Kawah Putih “Kenzanka Gokoya” Obyek Wisata yang Mempesona

47

Sebuah panorama yang menakjubkan. Mungkin tidak berlebihan, jika   Kawah Putih yang terletak di wilayah  Kecamatan Ciwidey  Kabupaten  Bandung ini disebut sebagai obyek  wisata  yang mempesona. Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM)  Perum Perhutani Jabar Banten sebagai pengelola  mentargetken hasil restribusi   dari obyek wisata Kawah Putih  sampai  Rp 48 miliar.

Obyek wisata Kawah Putih  memiliki daya tarik tersendiri karena berada pada kawasan hutan , lokasinya  berada pada ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan suhu udara antara 8 – 22 derajat celsius menjadikan udara di sekitar Kawah Putih sangat sejuk. Setelah pihak Perhutani  melakukan berbagai penataan sekitar kawasan kawah , seperti  pelarangan pedagang kaki lima maupun pedagang asongan berjualan pada  areal sekitar tempat parkir dan lokasi terdekat dengan kawah ,  Kawah Putih menjadi bersih dan nyaman. Para pedagang yang semula menempati areal yang berdekatan lokasi kawah, kini dilokalisir pada tempat khusus berdekatan dengan areal parkir  dan  tempat penjualan tiket masuk. Dari tempat ini pengunjung yang menggunakan kendaraan kecil (roda empat)  bisa melanjutkan perjalanan menuju Kawah Putih yang jaraknya kurang lebih 5,5 kilometer dengan kendaraan khusus yang disediakan pengelola , sama halnya seperti  rombongan yang menggunakan bus, dari tempat parkir menuju lokasi harus menggunakan kendaraan khusus (ontang-anting ) dengan tarif Rp 10.000/orang , juga pengunjung yang menggunakan sepeda motor , menuju lokasi harus menggunakan ontang-anting. Kawah  Putih  yang berada pada puncak Gunung Patuha (2.436 mdpl).

Ngamumule budaya Sunda

Kawah Puith, memang menyimpan sebuah legenda. Di tempat  sering diselenggarakan kegiatan  atau event ekowisata   yang  melibatkan  kaum muda dan penggiat seni  budaya di Jawa Barat dan Banten  untuk mengisi acara, antara lain upacara adat “Ruwatan” (syukuran), pasanggiri tembang  Kawah Putih (lomba nyanyi lagu Sunda), Giri Wana Rally (lintas alam), sunatan massal, weeding festival , karnaval serta penampilan berbagai kesenian tradisional Jawa Barat dan Banten. Festival yang mengambil tema “Hayu Urang Ngamumule Budaya Sunda”  merupakan bagian dari promosi dan menjaga kearifan lokal. Gunung Patuha   konon berasal dari nama Pak Tua atau “Patua”. Masyarakat setempat menyebutnya  sebagai Gunung Sepuh. Gunung yang berada di Bandung Selatan ini, sebelumnya dikenal angker, masyarakat tidak ada yang berani memasuki kawasan tersebut. Bahkan burung yang terbang melintas kawasan itu akan mati.  Baru kemudian pada tahun 1837 misteri di Gunung Patuha terungkap oleh seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman bernama Dr.Frnas Wilhelm Junghun yang melakukan penelitian di kawasan Gunung Patuha dan menemukan keindahan Kawah Putih. Tuan Junghun tidak begitu saja percaya mengenai keangkeran Gunung Patuha sebagaimana cerita masyarakat. Sebagai ilmuwan, ia melakukan penelitian menembus hutan belantara, sampai akhirnya menemukan Kawah Putih. Dari dalam danau keluar semburan aliran lava belerang serta gas yang  baunya sangat menyengat.

Matinya burung yang terbang melintas di kawasan Gunung Patuha, terkuak sudah karena kemungkinan burung tersebut menghisap “aroma” belerang dari Kawah Putih.  Karena kandungan belerang di tempat tersebut cukup tinggi, pemerintah Belanda waktu itu mendirikan pabrik belerang bernama “Zwavel Ontgining Kawah Putih.  Penambangan belerang berlanjut pada zaman Jepang dan kegiatan penambangan langsung diawasi  militer Jepang. Nama pabrik belerang pun berganti menjadi Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey. Kawasan lain selain ada Kawah Putih, juga Puncak Kapuk. Konon  tempat ini merupakan tempat pertemuan para leluhur yang dipimpin Eyang Jaga Satru. Dalam pertemuan ini, para leluhur membicarakan tentang kesejahteraan dan keamanan masyarakat  serta cara menjaga kelestarian hutan.  Makam para leluhur tersebut berada di Puncak Kapuk, bahkan yang mempercayainya jika “kawenehan” (kebetulan) suka melihat  seekor domba  yang warna bulunya mirip lukut (lumut) , hingga disebut “domba lukutan” . Domba ini konon peliharaan para leluhur. Setelah Indonesia terlepas dari belenggu penjajah Belanda dan Jepang,  sejalan dengan perjalanan waktu, pada tanggal 26 Januari 1993 , Kawah Putih diresmikan sebagai obyek wisata alam (ekowisata) di kawasan hutan.  (B – 003) ***