Mengapa Memilih Bandung?

574

Naha atuh milih Bandung kota kembang

Bandung nu heurin ku tangtung

(Lembur Kuring/RTA Sunarya)

RADEN Tumenggung Adipati Sunarya yang dikenal dengan sebutan Kangjeng Sunarya yang pernah menjadi Bupati atau Dalem Ciamis banyak menganggit lagu Sunda. Hampir semua lagu karyanya dibawakan oleh Pesinden ternama, Upit Sarimanah. Salah satu karyanya yang melegenda ialah ”Lembur Kuring”. Cuplikan di atas menggambarkan  kegamangan penggubah dalam memilih tempat geusan mulang (tempat untuk pulang)

Seolah-olah ia sudah tidak memgenal lagi di mana lembur (kampung halamannya) akibat perubahan zaman. Apakah akan memilih Bandung? Tapi Bandung kelak akan menjadi kota yang penuh sesak. Memilih Cianjur, Sumedang, atau Tasikmalaya? Ia khawatir, Sumedang akan ngarangrangan (meranggas). Tidak akan ada orang yang sengaja datang ke Sumedang meski hanya untuk singgah (transit). Mungkin yang agak cocok, Tasikmalaya. Menurut pengamatannya, Tasikmalaya yang dulu bernama Sukapura itu akan terus tumbuh bertunas (ngadaun ngora)..

Kegamangan Kangjeng Sunarya itu bermetamorfosa ke dalam pikiran dan gagasan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Arsitek kelas dunia itu punya gagasan memindahkan Ibu Kota Provinsi Jawa Barat dari Kota Bandung ke tempat lain. Seperti RTA Suiraya, RK juga gamang ketika harus menentukan di mana ibu kota itu akan diditrikan. Ke mana pemerintahan harus pindah? Alasan timbulnya gagasan itu, menurut pandanfan Kang Emil, Bandung sudahj tidak layak jadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Bandung sudah sangat heurin ku tangtuing, kota yang sempit itu sudah tidak mampu lagi menampung warganya. Kendatraan tumbuh dan berkembang menjadi monster-monster jalanan. Kemacetan total terjadi hampir setiap saat di sel;uruh permukaan kota. Industri tumbuh, perdagangan sangat pesat, mulai dari pasar tradisional, pasar kaget, PKL, pedagang asong,  mal, pasar swalayan, transaksi dalam mobil, angkot semakin semerawut, kini ditambah dengan mobil dan motor online. Sama persis seperti yuang diprediksi  uga Bandung yang dicuplik RTA Sunarya.

Gubernur menyodorkan tiga pilihan, Tegalluar dekat Gedebage, Walini di kawasan Cikalong Wetan,Bandung Barat, dan  segi tiga Rebana di antara Subang, Cirebon, dan Majalengka, dekat Bandara Kertajati dan Pelabuhan Internasional Patimban.Kalau boleh punya pendapat, sebagai urang Bandung pituin (lahir di Kebonkawung 77 tahun lampau), saya agak berkeberatan memilih ketiga-tiga tempat itu.

Tegalluar merupakan kawasan yang sangat rawan banjir. Tempat itui berada di dasar Danau Bandung. Karena itu sangat rawan banjir. Membentengi Tegalluar dari sergapan banjir akln sangat sulit bahkan cenderung makin parah akibat pembangunan di sekitarnya. Kompleks perumahan yang terus tumbih mendekati Tergalluar dan Gedebage, dipastikan, daerah serapan air akan semakin hilang. Air dari utara dan barat akan mengalir di atas aspal dan beton, akibatnya air deras akan masuk area Tegalluar dan terus ke Citarum. Apalagi nanti setelah kereta api cepat Bandung-Jakarta selesai. pasti akan mendorong tuimbuhnya kota baru.

Walini, meruipakan areal perkebunan teh dan karet yang telantar. Meruipakan perbukitan memanjang dari Panglejar-Maswati, Cigentur, Sasak Saat.  Jalur itu merupakan jalur rel kereta api cepat Jakarta-Bandung. Jalur itu hanya cocok sebagai kota wisata dengan fasilitas kereta api cepat. Tidak terlalu tepat digunakan sebagai pusat pemerintahan tingkat provinsi. Walini dan Tegalluar, terlalu dekat dengan Kota Bandung bahkan kelak pelebaran kota akan sampai ke kedua tempat itu. Kedua-dunyua juga masih bernama Bandung (Kabupaten Bandunmg dan Bandung Barat). Apabila ibu kota provinsi itu tetap Bandung, tidak terasa bahwa ibu kota itu pindah. Hanya bergeser sedikit.

Segi tiga emas, Rebana, sudah diproyeksikian sebagai kawasan industri. Pasti tidak akan nyaman, pusat pemerintahan berdekatan dengan pusat atau kawasan industi.  Selain hiruk pikuk kendaraan berat distribusi barang, juga polusi akan menjadi bagian dari areal pemeritrahan.Biarkanlah segi tiga emas itru menjadi kawasan industri  yang maju.

Lalu, di mana tempat yang palimg cocok? Tiga-tiganya tidak terlalu tepat dipilih sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. Bisa jadi Kota Bandung masih menjadi pilihanh utama. Guberbnur Jenderal  Marseklal Herman Daebdles meminta Ibu Kota Kabupaten Bandung dan Kepatihan Parakanmuncang, pindah ke tepi jalan pos yang dibangunnya. Pilihan Mas Galak itu di Blok Haurkoneng yang sekarang meruipakan Km-0 Kota Bandun. Tanggal 25 September 1810, Dalem Bandung VI, RAA Wiranatakusumah II, memindahkan Ibu Kota Kabupaten Bandung dari Karapyak dan Kepatihan Parakanmuncanmg, ke Kota Bandung sekarang. Ibu Kota Keresidenan Priangan yang semula di Cianjur, tabnggal 7 April 1864 pindah ke Bandung. Kantor keresidenannya sekarang menjadi rumah dinas Gubernur Jabar yakni Gedung Pakluan.

Pemerintahan Kolonial Bel;anda  berencana memindahkan pusat pemerintahannya dari Jakarta ke Bandung dengan membangiun pusat kereta api, pusat PTT, pusat-pusat ketentaraan, dan kantor PU,. Karena itu dapat disimpulkan, Kota Bandunmg menjadi pilihan paling tepat bagi sebuiah ibu kota, termasuk Ibu Kota rovionsi Jawa Barat.

Kalaupun tetap pusat pemerintahan akan dipindahkan, mengapa lagu Lembutr Kuring tidak digunakan sebagai inspirasi? RTA Sunarya menjatuhkan pilihan ke Sukapura atau Tasikmalaya. Sudah diugakan, Sukapura akan ngadauin ngora, berkembang menjadi kota metropolitan yang cocok sebagai pusat pemerinatah provinsi. Nanti akan terpampang pada peta, Sukapura sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. (ustiarsa r.)***