Bila Patimban tanpa Jalan Tol

61

PARA pengusaha sebagai calon pengguna utama Pelabuhan Internasional Patimban, berkeberatan menggunakan pelabuhan itu tanpa jalan tol. ”Pengiriman barang ke Patimban tanpa jalan tol akan menambah biaya logistik,” kata Deddy Wijaya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indoneda (Apindo) Jaswa Barat. Hal itu mengemuka pada Forum Group Discussion (FGD) di Jakarta. ”Tanpa jalan tol waktu yang ditempuh dari kawasan industri ke Patimban akan lebih lama dibandingkan dengan perjalanan ke Tanjungpriok,” sambungnya.

Seperti dimuat PR (4/9), para pengusaha Indonesia menyampaikan keberatannya menggunakan Pelabuihan Internaasional Patimban karena tidak adanya akaes tol yang menghubungkan pelabuhan itu ke Jalan Tol Cipali.. Sedangkan pemerintah, dalam hal ini Kem,enterian Perhubungan, menetapkan penggunaan Patimban sebagai pintu ekspor hasil induistri tahun 2020 mendatang.  Ditetapkan, Patimban merupakan jalur ekspor otomotif terlebih dahulu.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, pada diskusi itu, menerangkan, pihaknya sudah berembuk dengan pengelola jalan tol dan Kemeneterian PUR, pembangunan jalan tol dari Tol Cipali ke Patimban akian segera dibangun. Namun benar, pembangunan jalan tol membutuhkan waktu 2-3 tahun. Sedangkan penggunaan Pelabuihan Patimban akan dimulai tahun depan. Artinya selama dua atau tiga tahun, akses ke Patimban masih harus menggunakan jalan arteri yang kurang layak bagi pengangkutan hasil industri.

Apabila keinginan para pengusaha itu tidak sinkron dengan ketetapan pemerintah tentang penggunaan Pelabuihan Internasional Patimban, nasib Patimban akan sama dengan nasib Bandara Internasional Kertajati. Patimban diprediksi akan mangkrak karena tidak digunakan. Paling tidak, seklama 2 – 3 tahun ke depan ekspor akan tetap melalui Tanjungpriok. Para pengusaha memilih jalur Jakarta-Tanjungpriok meskipun harus berjibaku melawan kemacetan. Tentu saja hal itu tidak kita harapkan. Kita berharap malah menaruh harapan besar, Patimban akan menjadi pelabuihan ekspor-impor terbesar di Indonesia bahkan di ASEAN. Subang yang semula tidak terlalu terdengar secara internasional, kelak akan menjadi kawasan bertaraf internasional.

Seperti pernah ditulis di halaman ini beberapa waktu lalu, pembangunan pelabuhan internasional di Patimban, Jabar itu dilakukan pemerintah bekerja sama dengan Kantor Kerjasama Jepang (JICA). Biaya yang disediakan sebagai pinjaman 1,03 miliar dollar AS atau senilai Rp 13,7 triliun. Pemerintah juga mengeluarkan dana tunai Rp 1,19 triliun untuk pembebasan lahan.

Pembangunan fase I dimulai Januari 2018 dan selesai serta dapat dioperasikan awal tahun 2019. Sedangkan secara keseluruhan, pembangunan Pelabuhan Patimban selesai dan beroperasi penuh tahun 2027. Kini Kementerian Perhubungan  menyetakan pelabuhan sudah dapat dioperasikan pada tahun depan (2020). Ekspor hasil industri otomotof sebagai ekspor pembukanya. Namun, seperti disebutkan di atas, para pengusaha merasa keberatan. Mereka menginginkan, sebelum dioperasikan Patimban sebaiknya dilengkapi dulu dengan infrastruktur lengkap, terutama jalan tol.

Meskipun Menteri Perhubunvgan meminta para pengusaha menunjukkan jalan alternatif sambil menunggu jalan tol selesai, para pengusaha tampaknya enggan menggunakan jalan arteri dan alternatif. Jalan alternatrif tidak mendukunmg percepatan pengangkutan barang, di samping faktor keamanan.

Menggantungnya operasional proyek besar karena terlambatnya faktor penunjang, terutama infrastruktur. Padahal sejak ada perencanaan pembangunan Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati, rubrik ini pernah menyarankan, sebelum pembangunan utama dilaksanakan, seyoginya, didahului dengan pembangunan infrastruiktur. Koran ini pernah menulis jalan tol yang menghubungkan kawasan industri ke pelabuhan lebih dahulu disipakan, termasuk jalaur ketreta api Kadipaten :Patimban dan Kadipaten-Kertajati. Kalau memungklinkan dibangun jalan baru yang menghubungkan Bandung dan Kertajati serta :Patimban. Pengangkutan barang dari kawasan industri di Bandung dan sekitarnya tidak melalui jalan umum Lembang-Subang..

Terbukti, pembangjunan proyek utama sudah selesai, infrastruktur penunjang belum apa-apa. Sayang kalau Kertajati dan Patimban mangkrak. ***