Dr. Sri Asmawati Kusumawardani, M.Hum.  Mengabdi Kepada Bangsa dan Masyarakat

70

Dr. Sri Asmawati Kusumawardani, M.Hum , lahir di Medan tanggal 20 Maret 1956, dan merupakan anak dari pasangan H. Ahmad Hass (alm.) dengan Hj. Sri Anna (90) ini, kini menjabat sebagai Widyaiswara Ahli Utama di Puslatbang PKASN LAN, sekaligus juga juga sebagai Ketua DPD HWK (Himpunan Wanita Karya) Jabar, Ketua Tim Pelaksana Puspaga (Pusat Pemberdayaan Keluarga), serta Wakil Ketua Perkumpulan Seroja (Sehat Rohani dan Jasmani) Jawa Barat.

Istri dari Ir. H. Kiki Moch.Rosjidi (64), awalnya menjalani karier sebagai CPNS, dan ditempatkan di Kantor Kewedanaan Cileunyi Kabupaten Bandung.  Kemudian ia pindah tugas ke Biro Hukum Setda Provinsi Jabar, lalu ke Biro Desentralisasi Setda Provinsi Jabar, dan selanjutnya ke Biro Otonomi Daerah & Kerjasama Setda Provinsi Jabar, hingga akhirnya menjabat sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Provinsi Jabar serta Widyaiswara LAN.

Dr.Sri Asmawati Kusumawardani mengemukakan, dengan berjalannya waktu, ia sudah menjadi PNS selama 30 tahun, dan sekarang menjadi pejabat fungsional sebagai Widyaiswara Ahli Utama di Puslatbang PKASN LAN.  Sri Asmawati memilih untuk menjadi ASN, karena ia ingin mengabdi kepada bangsa, negara dan masyarakat.

“Insya Allah, saya dapat membagi waktu, baik sebagai Widyaiswara yang mempunyai tugas dan fungsi mendidik, mengajar serta melatih, maupun di organisasi masyarakat lainnya terutama di ormas.  Kami bisa berbagi tugas dengan pengurus yang lain.  Yang paling berjasa terhadap keberhasilan saya adalah orang tua, yang sudah memberikan pendidikan serta dorongan. Tentu juga disertai doa dari orang tua, termasuk dari keluarga, suami, dan anak-anak,” ungkap Dr. Sri Asmawati.

Ibu dari Moch. Iqbal Aulia, S.Sos., dan Saraswati Gita Dwiputri, S.Pd., serta Shabila Nadin Pebrianti ini mengakui, banyak suka dan duka yang dialami selama menjadi ASN,  tetapi yang penting adalah terus meningkatkan kompetensi diri dalam meningkatkan pelayanan publik, karena fungsi ASN ada 3, yakni pertama sebagai ‘Pelaksana Kebijakan Publik’, yang artinya harus mementingkan kepentingan publik.  Kedua, sebagai ‘Pelayan Publik’ yang berarti harus profesional, dan ketiga, sebagai ‘Perekat serta Pemersatu Bangsa’.

Pengalaman unik selama menjadi ASN, yakni ketika kita tidak mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat, sementara kebutuhan masyarakat meningkat, sehingga perlu dilakukan inovasi / terobosan.

Dalam perjalanan kariernya, Dr. Sri Asmawati berhasil mendapat penghargaan pengabdian sebagai ASN 10 tahun dan 20 tahun, baik dari Presiden RI maupun dari Gubernur Jawa Barat.

Sebagai Widyaiswara, Sri Asmawati berhasil mendapat predikat sebagai sosok  terbaik / terfavorit pada Pada Pelatihan Dasar CPNS, Diklatpim TK IV dan Diklatpim TK II.

Menurutnya, penilaian sukses atau berhasilnya suatu program adalah, berdasarkan manfaat yang dirasakan dari suatu kegiatan, maupun output serta outcome nya bagi stake holders internal dan eksternal.

Penganut moto hidup “Berguna bagi orang lain” ini mengatakan, potensi ASN yang akan dikembangkan di antaranya adalah, meningkatkan kompetensi sesuai dengan UU ASN nomor 5 Tahun 2014 dan PP no. 11 Tahun 2017 serta peraturan dibawahnya.

Sri Asmawati juga mengatakan, peningkatan pengetahuan / kemampuan untuk memanage /mengelola program / kebijakan yang berkaitan dengan jabatan / institusi / lembaga dilakukan melalui diskusi FGD, ToF, ToT, Workshop, dan Short Course, baik di dalam maupun di luar negeri.

Menurutnya, tujuan program kerja jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang adalah, tercapainya target dalam RPJMN, RPJMD, dan RENSTRA, yang dituangkan dalam program serta kegiatan, walaupun dalam pelaksanaannya banyak menemui hambatan dan kendala.  Yang terpenting adalah, bagaimana mengatasinya secara bertahap, serta menyusun strategi komunikasi dan membangun dukungan stake holders terkait, agar bisa mengatasi berbagai kendala secara bersama-sama.

Sri Asmawati Kusumawardani juga berpendapat, untuk pengembangan SDM, yang pertama  harus dilakukan adalah pendidikan yang perlu ditingkatkan, bukan saja formal, tetapi membangun organisasi pembelajar (Corporate University).  Intinya adalah, mengembangkan diri juga sambal mengembangkan orang lain yang terus menerus mau belajar.  Kedua adalah pembangunan karakter. Dan yang ketiga, merubah mindset, ahlak perilaku yang selalu punya integritas, nasionalisme dan punya wawasan kebangsaan, sehingga dapat menjaga kedaulatan NKRI serta mensejahterakan masyarakat.

“Untuk merealisasikan program, kita harus mempunyai kemampuan manajerial, sosio kultural serta kemampuan teknis, yang mana semua kemampuan itu juga perlu terus- menerus ditingkatkan,” pungkas Sri Asmawati kepada BB di Bandung.

(E-018)***