Dipersembahkan Untuk Sang Presiden Ir. Soekarno dan Barrack Obama

4108

Begitu fenomenal batu bacan ketika batu akik lagi buming. Namun, sebenarnya ketenaran batu bacan ini telah terjadi sejak jaman kerajaan, puluhan tahun silam. Batuan itu menjadi penghias mahkota para sultan, salah satunya pada Mahkota Kesultanan Ternate . Batuan ini sering menjadi hadiah bagi tamu yang menyambangi pulau-pulau di Maluku. Tahun 1960 Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno yang  berkunjung ke Pulau Bacan dihadiahi warga setempat batu bacan, Presiden SBY menghadiahi Presiden AS Barrack Obama cincin batu bacan saat berkunjung ke Indonesia.

Sebenarnya keberadaan batu bacan ini tidak berada di Pulau Bacan, tetapi berada di sebuah pulau kecil, yakni Pulau Kasiruta yang berada di sebelah barat Kepulauan Bacan. Secara administratif, Pulau Kasiruta, berada di Kabupaten Halmahera Selatan.

Batu bacan yang begitu terkenal itu termasuk katagori batu mulia jenis krisokola. Sebarannya di Pulau Kasiruta terpusat di bagian barat pulau Kasiruta, terutama di sekitar wilayah Desa Palamea, Desa Doko, Desa Bisori dan Desa Imbuimbu.

Secara gemologi, krisokola terdiri atas dua kelompok besar, yaitu kelompok batu hijau kebiruan atau biru kehijauan dan kelompok batu kembang atau dikenal dengan sebutan pancawarna.

Di Dunia, tidak banyak tempat yang menghasilkan mineral krisokola, hanya ada beberapa lokasi. Di antaranya  di Negara Kongo, Chili, Cornwal Inggris, Arizona, Utah, Idaho, New Mexico, Michigan dan Pennsylvania Amerika Serikat.

Fenomena krisokola Pulau Kasiruta yang unik dan jarang bandingannya di Indonesia maupun global dapat dimaknai sebagai warisan geologi nasional maupun Internasional. Pada masa batu akik, Pulau Kasiruta ramai dikunjungi para pemburu batu bacan dan telah mengangkat perekonomian masyarakat lokal. Namun  sejalan dengan redupnya masa kejayaan batu akik , batu bacan pun mengikutinya.

Pasar kaget batu akik

Dulu banyak pasar-pasar kaget yang menjual batu akik. Bahkan batu-batu akik yang dulu harganya sangat mahal kini terjangkau. Sebenarnya kolektor bebatuan sudah ada sejak lama. Para kolektor biasanya didominasi oleh para orang tua. Namun perlahan, batuan ini  naik pamor dan penggemarnya menghinggapi semua lapisan masyarakat. Penggemarnya tidak hanya orang tua, tapi menjalar hingga anak-anak muda. Bahkan  muncul tempat-tempat bikin  lumayan. Tidak hanya keindahan fisik yang membuat para kolektor batu akik kepincut. Ada semacam kepercayaan jika masing-masing batu membawa kekuatan magis yang berbeda-beda. Selain warna, batu akik juga menarik gara-gara mitosnya. Alasan lain kenapa akik  menggila, karena batu ini digunakan oleh banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Para artis dan petinggi negara juga ramai-ramai memamerkan koleksi batu akik mereka yang mahal-mahal itu. Hal ini  membuat masyarakat pada umumnya makin kepincut.

Dalam ilmu ekonomi  jika barang makin banyak peminatnya akan mendorong  harganya semakin tinggi. Kondisi semacam ini pas untuk menggambarkan tren batu akik. Tiap harinya makin banyak permintaan batu akik, membuatnya makin mahal. Tidak hanya ketika berbentuk oval yang  sudah dijadikan batu cincin, saat masih berbentuk bongkahan saja sudah banyak yang menawar dengan harga yang tinggi. Blood ruby  pernah terjual sampai Rp 35 juta. Batu akik hargnya jualnya bisa tidak rasional. Konon , sebuah batu jenis lavender  harganya bisa mencapai Rp 175 jutaan. Selain faktor jenis, kepercayaan terhadap magis ikut menaikan harga batu.

Setelah bertahan cukup lama akhirnya  batu akik mengalami penurunan yang signifikan. Lapak-lapak pasar batu akik dadakan yang mulai sepi pengunjung hingga penurunan harga jual yang drastis . Jika sebelumnya sebuah batu akik bisa terjual jutaan rupiah, kini penjual  mengobralnya.]Ada berbagai alasan kenapa batu akik  mulai hilang kepopulerannya. Pertama adalah kejenuhan, bosan bergelut dengan batu akik  Selain karena tidak ada standar  pasti untuk harga batu akik . Si penjual biasanya mematok harga berdasarkan intuisi saja. Sehingga banyak pelanggan yang kecewa.Belum lagi termasuk adanya oknum yang menjual batu akik palsu. Sehingga makin banyak pula pelanggan yang merasa tertipu karena membeli dengan harga mahal untuk batu akik KW atau imitasi. Alhasil, perlahan namun pasti kepopuleran batu ini  menurun.

Tren batu akik mungkin saat ini turun, bahkan bisa dibilang  sirna. Namun mungkin saja suatu saat fenomena ini akan jadi buming lagi, tinggal menanti pemicunya. (B-003/BBS) ***