Peluang Bisnis Budidaya Vanili

427

KEPULAUAN Nusantara yang kini bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, dari dulu dikenal sebagai penghasil rempah terbaik di dunia. Salah satu komoditas rempah yang punya nilai jual tinggi adalah vanili.

Produk vanili Indonesia diakui paling berkualitas dibandingkan dengan produk sejenis di belahan lain dunia. Bahkan, kualitasnya mengalahkan negara asal tanaman vanili yaitu Meksiko.

Dilintasi garis khatulistiwa dengan garis edar matahari yang begitu dekat membuat kualitas vanili Indonesia sangat tinggi. ‘Emas hijau’ begitulah julukan tanaman yang memiliki nama lain panili atau perneli. Masyarakat Eropa juga punya julukan khusus untuk vanili Indonesia, ‘Java Vanilla Beans’.

Namun produksi vanili Indonesia sempat mandek sekitar tahun 2005 karena harganya jatuh. Banyak petani vanili meninggalkan komoditas ini. Padahal berdasarkan data ekspor, pada tahun 2001, Indonesia pernah menjadi eksportir vanili terbesar dunia.

Nah, lima tahun belakangan, budidaya vanili kembali menggeliat seiring dengan membaiknya harga vanili di pasar internasional. Sebagai gambaran, saat anjlok, harga vanili kering “cuma” dibanderol Rp 2 juta per kilogram.

Kini, Ketua Perkumpulan Petani Vanili Indonesia (PPVI), Rudi Ginting mengatakan, harga vanili kering mencapai Rp 5 juta per kilogram (kg). “Harga ini saat masa panen. Kalau di Meksiko, Ghana, dan Madagaskar belum panen puncak harganya bisa Rp 6,2 juta per kilo,” kata Rudi.

Sentra vanili di Indonesia tersebar di berbagai daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan Papua. Beberapa tahun terakhir berkembang di Magelang, Purwokerto, Banyuwangi, Temanggung, Malang, Jember, Bondowoso. Di Sumatra dan Bali juga banyak sentra vanili.

Dalam satu hektare lahan bisa ditanami 2.500-3.000 pohon vanili. Satu pohon bisa menghasilkan 0,3 kg-0,4 kg vanili kering. “Banyaknya produksi tergantung perawatan dan cara mengolah vanili pasca panen,” tuturnya.

Budidaya vanili juga bergairah di Bali. “Sebagian besar warga menanam vanili awal 2014, sejak harga jualnya mulai bagus. Saya sendiri mulai budidaya 2016,” ujar I Made Dwi Wijaya, petani vanili asal Badung, Bali.

Made mengelola lahan 15 are (hampir seperlima hektare). Ia menanami sebanyak 1.500 batang vanili. “Di sini harga basahnya antara Rp 300.000-Rp 500.000 per kilogram. Satu kilogram vanili kering itu membutuhkan sekitar 8 kg-10 kg vanili basah,” jelas Made. Tak hanya menjual buah vanili, Made juga menjual bibit vanili setinggi 80 cm seharga Rp 10.000 per batang.

Vanili atau perneli merupakan salah satu jenis tanaman penghasil bubuk vanili yang memiliki aroma harum dan manis. Tanaman bernama latin vanilia planifola ini memiliki buah penghasil bubuk menyerupai kacang polong. Agar bisa menghasilkan bubuk, buah vanili harus melalui proses pengeringan dan fermentasi.

Vanili merupakan tanaman di iklim tropis dengan curah hujan 1.000 mm–3.000 mm per tahun. Suhu udara optimal di kisaran 20˚–25˚ celcius dan kelembaban udara sekitar 60%–80%. Biasanya berada di ketinggian 300 m di atas permukaan laut (dpl) – 800 m dpl.

Petani vanili asal Badung, Bali, Made Dwi Wijaya menyarankan tanah yang baik bagi tanaman vanili adalah yang gembur, lempung berpasir kerikil, mudah menyerap air dan memiliki pH + 5,7 – 7.

Tanaman vanili juga membutuhkan tegakan sebagai tempat menjalar. Tegakan dapat dibuat dari bambu yang diikatkan pada tanaman yang satu dan yang lainnya. “Lahan dibersihkan dari gulma atau tanaman pengganggu lainnya. Lantas dicangkul atau bajak supaya tanah gembur,” kata Made Dwi.

Lantas buat media berupa kayu sebagai tiang panjat. Buat juga lubang tanam dengan ukuran 25 cm x 20 cm x 12 cm dengan jarak antar lubang 1,5 meter ×1,5 meter. Setelah menyiapkan media dan wadah tanam, bibit vanili siap ditanam.

Biasanya bibit berupa sulur dipotong menjadi dua ruas. Lalu daun di bagian bawah dibersihkan dan dibuang supaya proses pertumbuhan dari tanaman vanili semakin cepat. Setelah itu, dijemur di area atau hamparan yang sejuk hingga layu. Kemudian batang direndam dalam larutan dekamon sekitar setengah jam.

Selanjutnya bibit bisa dimasukan ke wadah polybag yang sudah diisi media tanam. Setelah tiga bulan, sulur akan tumbuh sepanjang 40 cm – 50 cm yang menjadi bibit tanaman vanili.

Ketua Perkumpulan Petani Vanili Indonesia (PPVI), Rudi Ginting membagikan beberapa kunci perawatan tanaman vanili. Untuk pemberian pupuk dapat dilakukan dengan cara penyemprotan yang dilakukan secara teratur. Cara penyemprotan dengan fungisida juga bisa dilakukan untuk mencegah penyakit yang kerap menggangu, seperti cendawan dan bakteri.

Penyiraman sendiri tergantung cuaca. Saat musim penghujan, penyiraman dilakukan sekali dalam sehari. Pada musim kemarau, penyiraman dilakukan dua kali dalam sehari. “Kalau masih lembab tidak usah disiram,” sarannya.

Persoalannya, tanaman vanili tidak tahan kering sehingga perlu bahan organik lain agar tetap lembab. Caranya, dengan membuat parit kecil di sekitar tanaman vanili. Ini untuk mempercepat pertumbuhan tanaman dan perkembangan bunga atau buah, sehingga mutu buah akan lebih baik.

Umumnya tanaman vanili mulai berbunga pada umur 24 bulan – 36 bulan setelah tanam. Sebelum berbunga, pucuk tanaman bisa dipotong untuk menyempurnakan pembuahan.

Setelah itu, masa panen tanaman vanili satu tahun sekali dengan masa panen sampai tiga bulan. Buah vanili siap panen berwarna hijau dengan pucuk warna kuning. (C-003/BBS)***