cut loss.

Ketiga, investor juga tak boleh serakah menunggu harga naik tinggi baru menjualnya. Caranya dengan memahami emiten yang sahamnya akan kita beli. “Kalau kita tahu yang kita beli perusahaan bagus dan murah, maka tenang saja, jadi tidak ada ketakutan untuk menambah,” jelasnya.

Perlu disadari bahwa bermain saham memiliki risiko yang lebih besar dari pada menyimpan dana di perbankan. Namun imbal hasilnya juga lebih besar.

Dengan kesadaran tersebut, maka bisa dipastikan bahwa harga saham bisa saja turun sewaktu-waktu. Namun saat harga turun itu, justru seharusnya investor tidak melepas, malah menambah pasokannya. “Kalau turun, pikir positif, itu diskon, jadi beli lebih banyak,” imbuh dia.

Namun, dengan syarat, investor sudah memahami fundamental perusahaan. Serta menerapkan rumus saham salah harga yang dipopulerkan oleh Lo Kheng Hong. (C-003/BBS)***